TANGERANG SELATAN — Masih banyak orang menganggap kuliah hanya bisa dinikmati mereka yang punya cukup waktu, biaya, atau tempat tinggal dekat dengan kampus. Namun, anggapan itu seolah runtuh di satu panggung wisuda Universitas Terbuka (UT). Di tempat yang sama, seorang kiper Tim Nasional Futsal Indonesia berdiri sejajar dengan kepala daerah, anggota DPR, aparatur sipil negara, penyandang disabilitas, hingga pekerja dari berbagai profesi. Mereka datang dengan cerita hidup yang berbeda, tetapi pulang membawa satu pesan yang sama: pendidikan tinggi berkualitas dapat diakses oleh siapa saja, tanpa batas usia, profesi, kondisi, maupun lokasi.
Pesan tersebut tergambar dalam Wisuda Universitas Terbuka Tahun Akademik 2025/2026 Genap Wilayah 2 yang digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Selasa (14/7/2026). Sebanyak sekitar 1.500 wisudawan dari 13 UT Daerah resmi dikukuhkan setelah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi melalui sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh yang memungkinkan mereka tetap belajar di tengah berbagai kesibukan hidup.


Di balik ribuan toga yang dikenakan hari itu, tersimpan ribuan kisah perjuangan yang tak pernah sama. Ada Muhammad Albagir yang tetap menjaga gawang Tim Nasional Futsal Indonesia sembari menyelesaikan studi Manajemen. Ada pula I Wayan Wiasthana Ika Putra, Kepala Bappeda Provinsi Bali, yang berhasil meraih gelar doktor di tengah tanggung jawab menyusun arah pembangunan daerah. Di panggung yang sama hadir Muhammad Habiburokhman, anggota DPR RI, Agustinus selaku Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kutai Barat, Hilman dari DPRD Kabupaten Belitung, hingga Nachiya, penyandang autisme dan ADHD, serta Solehudin, penyandang tuna daksa. Seluruhnya menjadi bukti bahwa kehidupan tidak harus dihentikan demi mengejar pendidikan. Justru di sela-sela kehidupan itulah proses belajar terus berlangsung.
Bagi Universitas Terbuka, keberagaman para lulusan itu bukan sekadar cerita inspiratif, melainkan wajah nyata pendidikan yang inklusif. Selama lebih dari empat dekade, UT menghadirkan pendidikan tinggi yang terbuka, fleksibel, dan berkualitas sehingga masyarakat tidak lagi dipaksa memilih antara bekerja atau kuliah, mengabdi atau belajar, maupun membangun keluarga atau meningkatkan kompetensi diri. Pendidikan dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan.
Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Rektor Universitas Terbuka Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si. Menurutnya, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan bukti bahwa pendidikan merupakan hak seluruh warga negara.
“Hari ini kita buktikan bahwa pendidikan tinggi bisa dijangkau oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, bahkan bagi mereka yang terkendala ekonomi, geografis, maupun kondisi diri. Kampus tidak harus kita datangi, tetapi justru kampus yang mendatangi masyarakat,” ujar Prof. Ali.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. UT menghadirkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis teknologi, mulai dari bahan ajar cetak dan digital, Learning Management System (LMS), hingga berbagai pilihan moda ujian yang fleksibel. Seluruh layanan tersebut dirancang agar mahasiswa tetap dapat belajar dari mana saja tanpa mengurangi standar mutu akademik. Bahkan, mayoritas program studi UT telah berstatus Unggul atau A serta didukung akreditasi internasional.
Meski fleksibel, bukan berarti kualitasnya dikompromikan. Hal itu justru dirasakan langsung oleh para wisudawan. Kepala Bappeda Provinsi Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra mengaku sistem pembelajaran di UT melatih dirinya untuk disiplin, mandiri, dan mampu mengelola waktu di tengah padatnya pekerjaan sebagai pejabat publik. Setiap tugas memiliki tenggat waktu yang ketat sehingga mahasiswa dituntut benar-benar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Pengalaman serupa disampaikan Muhammad Habiburokhman. Anggota DPR RI itu membutuhkan waktu lima tahun hingga akhirnya menyelesaikan studi Magister Manajemen di UT. Kesibukan sebagai wakil rakyat tidak membuatnya memperoleh perlakuan khusus.
“Kalau tidak mengikuti seluruh proses akademik, ya tidak lulus. UT tidak membedakan mahasiswa berdasarkan jabatan atau profesinya,” ujarnya.
Di balik kisah-kisah tersebut, tersimpan misi yang jauh lebih besar. Dalam sesi wawancara bersama media, Prof. Ali mengungkapkan bahwa masih terdapat lebih dari 1,2 juta lulusan SMA/SMK yang belum memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi. Karena itu, UT terus membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kualifikasi maupun kompetensi melalui kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang dirancang sesuai kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
Inilah yang membuat Universitas Terbuka tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga memperluas kesempatan. Kampus ini menghadirkan pendidikan tinggi yang mampu menjangkau masyarakat di berbagai pelosok Indonesia, termasuk mereka yang selama ini terkendala pekerjaan, jarak, ekonomi, hingga kondisi fisik. Pendidikan tidak lagi menjadi hak segelintir orang, melainkan ruang yang terbuka bagi seluruh warga negara untuk terus bertumbuh.
Komitmen tersebut sekaligus menjadi kontribusi nyata Universitas Terbuka dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dengan memastikan akses pendidikan tinggi yang inklusif, merata, dan berkualitas. Di saat yang sama, keterbukaan akses bagi penyandang disabilitas, masyarakat di wilayah terpencil, pekerja, atlet, maupun pejabat publik juga memperkuat implementasi SDGs Nomor 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, karena setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas dirinya.
Melalui semangat “Buka Batas, Buka Masa Depan”, Universitas Terbuka kembali menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi dibatasi oleh ruang kelas, profesi, usia, maupun kondisi kehidupan. Sebab, ketika akses dibuka seluas-luasnya, yang lahir bukan hanya lulusan baru, melainkan semakin banyak harapan baru bagi masa depan Indonesia.



