Di tengah upaya pemerintah memperkuat hilirisasi industri sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru, peran perguruan tinggi kembali mendapat sorotan. Kali ini, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Dr. (HC). Drs. H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si. secara khusus mengajak alumni Universitas Terbuka untuk mengambil bagian aktif dalam agenda besar tersebut. Ajakan ini bukan sekadar seruan moral, tetapi penegasan bahwa kekuatan pendidikan terbuka memiliki posisi strategis dalam menjembatani kebijakan negara dengan realitas masyarakat di akar rumput.
Cerita ini bermula di Bogor, Kamis (9/4/2026), saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kemenko PM dan Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA UT). Di momen itu, Muhaimin menyoroti satu hal penting: hilirisasi tidak boleh berhenti sebagai urusan industri besar, tetapi harus menjadi gerakan yang melibatkan masyarakat luas—dan di sinilah Universitas Terbuka dipandang memiliki peran kunci.
“Saya mengajak seluruh alumni universitas terbuka untuk bersama-sama menyongsong hilirisasi industri dan produk-produk sumber daya alam kita benar-benar menjadi bagian dari transformasi yang sesungguhnya,” kata Muhaimin. Ia menambahkan, “Dimana kemajuan industri, kemajuan ekonomi sekaligus berseiringan dengan pemberdayaan masyarakat kita. Masyarakat harus terus bertransformasi dan berdaya agar terus menjadi pelaku pembangunan yang produktif,” ujarnya lagi.
Jika ditarik lebih dalam, Universitas Terbuka menjadi salah satu aktor penting dalam narasi ini. Sebagai perguruan tinggi dengan sistem pendidikan terbuka dan fleksibel, UT telah melahirkan jutaan alumni yang tersebar di berbagai daerah, profesi, dan lapisan sosial. Inilah yang membuat UT berbeda: ia tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membangun jejaring pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Muhaimin melihat kekuatan itu sebagai modal sosial yang sangat besar. Alumni UT tidak terkonsentrasi di kota-kota besar, tetapi hadir langsung di desa, kecamatan, hingga wilayah-wilayah yang menjadi sasaran utama program pemberdayaan. Karena itu, ia menilai alumni UT bisa menjadi “perpanjangan tangan” transformasi ekonomi berbasis hilirisasi agar lebih membumi dan tidak elitis.
“Saya yakin ini potensi yang harus digerakkan secara serius,” ujarnya. Dalam konteks ini, UT bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga ekosistem yang memungkinkan pengetahuan berubah menjadi aksi nyata di masyarakat—mulai dari pendampingan UMKM, penguatan literasi ekonomi, hingga pengembangan kewirausahaan lokal.
Lebih jauh, Muhaimin menegaskan bahwa inti pembangunan bukan sekadar pertumbuhan angka ekonomi, tetapi keberdayaan manusia. Ia menekankan bahwa hilirisasi dan program ekonomi lainnya harus mampu membuka lapangan kerja dan menciptakan peluang usaha baru. “Semua yang kita lakukan dalam pemberdayaan ini tentu saja sebagai wujud dari upaya kita mengakhiri problem kemiskinan. Sehingga kita menciptakan manusia yang produktif, membangun lapangan kerja, serta yang paling penting adalah penciptaan peluang usaha bagi seluruh rakyat kita,” katanya.
Di titik inilah peran Universitas Terbuka menjadi semakin relevan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 tentang pendidikan berkualitas yang inklusif, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan. Model pendidikan UT yang tanpa batas ruang dan waktu menjadikannya salah satu instrumen penting dalam memperluas akses pengetahuan sekaligus pemerataan kesempatan ekonomi.
Selain itu, Muhaimin juga mendorong penguatan UMKM sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi yang inklusif. Ia menilai bahwa alumni UT dapat menjadi penggerak yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat, terutama di sektor ekonomi lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Ia pun mengingatkan bahwa kerja sama yang sudah dibangun tidak boleh berhenti pada tataran simbolik. “Ini harus di-follow up dengan sungguh-sungguh untuk menjadi bagian integral bagi pemberdayaan masyarakat kita,” ujarnya.
Pada akhirnya, cerita ini memperlihatkan satu hal sederhana namun penting: Universitas Terbuka bukan hanya institusi pendidikan jarak jauh, tetapi ruang besar yang menghubungkan ilmu, manusia, dan perubahan sosial. Dari Bogor, pesan itu mengalir pelan namun jelas—bahwa masa depan hilirisasi Indonesia tidak hanya bertumpu pada industri, tetapi juga pada jutaan alumni yang tumbuh bersama masyarakat, di mana pun mereka berada.



