Prestasi sering kita lihat sebagai garis lurus: latihan, tanding, menang. Padahal, bagi sebagian orang, jalurnya berliku dan menuntut kemampuan lain selain fisik—kemampuan menjaga ritme hidup. Alfandy Aly Surya Prastyo adalah salah satunya. Di SEA Games Thailand 2025, ia membawa pulang dua medali untuk Indonesia: perak dari cabang Hockey 5s dan perunggu dari Hockey Outdoor. Namun di balik pencapaian itu, ada kehidupan yang berjalan paralel, pelan tapi konsisten.
Ketika Alfandy menerima kabar bahwa ia dipanggil membela Indonesia, rasanya campur aduk. Bangga? Tentu saja. Tapi ada juga rasa haru dan sedikit nggak percaya. Semua kerja keras dan proses panjang yang ia jalani seolah menemukan makna. Membela negara di ajang sebesar SEA Games bukan cuma soal bermain di lapangan, tapi juga soal siap mental menghadapi tanggung jawab yang lebih besar dari diri sendiri. Untuk bisa menghadapi tekanan itu, Alfandy harus menjaga kesehatan fisik dan mentalnya—ini sejalan dengan semangat SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan.
Tanggung jawab itu tidak datang sendirian. Saat itu, Alfandy menjalani peran ganda yang terdengar ideal di atas kertas, tapi melelahkan dalam praktik: atlet nasional sekaligus mahasiswa aktif. Selain sebagai atlet profesional, ia juga mahasiswa program Ilmu Administrasi Negara Universitas Terbuka (UT) Samarinda. Jadwal latihan yang padat sering bersinggungan dengan kewajiban akademik yang tidak bisa ditunda. Ada masa ketika tubuhnya lelah, mental menurun, dan muncul keraguan.

“Tubuh lelah, mental menurun, saya sempat bertanya pada diri sendiri, ‘Bisakah aku jalani keduanya?’” katanya. Tapi justru di titik itu Alfandy belajar satu hal penting: bertahan itu pilihan—dan pilihan itu harus diambil berulang kali. Di sini terlihat bagaimana pendidikan yang fleksibel bisa memberi kesempatan bagi siapa saja untuk terus belajar, bahkan saat sibuk dengan pekerjaan lain—ini selaras dengan tujuan UT dan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar sepanjang hayat.
Hari-hari Alfandy diisi dengan pola yang nyaris tanpa jeda. Pagi dimulai dengan latihan fisik dan teknik, siang hingga sore diisi dengan mengikuti perkuliahan daring dan menyelesaikan tugas, lalu malam kembali ke latihan lanjutan dan pemulihan. Pernah suatu malam, setelah latihan intens seharian, ia masih harus menyelesaikan tugas kuliahnya. Dalam kondisi seperti itu, ia belajar mengatur emosi dan waktu, menyadari bahwa dua dunia yang ia jalani sama-sama menentukan masa depannya.

Untuk menjaga keseimbangan, Alfandy merawat dirinya dengan cara-cara sederhana namun esensial. Ia disiplin menjaga pola hidup, menguatkan mental melalui doa, mendengarkan musik, dan tetap berkomunikasi dengan keluarga. Dukungan orang-orang terdekat menjadi ruang aman untuk kembali menata fokus. Ketahanan semacam ini sering luput dari sorotan, padahal justru menjadi fondasi keberlanjutan—baik sebagai atlet maupun sebagai individu yang sedang tumbuh. Semua upaya menjaga tubuh dan pikiran ini menegaskan pentingnya kesehatan yang menjadi salah satu pilar SDG 3.
Di tengah dunia olahraga yang menuntut kepastian dan disiplin ketat, Alfandy menemukan fleksibilitas dari sisi pendidikan. Sistem pembelajaran jarak jauh, materi kuliah yang bisa diakses secara online, serta fleksibilitas waktu belajar maupun ujian yang dimiliki UT memberinya ruang untuk tetap menggapai pendidikan tanpa harus mengorbankan komitmen sebagai atlet nasional. Dukungan tutor dan lingkungan akademik memahami kondisinya memberi kekuatan moral, bukan dalam bentuk keringanan berlebihan, melainkan kepercayaan bahwa prosesnya sah untuk dijalani. Dengan begitu, Alfandy bisa terus mengejar prestasi sambil tetap menuntut ilmu, menunjukkan esensi SDG 4 tentang pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
SEA Games Thailand 2025 menjadi titik kulminasi dari semua proses tersebut. Pada nomor Hockey 5s, tekanan tinggi terasa sejak awal pertandingan. Setiap keputusan dan pergerakan memiliki konsekuensi. Ketika peluit akhir berbunyi dan medali perak dipastikan, rasa bangga hadir bersamaan dengan kelegaan. Sementara di Hockey Outdoor, tantangannya berbeda: stamina diuji lebih panjang, strategi harus dijaga konsisten, terutama setelah melewati nomor sebelumnya. Kerja sama tim akhirnya mengantarkan Indonesia meraih medali perunggu. Dari dua pencapaian itu, Hockey 5s paling membekas secara emosional karena menjadi pembuka yang menguji mental dan kepercayaan diri tim.
Kisah Alfandy pada akhirnya bukan hanya tentang medali atau podium. Ini adalah cerita tentang bagaimana sistem yang memberi ruang dapat memperpanjang napas mimpi seseorang. Tentang pendidikan yang tidak memaksa pilihan tunggal, dan tentang individu yang bersedia menjalani proses dengan disiplin dan kesadaran penuh. “Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi,” ujarnya.
Barangkali, di situlah letak kekuatan kisah ini. Bahwa hidup tidak selalu harus ideal untuk bisa bermakna. Selama ritme dijaga, tujuan dipelihara, dan proses dihormati, dua dunia yang tampak berseberangan pun bisa berjalan beriringan—pelan, tapi pasti.



