UT Serang Gandeng SALUT Jadi “Mesin” Digital: Targetkan Layanan yang Lebih Responsif

Di tengah kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang semakin fleksibel dan terjangkau, Universitas Terbuka (UT) Serang mengajak seluruh Sentra Layanan UT (SALUT) di Banten untuk kembali duduk satu meja—berbagi pandangan, mengatur ulang langkah, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun calon mahasiswa yang tertinggal dari kesempatan untuk belajar. Semangat itu terasa hangat saat para Direktur dan Kepala SALUT hadir dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) 2025, sebuah forum yang bukan hanya membahas strategi, tetapi juga menyatukan kepedulian tentang bagaimana pendidikan dapat benar-benar membuka pintu bagi semua kalangan.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu, 15 November 2025 di Ruang Tutorial Kantor UT Serang itu mengusung tema “Satu Langkah, Satu Arah: Membangun Layanan UT Serang yang Adaptif dan Inovatif.” Namun di balik tema yang terdengar teknis, tersimpan harapan sederhana: agar setiap SALUT mampu hadir lebih dekat dengan masyarakat di wilayahnya, menemani perjalanan belajar mereka, dan memastikan mereka merasa didampingi dalam proses yang tak selalu mudah.

Direktur UT Serang, Dr. Teguh Prakoso, S.Pd., M.Hum., menyampaikan pesan yang sangat relevan dengan perubahan zaman. Ia melihat bahwa masyarakat kini hidup dalam dunia digital yang cepat, praktis, dan penuh distraksi. Karena itu, SALUT tak cukup hanya menawarkan informasi—mereka harus hadir di ruang yang sama dengan masyarakat.

“Saat ini media sosial menjadi tren yang ada dalam masyarakat, dunia digital menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang tidak terelakkan. Untuk itu, saya harap SALUT di UT Serang mulai mengimbanginya dengan penggunaan media sosial dalam aktivitas marketing-nya,” ujar Dr. Teguh, mengingatkan bahwa pendekatan layanan juga adalah bentuk kepedulian.

Untuk memperkuat kapasitas itu, UT Serang menghadirkan Direktur Pemasaran dan Kerja Sama UT, Ali Tarigan, S.E., yang memaparkan data bahwa 212 juta penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet dan hampir semuanya menggunakan media sosial. Angka itu bukan hanya statistik; itu adalah gambaran tentang di mana perhatian masyarakat berada, dan di mana SALUT perlu hadir agar calon mahasiswa merasa mendapatkan layanan yang mudah, cepat, dan manusiawi. Pemahaman ini juga selaras dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya akses belajar yang inklusif dan tidak memandang batas sosial maupun geografis.

Rakorda menjadi lebih kaya ketika SALUT Awwabin membagikan pengalamannya menerapkan digital marketing dengan memanfaatkan chatbot dan kecerdasan buatan (AI). Bagi sebagian peserta, cerita itu bukan sekadar paparan teknis, tetapi sebuah inspirasi tentang bagaimana teknologi dapat memperpendek jarak antara UT dan calon mahasiswa—memberi respons lebih cepat, mengurangi keraguan, dan membuat mereka merasa didengar.

Di akhir kegiatan, UT Serang memberikan penghargaan kepada tiga SALUT dengan capaian terbaik dalam perekrutan mahasiswa baru: SALUT Kota Tangerang, SALUT DGCN Tangerang, dan SALUT Serang. SALUT Awwabin juga dinobatkan sebagai SALUT Inspiratif berkat ketekunan dan kreativitasnya dalam menjalankan digital marketing. Penghargaan itu bukan sekadar apresiasi, tetapi bentuk pengakuan atas kerja keras mereka yang setiap hari berhadapan dengan cerita, harapan, dan perjuangan calon mahasiswa di lapangan.

Rakorda SALUT 2025 kemudian ditutup dengan optimisme yang terasa kuat. Dalam kolaborasi yang semakin erat ini, UT Serang percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan bersama akan berdampak besar bagi masyarakat. Dengan layanan yang semakin adaptif, humanis, dan berbasis teknologi, UT dan SALUT bergerak menata masa depan pendidikan yang lebih terbuka—sebuah masa depan di mana setiap orang punya kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan mengubah hidupnya.