TANGERANG SELATAN, 25 Agustus 2026 — Dua belas mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi membawa gagasan terbaik mereka ke babak final Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) Disporseni Nasional Universitas Terbuka (UT) 2026. Bukan sekadar mengejar gelar juara, mereka ditantang membuktikan bahwa karya ilmiah mahasiswa dapat menjadi bagian dari upaya mencari solusi atas berbagai krisis global.
Babak final LKTIM berlangsung secara daring selama dua hari, 19–20 Agustus 2026. Seluruh presentasi finalis disiarkan langsung melalui kanal Universitas Terbuka TV (UT TV), sehingga proses adu gagasan tersebut dapat disaksikan lebih luas.
Mengangkat tema “Kreativitas Intelektual dan Sportivitas Akademik dalam Merespons Krisis Global untuk Memperkuat Ketahanan dan Prestasi Bangsa”, kompetisi ini mempertemukan 12 karya tulis ilmiah terbaik yang telah melewati proses kurasi. Para finalis tidak hanya dituntut mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga menyusun solusi inovatif dengan argumentasi serta metodologi penelitian yang kuat.
Setelah melalui tahapan presentasi dan sesi tanya jawab, persaingan menghasilkan empat tim terbaik. Nanda Riswana dan Dhisyah Tsabitah dari UT Bogor meraih Juara I. Posisi Juara II ditempati Ihsan Nurjamil dan Teguh Putra Prayoga dari UT Bandung, disusul Sakira Kusuma Ayu Maharani dan Kharisma Juwita Putri dari UT Malang sebagai Juara III. Sementara itu, Abdul Aziz dan Muhammad Mahfuzh Habibi dari Universitas Sultan Agung Tirtayasa meraih Juara Harapan.
Untuk memastikan kualitas karya dan argumentasi peserta, babak final dinilai oleh dua akademisi lintas institusi, yakni Prof. Dr. Istianingsih Sastrodiharjo, S.E., S.H., M.S.Ak, Ak., CA. dari Universitas Bhayangkara dan Prof. Dr. Ernik Yuliana, S.Pi., M.T. dari Universitas Terbuka.
Istianingsih menilai para finalis menunjukkan kepekaan intelektual yang kuat. Menurutnya, peserta mampu membaca persoalan krisis global secara kritis sekaligus menawarkan solusi konkret dengan metodologi penelitian yang tajam dan terstruktur. Kemampuan tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk menghasilkan kajian yang memiliki dampak lebih luas.
Penilaian serupa disampaikan Ernik. Ia melihat antusiasme riset para peserta tercermin dalam sesi tanya jawab ketika mereka mempertahankan argumen secara sportif, tajam, dan berbasis data. Ia pun berharap karya yang telah dihasilkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Harapan tersebut memperlihatkan arah yang ingin dibangun melalui LKTIM. Lebih dari ajang menentukan pemenang, kompetisi ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun penelitian, dan mempertanggungjawabkan gagasannya secara akademik.
Semangat itu sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendorong pengembangan kompetensi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Pada saat yang sama, dorongan untuk melahirkan solusi berbasis penelitian turut memperkuat semangat SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Melalui LKTIM Disporseni Nasional UT 2026, gagasan mahasiswa mendapat ruang untuk diuji, diperdebatkan, dan dipertanggungjawabkan. Prestasi pun tidak hanya diukur dari siapa yang menjadi juara, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan yang lahir dari kompetisi dapat berkembang menjadi gagasan yang bermanfaat.
Ketika kreativitas bertemu dengan riset dan sportivitas, kompetisi bukan lagi sekadar tentang menang atau kalah, melainkan tentang menyiapkan generasi yang mampu membaca persoalan dan ikut menawarkan jalan keluar. Semangat itulah yang menjadi napas slogan Disporseni 2026, “Sportivitas dan Kreativitas untuk Prestasi Negeri.”



