Bagi sebagian anak, sebuah buku mungkin hanya kumpulan halaman dengan tulisan dan gambar. Namun di Taman Baca Masyarakat (TBM) Manaspur, Kota Sorong, Papua Barat Daya, buku dan pengetahuan menjadi pintu untuk mengenal dunia yang lebih luas sekaligus membuka imajinasi tentang masa depan.
Semangat itu terasa ketika mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Sorong yang tergabung dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa) hadir membawa kegiatan “Ormawa Mengajar dan Menginspirasi”, Sabtu (22/8/2026). Bukan sekadar datang untuk mengajar, para mahasiswa mengajak anak-anak belajar tentang berbagai hal yang dekat dengan kehidupan mereka.
Anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan dibagi dalam sejumlah kelompok untuk mengikuti pembelajaran bersama. Materi yang disampaikan pun dibuat beragam dan interaktif, mulai dari perundungan (bullying), gizi seimbang, pengembangan potensi diri, HIV/AIDS, hingga stunting. Pendekatan tersebut membuat kegiatan tidak terasa seperti pembelajaran formal di ruang kelas, melainkan menjadi ruang berbagi pengetahuan yang lebih dekat, santai, dan mudah dipahami.
Di balik kegiatan itu, ada pesan yang jauh lebih besar: pendidikan tidak selalu harus menunggu anak duduk di bangku sekolah atau mahasiswa berada di dalam kampus. Pengetahuan juga bisa tumbuh ketika perguruan tinggi hadir langsung di tengah masyarakat dan membuka ruang belajar bersama.
Ketua Ormawa UT Sorong, Kristie S. Liando, memandu kegiatan tersebut. Direktur UT Sorong, Michel Jacson Nalawo Potolau, bersama jajaran dosen turut hadir dan memberikan dukungan.
Michel mengapresiasi inisiatif mahasiswa UT Sorong yang memilih hadir langsung di tengah anak-anak melalui kegiatan tersebut. Menurut dia, Ormawa Mengajar dan Menginspirasi menjadi salah satu wujud nyata perguruan tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memberikan dampak bagi masyarakat.
“Hari ini Universitas Terbuka Sorong melalui organisasi kemahasiswaan melaksanakan kegiatan Ormawa Mengajar di Taman Baca Manaspur, Kompleks Rufai Kota Sorong,” ujar Michel.
Ia menilai kegiatan tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus semangat perguruan tinggi agar memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Lewat kegiatan ini, teman-teman Ormawa UT Sorong bisa memberikan dampak positif bagi anak-anak, baik dari tingkat TK, SD, SMP, SMA maupun SMK,” katanya.
Menurut Michel, literasi dan pendidikan merupakan fondasi penting untuk menyiapkan generasi muda Papua menghadapi masa depan. Karena itu, ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi program rutin Ormawa UT Sorong.
“Lewat kegiatan ini, Ormawa UT Sorong berbagi pengetahuan bagi anak-anak yang ada di Taman Baca. Harapannya, anak-anak di sini bisa menambah literasi, meningkatkan minat membaca dan akhirnya menjadi generasi emas yang akan membangun Papua di masa depan,” ujarnya.
Harapan itu menjadi semakin berarti karena anak-anak yang hari ini duduk di TK hingga SMK kelak akan menjadi bagian dari wajah Papua. Pengetahuan dan pengalaman belajar yang mereka peroleh dapat menjadi bekal dalam perjalanan pendidikan mereka ke depan.
“Kami ingin memberikan pengetahuan bagi anak-anak kita sehingga mereka siap bersaing dengan anak-anak yang lain. Dengan pengetahuan yang mereka miliki, mereka siap untuk membangun Papua di masa yang akan datang,” ucap Michel.
Lewat langkah sederhana di sebuah taman baca, UT Sorong menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar. Kadang, dampak justru dimulai dari satu ruang belajar, satu buku, satu pengetahuan baru, dan seorang anak yang pulang dengan keyakinan bahwa masa depannya layak diperjuangkan. Semangat ini sekaligus selaras dengan upaya mendorong pendidikan yang inklusif dan berkualitas, sebagaimana tujuan SDGs 4 tentang pendidikan bermutu.



