Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin akrab dengan kehidupan mahasiswa dan dosen. Dari membantu mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, hingga mengolah data penelitian, teknologi ini mulai menjadi bagian dari aktivitas akademik sehari-hari. Namun, di tengah kemudahan yang ditawarkan, muncul tantangan baru: bagaimana memanfaatkan AI secara tepat tanpa mengesampingkan etika dan integritas akademik.
Kebutuhan itulah yang mendorong Universitas Terbuka (UT) Bandung bersama Telkom University, Dewan Hukum Siber Indonesia (DHSI), dan Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia (PDMI) menghadirkan Workshop AI untuk Karya Tulis Ilmiah pada 30 Mei 2026. Kegiatan yang digelar di Kampus UT Bandung tersebut menjadi ruang belajar bagi ratusan peserta untuk memahami pemanfaatan AI dalam penulisan karya ilmiah dan riset secara bertanggung jawab.
Sebagai perguruan tinggi yang mengusung sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, Universitas Terbuka melihat penguasaan teknologi digital sebagai bagian penting dari kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan zaman. Karena itu, UT terus membuka ruang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa, dosen, maupun masyarakat umum memperoleh akses terhadap pengetahuan dan keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Komitmen tersebut tercermin dari tingginya antusiasme peserta dalam workshop ini. Sebanyak 627 orang tercatat mendaftar, terdiri atas 522 peserta yang mengikuti kegiatan secara daring dan 105 peserta yang hadir langsung di lokasi. Mereka berasal dari berbagai program studi dan latar belakang pendidikan. Program Studi S1 PGSD menjadi kelompok peserta terbesar dengan 199 pendaftar, disusul S1 Ilmu Hukum sebanyak 72 peserta, S1 Manajemen 50 peserta, S1 PGPAUD 27 peserta, serta puluhan peserta lainnya dari berbagai bidang ilmu.
Tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa literasi AI kini menjadi kebutuhan yang semakin mendesak di lingkungan akademik. Teknologi yang dahulu dianggap sebagai bagian dari masa depan kini telah hadir dalam aktivitas pembelajaran, penelitian, dan penulisan karya ilmiah sehari-hari.
Melalui workshop bertema “AI untuk Karya Tulis Ilmiah”, peserta memperoleh pemahaman mengenai penggunaan AI dalam mendukung proses akademik, mulai dari eksplorasi ide penelitian, penyusunan karya ilmiah, hingga penguatan proses riset. Namun, para narasumber menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi tetap harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab ilmiah.
Muharman Lubis dari Telkom University menjelaskan bahwa AI dapat menjadi mitra yang membantu proses akademik apabila digunakan secara tepat.
“AI dapat menjadi mitra akademik yang sangat membantu, tetapi penggunaannya harus tetap dikendalikan oleh nalar kritis, etika, dan tanggung jawab ilmiah. Dalam karya tulis ilmiah, teknologi seharusnya memperkuat kualitas gagasan, bukan menggantikan integritas penulis,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Ratandi Ahmad Fauzan. Menurutnya, AI seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas proses eksplorasi dan meningkatkan kualitas penelitian.
“Mahasiswa dan akademisi perlu memahami bahwa AI bukan sekadar alat untuk mempercepat pekerjaan. AI harus digunakan untuk memperluas cara berpikir, membantu proses eksplorasi, dan mendukung penelitian yang lebih sistematis, transparan, serta bertanggung jawab,” katanya.
Selain membahas aspek teknis penggunaan AI, workshop ini juga memberikan perhatian pada pentingnya etika digital. Peserta dibekali pemahaman mengenai validasi informasi, penggunaan sumber yang kredibel, teknik sitasi yang benar, hingga langkah-langkah pencegahan plagiarisme. Pesan yang ditekankan adalah bahwa teknologi harus menjadi alat yang mendukung kualitas akademik, bukan menggantikan proses berpikir manusia.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan lembaga hukum siber dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan literasi AI membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyentuh dimensi hukum, etika, pendidikan, dan tanggung jawab sosial.
Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas yang menekankan pentingnya akses pembelajaran sepanjang hayat bagi semua kalangan. Di saat yang sama, pemanfaatan AI dalam dunia akademik juga mendukung SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan budaya inovasi dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Terbuka kembali menegaskan perannya dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat luas, UT juga berupaya memastikan para pembelajarnya memiliki bekal pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi era digital. Di tengah perubahan yang terus berlangsung, kemampuan memahami dan memanfaatkan AI secara bijak menjadi salah satu kunci agar pendidikan tetap relevan, inklusif, dan mampu menjawab tantangan masa depan.



