Tangerang Selatan – Tembok tebal dan jeruji besi tidak lagi menjadi penghalang bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Madiun untuk mereguk manisnya bangku perkuliahan. Upaya nyata dalam meruntuhkan batasan akses pendidikan ini terlihat saat Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur, Kadiyono, meninjau langsung progres pembangunan sarana ruang kuliah dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di dalam Lapas, Rabu (1/4/2026). Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Universitas Terbuka (UT) Surabaya yang bersinergi dengan Pemerintah Kota Madiun untuk memberikan kesempatan kedua bagi warga binaan melalui pendidikan tinggi berkualitas tanpa batas.
Dalam peninjauannya, Kadiyono menekankan bahwa pendidikan merupakan instrumen pembinaan yang paling fundamental untuk memanusiakan manusia. Ia memastikan bahwa setiap individu, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pidana, berhak mendapatkan akses intelektual yang layak sebagai bekal kemandirian di masa depan. Langkah ini selaras dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat mengenai pendidikan berkualitas yang inklusif dan poin kesepuluh terkait pengurangan ketimpangan. Dengan menghadirkan kampus di dalam penjara, UT membuktikan bahwa sistem pendidikan jarak jauh yang mereka usung adalah solusi paling efektif untuk menjangkau kelompok masyarakat yang paling terisolasi sekalipun.
“Melalui pembangunan ruang perkuliahan dan PKBM ini, kami ingin memastikan bahwa warga binaan juga memiliki akses yang layak terhadap pendidikan. Ini adalah bagian dari pembinaan yang sangat penting untuk membekali mereka ketika kembali ke masyarakat,” ujar Kadiyono di sela-sela kunjungannya. Ia juga memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi Lapas Madiun yang mampu menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang produktif dan humanis. Baginya, langkah progresif ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pembangunan harapan bagi para warga binaan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka kelak.
Kalapas Kelas I Madiun, Andi Wijaya Rivai, menjelaskan bahwa penyiapan fasilitas ini bertujuan agar warga binaan dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan nyaman dan kondusif. Kerjasama yang terjalin dengan Universitas Terbuka Surabaya memungkinkan para warga binaan menempuh program Strata 1 (S1) tanpa harus keluar dari lingkungan Lapas. Lebih luar biasanya lagi, akses pendidikan ini didukung penuh oleh Pemkot Madiun melalui skema beasiswa mahasiswa. Dukungan ini memastikan warga binaan yang memenuhi syarat dapat berkuliah secara gratis, sehingga kendala ekonomi tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. “Penyiapan ruang perkuliahan dan PKBM ini diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi warga binaan untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan mereka,” tegas Andi.
Selain fokus pada pendidikan, kunjungan Kakanwil Ditjenpas Jatim tersebut juga meninjau optimalisasi ruang hunian yang lebih manusiawi melalui alih fungsi bangunan. Namun, kehadiran program kuliah S1 dari Universitas Terbuka tetap menjadi primadona dalam transformasi Lapas Madiun. Melalui sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan otoritas pemasyarakatan, warga binaan kini memiliki peluang nyata untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna. Pendidikan berkualitas tanpa batas yang dihadirkan UT di dalam Lapas Madiun menjadi bukti bahwa setiap orang, apa pun latar belakang dan kondisinya, memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa setelah bebas nanti.


