Suara dari Ruang Tanpa Batas: Mahasiswa UT Denpasar Buktikan Pendidikan Terbuka Tak Kalah Berprestasi

Suasana di Auditorium Universitas Bali Internasional (UNBI) mendadak riuh oleh tepuk tangan saat dua mahasiswa muda dari Universitas Terbuka (UT) Denpasar menutup argumennya dengan lantang. Dalam babak Grand Final Debat Mahasiswa Jawa Pos Radar Bali IV 2025, keduanya tidak hanya berdebat — mereka membuktikan bahwa pendidikan tanpa batas benar-benar hidup di ruang nyata.

Ajang yang digelar Minggu (9/11/2025) itu mempertemukan empat tim terbaik dengan format British Parliamentary Debate, yakni Universitas Udayana A, Universitas Terbuka Denpasar B, Universitas Udayana C, dan Universitas Dhyana Pura. Tema yang diangkat pun tak main-main: “Merawat Bumi, Mewujudkan Energi Baru Terbarukan.” Sebuah topik yang menggugah kesadaran generasi muda tentang tanggung jawab mereka terhadap masa depan bumi.

Di tengah sorotan juri dan peserta lain, tim UT Denpasar tampil percaya diri. Rahmi Ayuningtyas dan Pande Kadek Lisna Juniari bukan sekadar menyampaikan gagasan, tetapi menampilkan keberanian berpikir kritis tentang hilirisasi tambang dan pentingnya transisi menuju energi bersih. Argumen mereka menekankan keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan — nilai yang selaras dengan misi Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 7: Energi Bersih dan Terjangkau serta Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim.

Persaingan berlangsung sengit hingga akhir. Setelah melalui penilaian ketat, tim Terbuka Denpasar B menyabet posisi kedua dan berhasil mencuri perhatian publik lewat performa debat yang dinilai matang dan argumentatif. Posisi pertama diraih oleh Universitas Udayana A, kemudian Universitas Udayana C untuk posisi ketiga, dan Universitas Dhyana Pura menempati juara harapan.

Yang menarik, semua finalis adalah perempuan. Keempat tim yang tampil di panggung final membuktikan bahwa suara perempuan kini berdiri sejajar dalam diskursus publik — terutama dalam isu krusial seperti energi terbarukan dan keberlanjutan lingkungan.

Perwakilan panitia, Muhammad Ridwan, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat dan kecerdasan para peserta.
“Gagasan mereka tajam dan berpihak pada masa depan. Kami berharap kompetisi ini bisa naik ke level nasional sesuai arahan Kepala LLDikti Wilayah VIII, I Gusti Lanang Bagus Eratodi,” ujarnya.

Bagi Universitas Terbuka, capaian ini bukan sekadar kemenangan di atas podium, melainkan bukti nyata bahwa sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh mampu mencetak generasi muda berdaya saing global. Mahasiswa UT hadir bukan hanya dari ruang kelas, tetapi dari berbagai latar kehidupan — pekerja, ibu rumah tangga, hingga generasi muda daerah — semua punya kesempatan yang sama untuk bersuara dan berprestasi.

Komitmen ini sejalan dengan semangat SDG 4: Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya akses pendidikan inklusif bagi semua kalangan. UT terus membuktikan bahwa jarak dan waktu bukan lagi batas untuk belajar, berkompetisi, dan berkontribusi bagi Indonesia yang berkelanjutan.

Dari Denpasar, gema semangat mahasiswa UT ini menjadi pesan kuat bagi generasi muda Indonesia: bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keberanian berbicara, berpikir, dan bertindak — bahkan dari ruang belajar tanpa batas.