Rahasia Sukses UT Kelola 760 Ribu Mahasiswa Daring, Undip Datang “Berguru” Langsung

Tangerang 21 Oktober 2025 – Universitas Terbuka (UT) kembali menjadi rujukan perguruan tinggi dalam penerapan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis teknologi. Kali ini, Universitas Diponegoro (Undip) berkunjung ke UT untuk mempelajari transformasi digital dan implementasi Learning Management System (LMS) yang telah berhasil diterapkan oleh UT secara ekstensif.

Kunjungan tersebut disambut hangat oleh jajaran pimpinan UT di Gedung UT Pusat. Dalam kesempatan ini, Dr. Muhammad Rif’an, S.T., M.T., selaku Kepala Direktur Sistem Informasi UT, menyampaikan bahwa UT selalu terbuka untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan teknologi pendidikan.

“Sebagai perguruan tinggi yang sejak awal berdiri mengusung sistem jarak jauh, UT terus berinovasi agar layanan digital kami semakin inklusif dan mudah diakses. Kami percaya kolaborasi antarkampus seperti ini akan mempercepat transformasi pendidikan di Indonesia,” ujar Dr. Rif’an dalam sambutannya.

Sambutan dari Undip disampaikan oleh Prof. Dr. nat. tech. Siswo Sumardiono, S.T., M.T., selaku Direktur Akademik. Beliau menyampaikan apresiasinya atas kesempatan belajar langsung ke UT. Ia menilai UT telah membuktikan diri sebagai pionir pendidikan tinggi berbasis teknologi di Indonesia.

“Kami ingin menggali lebih dalam bagaimana UT membangun sistem PJJ yang masif, efisien, dan berkelanjutan. Undip berkomitmen untuk menyiapkan pembelajaran digital yang lebih adaptif dan mampu menjawab kebutuhan mahasiswa di berbagai daerah,” ujarnya.

Dalam sambutannya, perwakilan Undip juga menyampaikan kekagumannya terhadap keberhasilan UT yang kini melayani lebih dari 760 ribu mahasiswa dengan rasio dosen hanya sekitar 1 banding 1.000. “Jumlah mahasiswa sebesar itu luar biasa. Kami ingin belajar bagaimana UT mampu mengelola pembelajaran daring secara efektif dengan infrastruktur dan sumber daya yang terbatas,” tambahnya.

Penjelasan terkait sistem dan arsitektur pembelajaran UT disampaikan oleh Kepala Pusat Pengelolaan Pembelajaran, Dimas Agung Prasetyo, S.Kom., M.Sc. Beliau memaparkan bagaimana sistem akademik UT dirancang untuk menjawab tantangan pendidikan jarak jauh di era digital. Dimas menjelaskan bahwa UT memiliki empat pusat operasional utama yang mendukung layanan akademik, diantaranya layanan tutorial online, praktik/praktikum online dan bahan ajar digital

“UT berkomitmen menyiapkan mahasiswa menjadi pembelajar mandiri. Kami ingin mengubah paradigma bahwa belajar tidak harus selalu bergantung pada dosen,” ujar Dimas. Ia menambahkan, perubahan demografis mahasiswa UT juga menjadi tantangan tersendiri. Jika dulu mayoritas mahasiswa adalah pekerja berusia di atas 30 tahun, kini banyak mahasiswa lulusan SMA yang membutuhkan pendampingan lebih dalam proses belajar mandiri.

Dalam paparannya, Dimas juga menyoroti meningkatnya jumlah mahasiswa UT turut mempengaruhi jumlah mahasiswa yang mengakses layanan tutorial online (Tuton). Dari tahun ke tahun, layanan Tuton UT mengalami lonjakan signifikan, hingga kini UT melibatkan lebih dari 31 ribu tutor dan melayani jutaan mata kuliah per semester. Namun, ia juga mengakui tantangan terbesar UT saat ini adalah mencari pengajar yang memiliki kompetensi teknologi informasi memadai untuk mengelola kelas digital.

Setelah pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dimana perwakilan Undip menanyakan bagaimana UT mengelola Learning Management System (LMS) agar tetap stabil ketika diakses ratusan ribu mahasiswa secara bersamaan. Tim UT menjelaskan bahwa sistem LMS mereka berbasis open source dan telah dioptimalkan untuk menampung trafik tinggi hingga 80 ribu pengguna per menit, dengan sistem monitoring dan load balancing terintegrasi. Diskusi juga mencakup strategi pelatihan dosen serta metode penjaminan mutu layanan pembelajaran daring bagi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Langkah Undip “berguru” ke UT ini sejalan dengan komitmen kedua universitas untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Kolaborasi dan pertukaran pengalaman dalam pengembangan pembelajaran jarak jauh diharapkan dapat memperluas akses pendidikan inklusif dan merata di Indonesia.

“Melalui sinergi ini, kami berharap dapat memperkuat sistem PJJ nasional agar pendidikan tinggi bisa diakses siapa pun, di mana pun, tanpa batas ruang dan waktu,” tutup Dimas.