Senyum dan keceriaan anak-anak Bait Qur’ani, Dompet Dhuafa Gaplek, dan PPKIT Tazkia Insani menghangatkan suasana Masjid Baitul ‘Ulum Universitas Terbuka (UT), Selasa, 22 September 2026. Di tengah keluarga besar UT, mereka hadir dalam Pengajian Umum dan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa yang diselenggarakan PERMATA UT, sebuah pertemuan yang tidak hanya diisi dengan tausiah dan pemberian santunan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi serta menerjemahkan keteladanan Rasulullah SAW ke dalam tindakan nyata.
Mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menumbuhkan Kepedulian dan Berbagi Bersama Anak Yatim dan Dhuafa”, kegiatan tersebut mengajak keluarga besar UT memaknai kembali bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada ucapan dan pemahaman, tetapi perlu diwujudkan melalui perhatian dan kebermanfaatan bagi sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.
Ketua PERMATA UT, Een Suaeni, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat sekaligus memperkuat kepedulian terhadap anak yatim dan dhuafa.
“Merupakan pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup diwujudkan hanya melalui ucapan, namun harus tercermin dalam tindakan nyata berupa kepedulian dan kebermanfaatan bagi sesama,” ujar Een.
Menurut Een, meneladani Rasulullah SAW berarti menghadirkan manfaat bagi orang lain, termasuk memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat.


Pesan tentang perhatian kepada anak yatim dan kaum dhuafa juga ditegaskan melalui pengingat terhadap Surah Al-Ma’un ayat 1–3, yang mengajarkan pentingnya memperhatikan anak yatim serta mendorong kepedulian terhadap orang miskin.
Karena itu, santunan yang diberikan dalam kegiatan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai bantuan material. Lebih dari itu, santunan menjadi bentuk perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak yang hadir. Kepedulian semacam ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebermanfaatan bagi mereka yang membutuhkan sekaligus mengambil peran dalam mengurangi kerentanan sosial yang masih dihadapi sebagian masyarakat, sejalan dengan semangat SDG 1: Tanpa Kemiskinan.
Dari Kepedulian Menjadi Gerakan Sosial
Bagi Een, kepedulian tidak harus selalu hadir dalam bentuk bantuan besar. Perhatian yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan, ketika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, dapat menjadi langkah untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih saling mendukung.
Semangat tersebut juga berkaitan dengan upaya membangun kehidupan yang lebih setara. Ketika keluarga besar UT memberikan ruang perhatian kepada anak yatim dan dhuafa serta kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan, kepedulian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkecil jarak sosial dan memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk merasakan manfaat dari kebersamaan. Nilai ini sejalan dengan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, yang menekankan pentingnya membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Een berharap kegiatan sosial yang dilakukan PERMATA UT tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Dengan dukungan keluarga besar UT, mitra, dan berbagai pihak, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Harapan tersebut sejalan dengan keberadaan PERMATA UT sebagai wadah yang menghimpun keluarga besar UT dari unsur ASN maupun non-ASN. PERMATA UT diharapkan menjadi ruang untuk mempererat hubungan dan membangun kebersamaan, tidak hanya di UT Pusat, tetapi juga bersama 39 UT Daerah hingga layanan UT di luar negeri.
“Insya Allah dengan adanya PERMATA, kita akan semakin erat. PERMATA tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi dapat menyatukan tekad seluruh pengurus dan anggota untuk mendukung visi dan misi, terutama visi dan misi UT,” tutur Een.
Semangat menyatukan tekad tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadirkan manfaat. Kegiatan sosial tidak berdiri sendiri, tetapi dapat tumbuh ketika keluarga besar UT, mitra, dan berbagai pihak mengambil peran sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semangat membangun kerja sama untuk mencapai tujuan bersama ini selaras dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Menurut Een, membangun hubungan yang baik tidak selalu harus dilakukan melalui langkah besar. Kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Dukungan sederhana seperti memberikan senyum, perhatian, dan semangat kepada pasangan maupun anggota keluarga dapat menjadi energi positif dalam menjalankan aktivitas dan pekerjaan sehari-hari.
Dari lingkungan keluarga, nilai tersebut kemudian dapat diperluas ke lingkungan kerja dan masyarakat. Ketika setiap orang mengambil peran sesuai dengan kemampuannya, kepedulian tidak lagi berhenti sebagai tindakan individual, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan bersama yang menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menghidupkan Keteladanan dalam Kehidupan Sehari-hari
Melalui Pengajian Umum dan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa, PERMATA UT mengajak keluarga besar UT untuk tidak berhenti pada pemaknaan keteladanan Rasulullah SAW secara lisan, tetapi menghadirkannya dalam tindakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mempererat silaturahmi, memberikan perhatian kepada sesama, berbagi dengan mereka yang membutuhkan, serta membangun kolaborasi merupakan bentuk sederhana yang dapat dilakukan setiap orang untuk menghadirkan kebermanfaatan.
Bagi PERMATA UT, kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di lingkungan keluarga besar UT. Ke depan, semangat tersebut diharapkan dapat terus berkembang menjadi gerakan sosial yang lebih luas dan memberikan manfaat bagi semakin banyak masyarakat.
Dengan demikian, keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya dikenang dalam sebuah pengajian, tetapi dihidupkan melalui tindakan nyata—dari lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga masyarakat. Sebab, kepedulian yang sederhana ketika dilakukan bersama dapat menjadi langkah kecil untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.


