BANYUMAS – Sebuah rumah di Jatilawang, Banyumas, menjadi ruang bertemunya dunia akademik, sastra, sejarah, dan kebudayaan. Di tempat itu, Direktur dan jajaran dosen Universitas Terbuka (UT) Purwokerto bersama dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bersilaturahmi dengan sastrawan sekaligus budayawan Indonesia, Ahmad Tohari.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka riset mengenai tokoh R.M. Margono. Namun, pertemuan itu berkembang menjadi ruang dialog untuk menggali lebih jauh jejak pemikiran, perjalanan hidup, serta kontribusi Ahmad Tohari dalam merawat dan merekam dinamika sosial budaya Indonesia melalui tulisan.
Bagi dunia sastra Indonesia, nama Ahmad Tohari tentu bukan sosok asing. Karya-karyanya telah melampaui batas geografis dan bahasa. Salah satu yang paling dikenal, Ronggeng Dukuh Paruk, bahkan menjadi bukti bagaimana cerita yang berangkat dari kehidupan masyarakat lokal dapat menemukan pembaca di panggung internasional.
Novel tersebut telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam sejumlah bahasa asing, antara lain Inggris, Belanda, Jepang, dan Jerman. Kisahnya pun kemudian diadaptasi ke layar lebar melalui film Sang Penari, sehingga gagasan serta nilai budaya yang dibawa Ahmad Tohari menjangkau khalayak yang lebih luas.
Jejak Ahmad Tohari tidak hanya tertinggal melalui karya fiksi. Ia juga aktif menyampaikan gagasan kebudayaan melalui berbagai tulisan di media massa dan kerap hadir sebagai pembicara dalam diskusi maupun seminar kebudayaan. Peran tersebut memperlihatkan kiprahnya sebagai intelektual publik yang tidak berhenti pada aktivitas menulis, tetapi juga membangun dialog dengan masyarakat.
Menariknya, sebelum dikenal luas sebagai novelis, Ahmad Tohari memiliki pengalaman panjang di dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi staf redaktur di sejumlah media berbasis di Jakarta, seperti harian Merdeka, majalah Keluarga, dan majalah Amanah. Pengalaman jurnalistik itu turut membentuk kepekaannya dalam membaca berbagai persoalan sosial dan budaya yang kemudian banyak hadir dalam karya-karyanya.
Di tengah percakapan tersebut, muncul pula perhatian terhadap budaya membaca di kalangan generasi muda. Budaya membaca dinilai penting dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta ketertarikan generasi muda terhadap sastra dan kebudayaan.
Karena itu, membangun kembali budaya membaca membutuhkan keterlibatan bersama. Upayanya dapat dilakukan melalui peningkatan literasi secara berkelanjutan di lingkungan pendidikan formal maupun nonformal, mendorong generasi muda untuk menulis sebagai latihan berpikir dan menyampaikan gagasan, serta memperluas keterlibatan mereka dalam kegiatan kesusastraan, seperti diskusi buku, komunitas literasi, dan forum kebudayaan.
Kunjungan UT Purwokerto dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjaga agar pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan tidak berhenti menjadi catatan masa lalu. Riset mengenai R.M. Margono diharapkan dapat memperkaya khazanah sejarah dan kebudayaan lokal Banyumas sekaligus menghubungkannya dengan pemikiran besar yang tumbuh dari tanah yang sama, termasuk gagasan-gagasan Ahmad Tohari.
Sebab, warisan seorang tokoh tidak selalu tersimpan dalam buku atau arsip. Ia juga hidup dalam percakapan, penelitian, dan generasi yang bersedia kembali membuka halaman-halaman lama untuk menemukan makna baru. Dari Banyumas, jejak itulah yang coba terus dibaca, dikaji, dan diwariskan melalui perjumpaan antara dunia akademik dan kebudayaan.
Upaya tersebut sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas serta SDG 11, khususnya semangat menjaga dan memperkuat warisan budaya agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.



