Saat Gempa Flores Menguji Solidaritas, UT Kupang dan SALUT Labuan Bajo Bantu 25 KK Terdampak

Bagi warga yang sedang melewati masa sulit pascagempa Flores, sebuah paket sembako mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika bantuan datang bersama perhatian dan kepedulian, maknanya bisa jauh lebih besar. Pesan itulah yang dibawa Universitas Terbuka (UT) Kupang  bersama SALUT Labuan Bajo saat turun langsung membantu warga terdampak gempa di Kampung Translok Blok B, Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. 

Dipimpin Kepala SALUT Labuan Bajo, Suryadin, S.Sos., bersama mahasiswa dan mahasiswi, UT Kupang SALUT Labuan Bajo menyalurkan paket sembako kepada 25 kepala keluarga (KK) terdampak gempa bumi Flores, Kamis (3/9/2026). 

Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas civitas akademika UT kepada masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit. Tak hanya menyerahkan kebutuhan pokok, Suryadin bersama mahasiswa dan mahasiswi juga hadir memberikan dukungan moral kepada warga. 

“Kami dari Universitas Terbuka Kupang SALUT Labuan Bajo bersama mahasiswa dan mahasiswi merasa terpanggil untuk ikut peduli terhadap saudara-saudara kita yang terdampak bencana gempa Flores. Bantuan ini mungkin tidak seberapa, tetapi kami berharap dapat membantu meringankan beban masyarakat,” ujar Suryadin. 

Menurut Suryadin, kepedulian sosial merupakan bagian dari kehadiran civitas akademika UT di tengah masyarakat. Bencana merupakan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kebersamaan sehingga setiap elemen masyarakat dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya. 

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa hadir dan berbagi dengan masyarakat. Kami ingin mahasiswa dan mahasiswi juga belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi juga tentang kepedulian, solidaritas dan kemanusiaan,” katanya. 

Bantuan sembako kepada 25 KK juga menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat dalam situasi pascabencana. Semangat tersebut sejalan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), yang mendorong terpenuhinya kebutuhan pangan, terutama bagi masyarakat yang berada dalam kondisi rentan. 

Kehadiran mahasiswa dan mahasiswi sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk membangun kepekaan terhadap persoalan sosial. Pendidikan tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan aksi nyata di tengah masyarakat. 

Bagi warga Kampung Translok Blok B, perhatian tersebut menjadi penguat di tengah kondisi pascabencana yang masih membutuhkan dukungan. Semangat saling membantu menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi risiko dan bencana, sejalan dengan SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. 

Bantuan tersebut disambut baik masyarakat. Warga mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan, terutama di tengah kondisi pascabencana yang masih membutuhkan banyak dukungan. 

“Kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat bagi keluarga-keluarga yang menerimanya. Kami juga mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat persaudaraan dan gotong royong. Masyarakat terdampak gempa membutuhkan kita semua,” tutup Suryadin. 

Pada akhirnya, yang dibawa UT Kupang SALUT Labuan Bajo bukan hanya paket sembako. Bagi warga Kampung Translok Blok B, kehadiran tersebut menjadi pesan sederhana bahwa mereka tidak sendiri menghadapi dampak gempa Flores. Dari bantuan yang diberikan, tumbuh semangat untuk saling menguatkan dan bersama-sama bangkit.