Tangerang Selatan – Ada masa ketika mencari jawaban berarti membuka buku, membaca satu per satu halaman, atau bertanya kepada orang lain. Kini, di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), sebuah jawaban bisa hadir hanya dalam hitungan detik.
Kemudahan itu tentu menjadi bagian dari perubahan dunia belajar. Namun, bagi mahasiswa, teknologi yang semakin pintar juga membawa tantangan baru: bagaimana tetap berpikir kritis, jujur, dan bertanggung jawab ketika berbagai informasi begitu mudah diperoleh?
Pertanyaan tersebut juga relevan dalam pendidikan jarak jauh yang menuntut mahasiswa memiliki kemandirian belajar. Sebab, pendidikan jarak jauh bukan sekadar memindahkan proses belajar dari ruang kelas ke layar, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa mampu mengelola proses belajarnya sendiri.
Hal itulah yang menjadi salah satu bekal bagi 2.578 mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Jakarta dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Klinik Ujian Gelombang 5 di Gedung UT Convention Center (UTCC).
Sejak awal, mahasiswa diperkenalkan bahwa menjadi bagian dari UT berarti siap menjalani proses belajar yang menuntut kemandirian. OSMB tidak sekadar menjadi pintu masuk untuk mengenal kampus, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa memahami pola pendidikan jarak jauh sekaligus berbagai layanan yang akan mendukung perjalanan akademik mereka.
Mahasiswa diperkenalkan dengan MyUT, Tutorial Online (Tuton), Perpustakaan Digital UT, serta berbagai layanan akademik lainnya. Pemahaman terhadap layanan tersebut menjadi penting karena mahasiswa perlu mengetahui bagaimana mengatur proses belajar, mempersiapkan ujian, dan memanfaatkan fasilitas akademik secara mandiri.
Direktur UT Jakarta, Moh. Muzammil, menekankan bahwa kemandirian perlu dibangun sejak awal. Menjadi mahasiswa berarti belajar menyusun strategi belajar, mempersiapkan diri menghadapi ujian, hingga bertanggung jawab terhadap proses akademiknya sendiri.
Di tengah pola belajar tersebut, kehadiran AI membuat tantangannya semakin berbeda.
Teknologi dapat membantu mahasiswa menemukan informasi, memperdalam pemahaman, dan mengembangkan gagasan. Namun, kemudahan itu tidak seharusnya menggantikan proses berpikir. Mahasiswa tetap perlu memahami materi, mengolah informasi, dan memastikan setiap tugas yang dikerjakan merupakan bagian dari proses belajar mereka sendiri.
Karena itu, integritas akademik menjadi bagian penting dalam pembekalan mahasiswa baru. UT mengingatkan mahasiswa untuk menggunakan AI secara bijak serta menghindari plagiarisme dan berbagai bentuk kecurangan dalam tugas maupun ujian.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa semakin berkembang teknologi yang digunakan dalam pendidikan, semakin besar pula tanggung jawab mahasiswa dalam menggunakannya.
Hal itu juga sejalan dengan pandangan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktiristek, Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja. Ia menilai kemandirian dan disiplin menjadi salah satu kunci keberhasilan mahasiswa dalam menjalani sistem Pendidikan Tinggi Jarak Jauh.
Menurut Beny, pembekalan pada awal masa studi menjadi penting agar mahasiswa memahami cara belajar yang akan mereka jalani. Ia berharap mahasiswa UT dapat menyelesaikan studi tepat waktu sekaligus memiliki kompetensi yang sesuai.
Pembekalan bagi mahasiswa baru tersebut juga tidak berhenti pada persoalan teknologi dan cara belajar. Sejumlah materi diberikan untuk membantu mereka mengenali ekosistem akademik UT secara lebih menyeluruh.
Materi mengenai integritas dan etika digital serta sistem platform UT disampaikan M. Jeffri Arimandes Chandra. Sementara pemahaman mengenai sistem Pendidikan Tinggi Jarak Jauh dan Perpustakaan Digital diberikan Irsanti Widuri Asih. Untuk Klinik Ujian, mahasiswa mendapatkan materi mengenai registrasi, ujian online/UTM, serta peraturan akademik dari Kartono.
Di sisi lain, perjalanan belajar yang semakin digital juga membawa perhatian pada bagaimana pendidikan dapat berjalan lebih efisien sekaligus tetap memperhatikan lingkungan.
Sehari sebelum pelaksanaan OSMB, UT menerima Anugerah Ekonomi Hijau dari detikcom atas penerapan konsep Green Campus Digital dalam transformasi pendidikan. Konsep tersebut mengintegrasikan pendidikan jarak jauh, teknologi digital, efisiensi sumber daya, dan prinsip keberlanjutan.
Pemanfaatan sistem digital dan paperless membuat proses pendidikan dapat berlangsung tanpa ketergantungan pada aktivitas tatap muka secara rutin sekaligus membantu mengurangi penggunaan sumber daya alam.
Semangat tersebut turut hadir dalam rangkaian OSMB melalui penyerahan bibit pohon dari IKA UT Jakarta, Karjono Atmoharsono.
Pada akhirnya, pembekalan 2.578 mahasiswa baru UT Jakarta bukan hanya tentang mengenalkan aplikasi, sistem ujian, atau aturan akademik. Lebih dari itu, mereka mendapat pembekalan untuk menghadapi cara belajar yang menuntut kemampuan mengatur diri di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.
Sebab ketika AI semakin mudah digunakan, mahasiswa justru dituntut semakin sadar terhadap batas antara dibantu teknologi dan bergantung pada teknologi.
Teknologi boleh membuat proses belajar menjadi lebih mudah. Namun, kemandirian, integritas, dan kemampuan berpikir tetap menjadi bagian yang tidak bisa diserahkan begitu saja.
Dari langkah pertama sebagai mahasiswa, UT Jakarta menekankan pentingnya kemajuan digital tidak hanya melahirkan mahasiswa yang semakin melek teknologi, tetapi juga pembelajar yang mampu berpikir kritis, bertanggung jawab, dan tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan.



