PURWOKERTO – Ada malam ketika sebuah jamuan makan bukan sekadar soal hidangan dan percakapan ringan. Di balik suasana hangat Gala Dinner Universitas Terbuka (UT) Purwokerto, terselip gagasan yang jauh lebih besar: bagaimana pendidikan tinggi bisa terus membuka akses, memperluas kolaborasi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Gala Dinner UT Purwokerto digelar di Tible Nine, Minggu (23/8/2026) malam, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menuju Halaqah bertema “Dari Akses Terbuka Menuju Maslahat Bersama: Membangun Inklusivitas Ekonomi Syariah di Lingkungan UT.” Kegiatan ini mempertemukan tokoh pemerintahan, akademisi, lembaga sosial-keagamaan, organisasi masyarakat, serta mitra perguruan tinggi dalam satu ruang yang lebih cair dan informal.
Hadir dalam kesempatan tersebut Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., Bupati Banyumas Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., Ketua Umum Paguyuban Serulingmas Dr. Wisnu Suhardono, serta Direktur Kajian dan Pengembangan BAZNAS RI KH. Muhammad Hazbi Zaenal, Ph.D.
Sejumlah pimpinan dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Barlingmascakeb maupun luar daerah juga turut hadir. Pertemuan lintas latar belakang itu membuka ruang untuk bertukar perspektif sekaligus membicarakan tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks.
Bagi UT Purwokerto, suasana informal menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi dan membangun kepercayaan antarpihak.
Direktur UT Purwokerto Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., mengatakan silaturahmi menjadi fondasi penting sebelum hubungan antarlembaga berkembang menjadi kolaborasi yang lebih konkret.
“Jika forum akademik mempertemukan kita melalui gagasan dan diskusi, malam ini kita memperkuat hal yang sama pentingnya: silaturahmi, kepercayaan, dan kebersamaan.”
Dari titik itulah, Gala Dinner diarahkan menjadi lebih dari sekadar pertemuan informal. Jejaring yang dibangun melalui pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pertemuan satu malam. UT Purwokerto ingin mendorong hubungan tersebut berkembang menjadi kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga sosial-keagamaan, organisasi masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Sebab, pendidikan tinggi hari ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi juga dituntut mampu menjawab perubahan zaman, menghadirkan inovasi, memperluas akses, serta memastikan pengetahuan yang lahir dari lingkungan akademik dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam memperkuat akses pendidikan yang inklusif dan bermutu. Pada saat yang sama, upaya membangun jejaring dan pemberdayaan masyarakat juga berkaitan dengan SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena perubahan yang berkelanjutan membutuhkan kerja bersama lintas sektor.
Gala Dinner menjadi salah satu bagian dari rangkaian yang diawali dengan ziarah Dawuhan pada siang hari dan berlanjut ke Halaqah pada Senin (24/8/2026). Rangkaian tersebut memperlihatkan satu benang merah: pendidikan masa depan tidak hanya membutuhkan teknologi dan inovasi, tetapi juga kolaborasi serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Malam pun berjalan dalam suasana akrab dengan makan malam dan live music. Namun, ketika acara berakhir, yang diharapkan tidak ikut selesai adalah gagasannya.
Dari sebuah meja makan, percakapan bisa berubah menjadi kepercayaan. Dari kepercayaan, lahir kolaborasi. Dan dari kolaborasi, pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi jalan menuju gelar, tetapi juga menjadi jalan menuju perubahan yang benar-benar terasa bagi masyarakat.



