390 Bibit Pohon Jadi Bagian dari Langkah Awal Mahasiswa Baru UT Jambi

Memulai perjalanan sebagai mahasiswa tidak selalu harus diawali dengan duduk di ruang kelas setiap hari. Di Universitas Terbuka (UT) Jambi, mahasiswa baru justru diperkenalkan pada cara belajar yang dapat menyesuaikan dengan aktivitas mereka, sekaligus diajak memulai kebiasaan sederhana untuk menjaga lingkungan.

Hal itu terlihat dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) sekaligus pembekalan dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) yang digelar UT Jambi di Hotel Aston Jambi, Minggu (23/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, UT Jambi menyiapkan 390 bibit pohon melalui program Satu Mahasiswa-Satu Pohon.

Program yang diinisiasi Ikatan Alumni UT (IKA UT) bersama UT tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong semangat Green University. Bibit pohon dapat ditanam di lingkungan UT maupun lokasi lain yang telah ditentukan, termasuk dibawa mahasiswa untuk ditanam di sekitar tempat tinggal masing-masing.

Di tengah pengenalan tentang sistem pembelajaran jarak jauh, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai dan menyelesaikan studi. Ada pula tanggung jawab untuk ikut memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sementara itu, OSMB menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk memahami bagaimana proses belajar di UT berlangsung. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai strategi belajar, perencanaan perkuliahan, teknik membaca, hingga persiapan menghadapi ujian.

Direktur UT Jambi Rahmaddian, S.E., M.M., mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin setiap semester untuk membantu mahasiswa baru mengenal UT dan sistem pembelajarannya.

“Kegiatan seperti ini adalah kegiatan rutinitas kita yang kita lakukan setiap semester baru, karena mahasiswa baru harus diperkenalkan tentang UT, bagaimana UT itu, sistem pembelajarannya bagaimana,” kata Rahmaddian.

Materi strategi belajar disampaikan Jasrial, dosen UT Pusat sekaligus auditor internal Kantor Pusat UT. Menurut dia, pemahaman mengenai cara belajar yang efektif penting dimiliki sejak awal karena mahasiswa UT berasal dari berbagai program studi dan latar belakang.

“Materinya tentang bagaimana belajar yang cepat dan baik, kemudian membaca yang baik, bagaimana membuat perencanaan mahasiswa, langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar ujiannya tercapai,” kata Jasrial.

Mahasiswa juga memiliki pilihan dalam mengatur beban studinya melalui Sistem Paket Semester (SIPAS) maupun non-SIPAS. Bagi mahasiswa yang ingin mengambil jumlah SKS sesuai kebutuhan, skema non-SIPAS memberikan ruang untuk menentukan sendiri ritme perkuliahan.

“Kalau ingin lebih cepat, dia non-SIPAS. Tinggal mengambil berapa SKS. Jadi, mereka bisa menentukan mau cepat atau lambat,” ujarnya.

Gambaran tentang fleksibilitas tersebut juga datang dari alumni UT, Ratu Munawaroh. Tokoh perempuan di Jambi yang menyelesaikan pendidikan di UT pada 2025 itu hadir untuk berbagi pengalaman sekaligus memberikan motivasi kepada mahasiswa baru.

Menurut Ratu, pendidikan tetap menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Ia juga merasakan langsung manfaat sistem pembelajaran jarak jauh UT, terutama bagi masyarakat yang harus membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan.

“UT ini memang menjadi sebuah solusi bagi siapa pun yang ingin tetap meng-upgrade ilmu pengetahuannya, tapi mempunyai keterbatasan waktu yang rata-rata karena pekerjaan,” ujarnya.

Bahkan, buku dan materi perkuliahan yang diperolehnya selama menjadi mahasiswa masih disimpan dan digunakan sebagai referensi hingga sekarang. Meski pernah menghadapi kendala jaringan ketika berada di daerah tertentu, fleksibilitas UT membantunya tetap menjalani pendidikan.

“Saya pikir ini jawaban buat semua, bukan cuma Gen Z saja,” kata Ratu.

Pengalaman tersebut kini juga dirasakan Zahra, mahasiswa baru UT Jambi yang telah bekerja di sebuah kantor hukum. Mendapat beasiswa dari tempatnya bekerja dengan syarat tetap melanjutkan pendidikan dan berkontribusi di kantor, Zahra memilih UT karena jadwal belajar dapat disesuaikan dengan pekerjaannya.

“Makanya saya memilih UT karena fleksibel. Saya bisa bekerja sambil kuliah,” kata Zahra.

Ia pun telah menyiapkan rencana setelah menyelesaikan pendidikan, yakni menjadi advokat atau melanjutkan studi ke jenjang magister hukum.

Rahmaddian menegaskan, fleksibilitas menjadi salah satu keunggulan UT. Menurutnya, UT bukan sekadar perguruan tinggi online, melainkan perguruan tinggi yang menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh tanpa batas ruang dan waktu.

“UT bukan perguruan tinggi online. UT merupakan perguruan tinggi dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Jarak jauh maksudnya tanpa batas ruang dan waktu,” ujarnya.

Mahasiswa UT Jambi sendiri tersebar hingga kabupaten, kecamatan, dan desa. UT juga terbuka bagi lulusan SMA atau sederajat, termasuk Paket C, serta masyarakat dari berbagai kelompok usia dan latar belakang pekerjaan. Untuk mendukung pembelajaran, UT Jambi bermitra dengan sejumlah perguruan tinggi dan instansi sebagai tutor.

Pada akhirnya, 390 bibit pohon yang hadir dalam OSMB bukan sekadar pelengkap kegiatan. Setiap bibit membawa pesan sederhana: pendidikan dan kepedulian lingkungan dapat tumbuh bersama. Dari satu mahasiswa dan satu pohon, UT Jambi berupaya menanam kebiasaan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi berikutnya.

Semangat tersebut sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui akses pendidikan yang inklusif dan fleksibel, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui gerakan penghijauan. Sebab, pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang mengubah kehidupan seseorang, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan yang dimiliki dapat membawa perubahan bagi lingkungan dan masyarakat.