Tumpukan botol plastik, sendok, sedotan, hingga kaleng biskuit bekas mungkin terlihat seperti barang yang siap dibuang. Namun, di tangan para guru dan orang tua murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Bonde, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, benda-benda tersebut justru berubah menjadi alat musik yang dapat menghidupkan suasana belajar anak.
Sebanyak 40 guru dan orang tua murid mengikuti pelatihan pembuatan alat musik dari bahan daur ulang yang digagas oleh Dr. St. Maria Ulfah, dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Terbuka (UT), selaku ketua tim. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Nasional yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pembelajaran PAUD yang kreatif sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam pelatihan yang berlangsung selama satu hari itu, peserta diajak membuat sejumlah alat musik sederhana, mulai dari shaker, kastanyet, suling, hingga drum. Bahan yang digunakan pun mudah ditemukan di sekitar lingkungan, sehingga kreativitas tidak harus selalu datang bersama peralatan pembelajaran yang mahal.
Maria Ulfah menuturkan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kreativitas guru dalam mengajar sekaligus menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak usia dini.
“Program ini dirancang sebagai respons atas dua masalah penting yang saling berkaitan di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yaitu rendahnya kapasitas guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang kreatif, murah, dan kontekstual,” ujar Maria.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini juga membuat peserta tidak sekadar datang, mendengar, lalu pulang membawa pengetahuan baru. Pelatihan juga dirancang secara partisipatif. Guru dan orang tua tidak hanya menerima materi, tetapi terlibat langsung dalam proses membuat dan mengembangkan media pembelajaran dari bahan bekas.
Tak berhenti pada kegiatan pelatihan, tim PKM juga membagikan buku panduan agar pengetahuan yang diperoleh dapat terus digunakan setelah program berakhir. Langkah ini sekaligus diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap alat peraga komersial yang relatif mahal, terutama bagi satuan PAUD dengan keterbatasan sumber daya.
Lebih jauh, Maria berharap kegiatan tersebut dapat memunculkan perubahan yang tidak berhenti di ruang pelatihan. Guru semakin percaya diri berkreasi, orang tua turut terlibat dalam proses pembelajaran, sementara anak-anak mulai mengenal bahwa barang yang dianggap tidak berguna pun dapat memiliki fungsi baru.
“Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya ekosistem pembelajaran PAUD yang lebih kreatif, mandiri, dan berwawasan lingkungan, serta tertanamnya nilai-nilai 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada anak sejak dini,” kata Maria.
Semangat tersebut berjalan seiring dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Program tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dan kepedulian lingkungan dapat bertemu dalam aktivitas sederhana: memberi guru ruang untuk berkreasi sekaligus mengajak anak mengenal pemanfaatan kembali barang sejak dini.
Sebab, bagi anak usia dini, belajar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Terkadang, pelajaran paling berarti justru lahir dari benda lama yang diberi kesempatan untuk memiliki kehidupan kedua.



