MAROS — Buku cerita menjadi pintu masuk bagi siswa MTs Al-Wasi’ Kuri untuk belajar Bahasa Inggris. Namun, pembelajaran tidak berhenti pada halaman buku. Mereka juga diajak berdiskusi, bermain, mempraktikkan cara menghadapi perundungan, hingga membawa pelajaran ke kawasan mangrove yang berada dekat dengan lingkungan mereka.
Rangkaian pembelajaran tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Terbuka (UT) bertajuk “Model Edukasi Anak Ramah Lingkungan dan Anti-Bullying melalui Pembelajaran Bahasa Inggris Kontekstual” di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros.
Sebanyak 42 siswa kelas VII hingga IX mengikuti program yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UT tersebut. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga rangkaian pada 31 Juli, 7 Agustus, dan 14 Agustus 2026.
Pada rangkaian pertama, siswa belajar menggunakan buku cerita bilingual yang mengangkat tema lingkungan dan anti-bullying. Mereka tidak hanya membaca cerita, tetapi juga mengenal kosakata Bahasa Inggris, berdiskusi, bekerja sama, serta menyelesaikan tantangan melalui metode bermain misi.
Sejumlah ungkapan sederhana seperti be kind, help your friends, stop bullying, dan protect the environment diperkenalkan melalui situasi yang dekat dengan keseharian siswa.
Ketua Tim PkM Universitas Terbuka, Nuraziza Aliah, S.Pd., M.Pd., mengatakan pembelajaran Bahasa Inggris dapat dimanfaatkan sebagai sarana membangun karakter sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa belajar Bahasa Inggris tidak harus terpisah dari kehidupan sehari-hari anak. Lingkungan mangrove yang dekat dengan mereka serta nilai saling menghargai dan berani menolak bullying dapat menjadi bagian dari proses belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Menurut Nuraziza, program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kepedulian terhadap lingkungan, serta sikap saling menghargai.
Pembelajaran kemudian diperluas kepada guru. Pada 7 Agustus 2026, para guru mendapatkan pelatihan penggunaan buku cerita bilingual dengan metode storytelling, permainan, membaca bersama, diskusi, serta aktivitas sederhana yang dapat diterapkan kembali di kelas.
Pelibatan guru dilakukan agar buku dan metode pembelajaran yang dikembangkan dalam program PkM tetap dapat dimanfaatkan setelah rangkaian kegiatan selesai.
Kepala sekolah MTs Al-Wasi’ Kuri, Sapri, S.Pd. menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi siswa maupun guru dalam memandang pembelajaran Bahasa Inggris sebagai proses yang menyenangkan. Salah seorang guru peserta pelatihan juga melihat pendekatan berbasis cerita dapat membuka peluang untuk menghubungkan Bahasa Inggris dengan bidang pembelajaran lainnya.
Rangkaian terakhir membawa siswa keluar dari ruang kelas. Pada 14 Agustus 2026, kawasan mangrove dimanfaatkan sebagai “kelas alam”. Siswa mengamati lingkungan secara langsung, kemudian menghubungkan hasil pengamatan dengan kosakata Bahasa Inggris serta pesan mengenai kepedulian lingkungan yang telah dipelajari sebelumnya.
Materi anti-bullying juga dipraktikkan melalui role play. Siswa berlatih merespons ejekan, membantu teman, menggunakan kata-kata yang baik, dan berani menolak tindakan perundungan.
Pendekatan tersebut memadukan Contextual Teaching and Learning, learning through play, storytelling, role play, dan experiential learning. Dengan cara tersebut, Bahasa Inggris tidak hanya menjadi materi pelajaran, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan empati, kepedulian lingkungan, keberanian menolak perundungan, dan komunikasi positif.
Dari buku cerita hingga kawasan mangrove, program PkM UT tersebut menunjukkan bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris dapat ditempatkan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan ini sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama melalui pembelajaran yang relevan, inklusif, dan mendukung pengembangan pengetahuan sekaligus karakter siswa. Program tersebut juga berkaitan dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui penguatan kepedulian terhadap lingkungan.


