Bagi mereka yang bekerja ribuan kilometer dari rumah, mimpi sering kali harus diletakkan di urutan paling akhir. Namun pada Minggu (25/1/2026), mimpi itu justru berdiri paling depan. Sebanyak 33 pekerja migran Indonesia di Jepang resmi diwisuda oleh Universitas Terbuka (UT), menandai kemenangan sunyi atas waktu, jarak, dan lelah yang selama ini mereka simpan sendiri. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi tidak semestinya ditentukan oleh lokasi kerja atau status sosial, melainkan oleh kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang.
Wisuda mahasiswa layanan luar negeri tersebut digelar secara luring di Jepang dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Universitas Terbuka TV. Para wisudawan berasal dari berbagai program studi dan selama ini bermukim di negeri Sakura. Kegiatan ini terlaksana dengan dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo serta Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Jepang, menjadi simbol kuat hadirnya negara dan perguruan tinggi di tengah perjuangan warganya di luar negeri—hadir bukan hanya sebagai pelindung tenaga kerja, tetapi juga sebagai pembuka jalan mobilitas sosial melalui pendidikan.
Di balik toga yang dikenakan hari itu, ada cerita tentang jam kerja panjang, rindu pada keluarga, dan keputusan untuk tetap membuka bahan kuliah saat tubuh meminta istirahat. Wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan bukti bahwa pendidikan tinggi tetap bisa diraih bahkan ketika hidup menuntut lebih dari sekadar ketahanan fisik. Dalam konteks ini, pendidikan tampil sebagai alat pembebasan: memberi peluang peningkatan keterampilan, memperluas pilihan kerja, dan memperkuat posisi tawar pekerja migran di masa depan.
Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menyebut kelulusan tersebut sebagai capaian yang membanggakan. “Selamat atas kelulusan saudara, ini membanggakan karena untuk menyelesaikan studi ini tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras, terlebih lagi kalian semua mengikuti kuliah di UT sambil bekerja di negeri orang,” ujarnya. Menurutnya, kelulusan ini menegaskan bahwa batas geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk memperoleh pembelajaran yang bermutu, sepanjang sistem pendidikan dirancang inklusif dan adaptif terhadap realitas kehidupan mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa di tengah rutinitas bekerja di luar negeri, para mahasiswa tetap konsisten mengikuti perkuliahan daring hingga berhasil menyelesaikan studi dengan hasil yang baik.
“Semangat belajar sepanjang hayat adalah filosofi UT yang harus terus dipegang. Saya yakin, saudara semua adalah orang-orang yang luar biasa,” katanya.
Prof. Ali juga menekankan bahwa wisuda bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk menuju tantangan yang lebih besar—termasuk peluang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan berkelanjutan melalui peningkatan kompetensi. Ia berharap semakin banyak pekerja migran Indonesia yang melanjutkan pendidikan tinggi melalui UT, sejalan dengan upaya negara memperkuat kualitas sumber daya manusia warganya di sektor migrasi.
Pelaksanaan wisuda di Jepang ini bukanlah yang pertama. Pada Desember 2024, UT telah menyelenggarakan wisuda luar negeri pertamanya di Jepang di Balai Indonesia, Tokyo, yang difasilitasi KBRI Tokyo. Langkah ini menjadi tonggak penting kolaborasi UT dan perwakilan Indonesia di luar negeri dalam memperluas akses pendidikan bagi warga negara Indonesia di mana pun berada, sekaligus mempersempit jarak kesempatan (SDG 10) antara mereka yang tinggal di dalam dan luar negeri.
Makna wisuda kali ini semakin menguat dengan pandangan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Terbuka periode 2022—2027, Prof. Ainun Na’im, Ph.D. Ia menyebut momen tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa dan istimewa. Menurutnya, ada lima keistimewaan yang melekat pada wisuda ini, mulai dari pelaksanaannya di Tokyo dengan mahasiswa asal Indonesia, penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang, hingga kehadiran para akademisi serta atase kedutaan—sebuah perjumpaan lintas budaya yang memperlihatkan bahwa pendidikan mampu menjembatani perbedaan.
Keistimewaan lainnya, wisuda ini diikuti oleh mahasiswa yang telah bekerja. “Para mahasiswa yang sudah bekerja menilai pendidikan merupakan investasi bagi dirinya sendiri,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa investasi pendidikan selalu menghasilkan imbal balik. Dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas individu melalui pendidikan akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif (SDG 8), di mana kemajuan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi juga oleh mereka yang selama ini berada di lapis pekerja.
Bagi Universitas Terbuka, wisuda ini adalah pernyataan sikap. Sebagai perguruan tinggi negeri dengan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh terbesar di Indonesia, UT terus memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia di seluruh dunia. Dari Jepang, UT menegaskan bahwa pendidikan berkualitas (SDG 4) dapat menjangkau mereka yang bekerja, berpindah negara, dan hidup dalam keterbatasan waktu—sebuah kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan yang menempatkan manusia, martabat kerja, dan keadilan akses sebagai inti kemajuan. Di tangan para wisudawan ini, pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan alat untuk mengubah nasib dan membuka masa depan.



