Di tengah derasnya arus digital dan semakin menipisnya ruang tenang bagi generasi muda untuk kembali mencintai membaca, seorang pustakawan muda dari Kota Sukabumi diam-diam menyalakan lilin harapan. Namanya Finkan Ramadhanti Putri, sosok yang percaya bahwa perpustakaan bukan sekadar rak buku yang berbaris rapi, tetapi ruang hidup—tempat siswa tumbuh, menemukan diri, dan bermimpi. Keyakinan itu pula yang mengantarkannya meraih Juara 3 Transformatif Tenaga Perpustakaan Sekolah (TPS) Tingkat Provinsi Jawa Barat.“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur menerima penghargaan ini. Ini adalah apresiasi atas proses panjang yang sudah saya jalani untuk mengubah pandangan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi pusat pembelajaran, inovasi, dan kolaborasi,” ujar Finkan, suaranya hangat.
Perjalanan Finkan menuju dunia kepustakawanan berawal dari kebiasaannya menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah saat SMA. Ia mengikuti berbagai lomba menulis dan mulai menyadari bahwa literasi adalah bagian penting dalam hidupnya. Saat mencari arah masa depan, internet mempertemukannya dengan informasi tentang beasiswa di Universitas Terbuka (UT) untuk jurusan Ilmu Perpustakaan. Dari situlah jalannya terbuka.
Bagi Finkan, UT bukan hanya kampus tempat ia menimba ilmu, tetapi ruang belajar yang memberinya kesempatan berkembang tanpa batas. Sistem pembelajaran jarak jauh UT, yang fleksibel dan inklusif, memungkinkannya tetap bekerja, berkegiatan sosial, dan membangun pengalaman di lapangan sambil menyelesaikan pendidikan formal. UT juga menawarkan lingkungan akademik yang relevan dengan kebutuhan zaman—mulai dari literasi digital, manajemen perpustakaan modern, hingga pelayanan informasi berbasis teknologi.
Model pendidikan UT yang membuka akses luas bagi siapa saja selaras dengan prinsip SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), yaitu memastikan pendidikan inklusif yang dapat dijangkau tanpa hambatan geografis maupun ekonomi. Bagi Finkan, UT bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi fondasi yang membentuk pola pikir profesionalnya: adaptif, inovatif, dan peka terhadap tantangan literasi masyarakat.
Kini, perpustakaan SMAN 1 Kota Sukabumi berada di bawah pengelolaan tangan kreatif Finkan—dan wajahnya berubah total. Ia menyadari bahwa siswa generasi sekarang mencari ruang yang nyaman dan menyenangkan. Dari pengamatan sederhana terhadap kebiasaan mereka nongkrong di kafe, lahirlah ide menjadikan perpustakaan bernuansa kafe. “Kami ingin membuat perpustakaan seperti tempat favorit siswa—nyaman, homey, dan membuat mereka betah,” ujarnya.
Hasilnya sungguh terasa. Jumlah pengunjung meningkat, dan perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai ruang sunyi yang membosankan. Melainkan tempat yang ditunggu-tunggu. Finkan menghadirkan berbagai program kreatif seperti Coffee Drink Day, Readathon, Podcast Perpustakaan, Gebyar Literasi, Permainan Edukasi, Thematic Literacy, QR Code DPL, SIPADI, hingga Keranjang Buku Literasi (KEBULI). Setiap sudut sekolah diberi identitas literasi—green house sebagai Botanical Literacy, ruang BK dengan Counselling Literacy, hingga UKS dengan Health Literacy.
“Tidak ada batas untuk mengakses literasi. Siswa bisa menikmati bacaan dari setiap sudut sekolah,” tutur Finkan. Langkah-langkah inovatif ini juga berkontribusi pada SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), yang mendorong terciptanya ruang publik edukatif yang inklusif dan menarik, terutama bagi generasi muda.
Meski hidup di era digital, Finkan tidak menjadikannya sebagai lawan. Ia justru memanfaatkannya sebagai alat memperluas jangkauan perpustakaan. Media sosial menjadi jembatan untuk mengenalkan program, membagikan konten edukatif, dan mengajak siswa terlibat dalam kegiatan literasi. Kemampuan adaptasinya ini juga dipengaruhi oleh pengalaman belajar di UT yang sejak awal menanamkan pentingnya literasi digital dan penggunaan teknologi sebagai bagian dari proses belajar.
Ke depan, Finkan berharap perpustakaan sekolah tidak hanya menjadi ruang bagi guru dan siswa, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar. Baginya, perpustakaan adalah pusat belajar sepanjang hayat—sejalan dengan misi besar UT dan nilai yang ditekankan dalam SDGs. “Walaupun profesi pustakawan kadang belum sepenuhnya dihargai, tapi kami adalah kunci dalam membangun literasi siswa,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi Finkan, perpustakaan adalah jantung sekolah. Selama ada siswa yang ingin belajar, tumbuh, dan bermimpi, perpustakaan akan selalu hidup.
“Semoga siswa selalu membutuhkan perpustakaan, karena literasi adalah kunci dari segalanya,” tutupnya.



