Di tengah perubahan dunia yang serba cepat, Universitas Terbuka (UT) Ternate memilih langkah berbeda: bukan sekadar mempersiapkan mahasiswa mengikuti arus, tetapi membekali mereka kemampuan untuk menulis, menafsir, dan mengolah ide menjadi karya yang punya suara. Semangat itulah yang mengiringi penyelenggaraan Workshop Menulis Fiksi dan Nonfiksi pada Sabtu, 15 November 2025—sebuah ruang belajar yang dirancang untuk menajamkan imajinasi sekaligus memperkuat kapasitas berpikir kritis generasi muda.
Direktur UT Ternate, Dr. Muhlis Hafel, M.Si., membuka kegiatan dengan penekanan bahwa literasi tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan dasar, melainkan kompetensi strategis di era digital. Ia menilai kemampuan menulis akan membentuk cara mahasiswa membaca dunia serta merespons persoalan sosial yang terus bergerak. “Menulis itu bukan sekadar memenuhi kewajiban kuliah, tapi sarana untuk memperkuat daya pikir dan menumbuhkan kepekaan sosial mahasiswa,” ujar Muhlis, menandai urgensi literasi sebagai fondasi intelektual.
Untuk memperkaya perspektif, UT Ternate menghadirkan dua narasumber dari dua bidang kepenulisan yang berbeda. Penulis dan praktisi literasi, Mariati Atkah, S.S., mengajak mahasiswa menyelami seni merangkai cerita—dari membangun konflik hingga menciptakan karakter yang hidup. Sementara itu, Helmi Hi. Yusuf, S.IP., MPA., akademisi yang lama berkecimpung dalam penulisan nonfiksi, membedah bagaimana artikel, esai, dan tulisan ilmiah populer dapat mengalir logis, rapi, dan bernilai informasi. Keduanya menegaskan bahwa menulis bukan hanya soal teknik, tetapi cara memandang realitas dengan lebih jernih.
Dengan mengusung tema “Nulis Bukan Sekedar Tugas, Tapi Karya!”, workshop ini mendorong mahasiswa memandang menulis sebagai cara berkontribusi, bukan sekadar menyelesaikan instruksi dosen. Peserta diajak memahami bahwa tulisan yang baik lahir dari keberanian mengajukan pertanyaan, merangkai gagasan, dan mengenali nilai yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 mengenai peningkatan kualitas pendidikan dan pembangunan kapasitas generasi muda.
Suasana diskusi sepanjang workshop berjalan dinamis. Peserta antusias mengulik cara mengembangkan ide, merancang sudut pandang yang menarik, memahami struktur tulisan, hingga mempraktikkan teknik yang mereka pelajari secara langsung. Pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai gaya bertutur, logika alur, hingga kualitas paragraf pembuka muncul bertubi-tubi, mencerminkan kesiapan mahasiswa untuk melangkah lebih jauh dalam dunia kepenulisan—baik fiksi maupun nonfiksi.
Melalui kegiatan ini, UT Ternate menegaskan aspirasi jangka panjang: melahirkan penulis muda yang mampu membawa isu dan potensi lokal Ternate serta Maluku Utara ke ruang yang lebih luas. Literasi, bagi UT, bukan sekadar program, tetapi landasan untuk membentuk mahasiswa yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing dalam lanskap global yang terus berubah.
Sebagai tindak lanjut, UT Ternate merencanakan penerbitan buku kumpulan karya peserta serta membuka peluang terbentuknya komunitas penulis muda di lingkungan kampus. Komunitas ini diharapkan menjadi ekosistem yang terus bergerak—tempat mahasiswa saling belajar, menguji gagasan, dan tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya cakap membaca zaman, tetapi juga mampu menuliskan masa depannya sendiri. Dengan dukungan ekosistem literasi semacam ini, UT Ternate menegaskan komitmennya melampaui sekadar memberi akses pendidikan: kampus ini berperan aktif membangun kemampuan dasar yang menentukan masa depan mahasiswa.
Tagar:


