Suasana perayaan Hari Ulang Tahun ke-5 UT Salut Kartini Rembang terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni, momentum ini justru dipenuhi ide-ide segar dari generasi muda yang berbicara tentang masa depan pendidikan di daerahnya. Lewat lomba menulis artikel bertema “Strategi Pengembangan Pendidikan Kabupaten Rembang di Era Digital”, para pelajar dan mahasiswa seakan diajak bercerita—tentang harapan, tantangan, sekaligus solusi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang lebih unggul.
Di antara deretan karya yang masuk, nama Talita Zalfa Auliya, siswi SMK Avicena Lasem, mencuri perhatian. Lewat tulisannya berjudul “Sinergi Generasi Z dalam Akselerasi Pembangunan SDM Berbasis Kearifan Lokal”, Talita mengajak pembaca melihat Rembang dari sudut pandang generasinya. Ia tidak hanya bicara soal teknologi, tetapi juga tentang akar budaya yang tetap perlu dijaga.
Menurut Talita, kemajuan digital tidak seharusnya membuat generasi muda melupakan jati diri daerahnya. Ia menggambarkan bagaimana pelajar bisa tetap melestarikan kearifan lokal sambil berkembang di era modern. Gagasan itu ia lengkapi dengan pentingnya pemetaan bakat sejak dini di sekolah. Baginya, mengenali potensi sejak awal adalah langkah sederhana, tapi berdampak besar dalam menciptakan SDM yang siap bersaing.
Cerita lain datang dari Yuliana Putri Prameswari dari SMK Cendekia Lasem yang meraih juara kedua. Lewat artikel “Dari FOMO ke Produktif: Bagaimana Peran Pelajar dalam Meningkatkan SDM di Rembang?”, ia mengangkat fenomena yang dekat dengan keseharian generasi muda. Yuliana mengajak pelajar untuk mengubah rasa takut tertinggal (FOMO) menjadi energi untuk berkarya dan berkembang.
Sementara itu, Aditya Rohmatul Huda dari MAN 2 Rembang yang meraih juara ketiga, memilih menekankan pentingnya aksi nyata. Dalam tulisannya, ia menggambarkan bahwa potensi besar pelajar Rembang baru akan berarti jika benar-benar diwujudkan dalam langkah konkret.
Pada kategori mahasiswa, cerita yang dihadirkan tak kalah kuat. Salma Fadhilah yang keluar sebagai juara pertama mengangkat isu yang sering luput dari perhatian: peran guru di tengah derasnya arus digitalisasi. Dalam artikelnya “Investasi di Akar, Bukan Sekadar Alat: Strategi Revitalisasi Human Capital Kabupaten Rembang di Era Digital”, ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu, bukan justru membebani.
“Digitalisasi diarahkan untuk mengotomatisasi tugas-tugas yang selama ini menyita waktu guru,” tulisnya. Ia menggambarkan bagaimana guru seharusnya kembali fokus mendampingi siswa—bukan tenggelam dalam urusan administrasi. Baginya, pendidikan yang kuat dimulai dari ruang kelas yang hidup, di mana karakter dan nalar kritis tumbuh bersama.
Juara kedua kategori mahasiswa diraih oleh Fiatul Rizka, sementara Edwin Selawinata menempati posisi ketiga. Seluruh rangkaian lomba ini menjadi bukti bahwa ketika diberi ruang, generasi muda mampu menghadirkan solusi yang relevan dan membumi.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjawab pertanyaan penting: siapa yang akan membawa perubahan, apa yang bisa dilakukan, hingga bagaimana langkah itu dimulai. Semua terjawab lewat tulisan-tulisan sederhana, tetapi penuh makna.
Di balik itu semua, semangat yang diusung sejalan dengan misi Universitas Terbuka yang terus membuka akses pendidikan bagi siapa saja. Pendidikan tidak lagi soal batas ruang dan waktu, melainkan tentang kesempatan yang bisa diraih oleh semua kalangan.
Dari Rembang, cerita-cerita kecil ini menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang, ia lahir dari keberanian pelajar untuk berpikir, menulis, dan percaya bahwa ide mereka bisa membawa perubahan. Dan dari sanalah, langkah menuju SDM unggul dan tujuan pembangunan berkelanjutan mulai terbentuk—perlahan, tapi pasti.
Tagar:
,UniversitasTerbuka ,PendidikanTanpaBatas ,SDGs4 ,GenerasiZ ,CeritaPendidikan ,RembangMaju


