Cerita Hangat dari Aceh Tamiang, Saat Universitas Terbuka Pulihkan Semangat Anak-anak Pascabencana

Tenda-tenda darurat masih menjadi ruang belajar sementara bagi siswa MTs Babusallam, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, setelah bencana merusak sebagian fasilitas sekolah mereka. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih itu, Universitas Terbuka (UT) hadir membawa semangat baru bagi para siswa. Bukan hanya lewat bantuan fasilitas pendidikan, tetapi juga melalui dukungan psikologis yang membantu anak-anak perlahan bangkit dari trauma.

Pada 5-6 Mei 2026, Universitas Terbuka menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) nasional kebencanaan bertajuk “Trauma Healing Pascabencana dan Penguatan Literasi Kebencanaan melalui Aktivitas Jasmani yang Adaptif”. Program yang mengusung tema “UT Berdampak, Bersama Pulihkan Sumatera” tersebut menjadi bukti nyata bagaimana UT terus memperluas perannya, tidak hanya sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh, tetapi juga sebagai institusi pendidikan yang hadir langsung di tengah masyarakat saat dibutuhkan.

Sejak pagi, suasana sekolah mulai dipenuhi tawa anak-anak. Mereka mengikuti permainan edukatif, aktivitas kelompok, gerak rekreatif, hingga sesi berbagi cerita bersama tim Universitas Terbuka. Di balik kegiatan yang terlihat sederhana itu, tersimpan misi besar UT untuk membantu memulihkan kondisi mental dan emosional siswa pascabencana.

Bagi Universitas Terbuka, pendidikan bukan hanya soal proses belajar di ruang kelas atau perkuliahan daring. Pendidikan juga tentang memastikan setiap anak tetap memiliki harapan, semangat, dan kesempatan untuk bangkit meski berada dalam situasi sulit. Karena itu, UT hadir langsung memberikan pendampingan psikososial melalui pendekatan yang ringan, adaptif, dan menyenangkan.

Program tersebut dipimpin oleh Dr. Andy Sapta, S.Pd., M.Si., M.Pd bersama tim pelaksana lapangan yang terdiri atas Dr. Karisdha Pradityana, M.Pd., Dr. Dede Dwiansyah Putra, M.Pd., dan Dra. Sondang Purnamasari Pakpahan, M.Pd. Kehadiran mereka turut didukung komite sekolah, tokoh pendidikan, tokoh agama Desa Babo, hingga mahasiswa yang ikut terlibat dalam proses pemulihan masyarakat.

Kolaborasi itu memperlihatkan bagaimana Universitas Terbuka tidak berjalan sendiri. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki jangkauan luas hingga berbagai daerah di Indonesia, UT terus mendorong semangat gotong royong dalam membantu masyarakat menghadapi situasi kebencanaan.

Selama kegiatan berlangsung, para siswa tampak antusias mengikuti setiap aktivitas. Mereka kembali bermain, bergerak, dan bercengkerama bersama teman-temannya. Perlahan, rasa takut dan kecemasan yang sempat muncul akibat bencana mulai berkurang.

Universitas Terbuka sengaja memilih pendekatan aktivitas jasmani adaptif karena dinilai efektif membantu anak-anak menciptakan suasana positif dan membangun kembali rasa aman di lingkungan sekolah. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen UT dalam mendukung kesehatan psikologis peserta didik.

Tidak hanya fokus pada trauma healing, UT juga memberikan edukasi literasi kebencanaan kepada siswa dan pihak sekolah. Anak-anak diajak memahami mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, hingga langkah sederhana menjaga keselamatan diri dan lingkungan sekitar.

Melalui edukasi tersebut, Universitas Terbuka ingin memastikan masyarakat tidak hanya pulih setelah bencana, tetapi juga lebih siap menghadapi kemungkinan serupa di masa mendatang. Langkah ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 11 mengenai komunitas yang tangguh terhadap bencana.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan pendidikan, Universitas Terbuka turut menyerahkan bantuan berupa 20 meja guru, 32 meja siswa, 86 kursi, dan buku-buku bacaan untuk MTs Babusallam. Bantuan diberikan berdasarkan hasil analisis kebutuhan di lapangan, mengingat para siswa masih belajar di tenda darurat dengan fasilitas terbatas.

“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian Universitas Terbuka terhadap masyarakat terdampak bencana,” terangnya.

“Kami berharap kegiatan trauma healing, edukasi kebencanaan, serta bantuan fasilitas belajar ini dapat membantu siswa kembali semangat belajar dan bangkit bersama menuju kondisi yang lebih baik,” ujarnya.

Bagi pihak sekolah, kehadiran Universitas Terbuka membawa dampak besar, bukan hanya dari sisi bantuan fasilitas pendidikan, tetapi juga dalam menghidupkan kembali optimisme siswa untuk terus belajar.

Melalui gerakan “UT Berdampak, Bersama Pulihkan Sumatera”, Universitas Terbuka kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang membuka akses pendidikan tanpa batas bagi semua kalangan. Tidak hanya hadir melalui sistem pembelajaran fleksibel yang menjangkau seluruh Indonesia, UT juga hadir langsung di tengah masyarakat, memastikan pendidikan tetap menjadi harapan yang bisa dirasakan siapa saja, kapan saja, bahkan di tengah situasi bencana sekalipun.