Tidak semua orang memulai kuliah dari titik yang sama. Ada yang datang sebagai pekerja penuh waktu, ada yang sudah berkeluarga, ada pula yang baru saja lulus sekolah menengah. Minggu (25/1/2026), Aula Universitas Terbuka (UT) Purwokerto menjadi ruang temu bagi 500 mahasiswa baru dengan cerita hidup yang beragam. Di ruang itulah, UT Purwokerto untuk pertama kalinya menyelenggarakan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Klinik Ujian (KU) secara luring—sebuah langkah yang menghadirkan kedekatan sekaligus menegaskan makna pendidikan tanpa batas.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa baru masa registrasi 2025/2026 Genap dari berbagai program studi di bawah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP), serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Mereka datang bukan hanya untuk mengenal sistem perkuliahan, tetapi juga untuk memastikan bahwa pilihan mereka berkuliah di Universitas Terbuka adalah langkah yang tepat di tengah keterbatasan waktu, jarak, dan kondisi hidup masing-masing.
Sejak pra-acara, suasana kebersamaan sudah terasa. Pengenalan profil UT Purwokerto disampaikan berdampingan dengan penguatan motivasi melalui lantunan Hymne dan Mars Universitas Terbuka. Ketika lagu Indonesia Raya, Hymne UT, dan Mars UT dikumandangkan bersama, ruang aula seolah menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi adalah hak setiap warga negara—dan UT hadir untuk menjembatani hak tersebut melalui sistem pembelajaran jarak jauh yang adaptif.
Direktur UT Purwokerto, Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa baru kini menjadi bagian dari lebih dari 26 ribu mahasiswa UT Purwokerto, termasuk sekitar 4.000 mahasiswa yang melakukan admisi pada semester ini. Di hadapan ratusan peserta, ia menegaskan bahwa memilih UT bukanlah pilihan kedua, melainkan keputusan strategis.
“Mahasiswa harus bangga menjadi bagian dari Universitas Terbuka. UT saat ini telah berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), sedang menuju World Class University, serta telah terakreditasi oleh lembaga nasional maupun internasional,” ujar Dr. Prasetyarti.
Ia menjelaskan, UT membuka akses belajar tanpa batas melalui pemanfaatan teknologi pembelajaran yang menjangkau lebih dari 760 ribu mahasiswa di seluruh Indonesia dan luar negeri. Sistem ini memungkinkan mahasiswa tetap belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, maupun tanggung jawab sosial—sebuah praktik nyata pendidikan inklusif yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan merata.
Meski mengusung sistem Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ), UT memastikan kualitas tetap menjadi fondasi utama. Bahan ajar yang terstandar, teknologi pembelajaran modern, serta berbagai program penguatan akademik dan karakter dirancang untuk membentuk mahasiswa yang mandiri dan berdaya saing. OSMB, sebagai bagian dari Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk memahami ritme belajar di UT—bukan sekadar cara kuliah, tetapi cara mengelola diri sebagai pembelajar dewasa.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Prasetyarti juga menekankan pentingnya etika dalam kehidupan akademik dan bermasyarakat. Mahasiswa didorong untuk aktif berprestasi dan berkontribusi, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi institusi dan lingkungan sekitar. UT Purwokerto, menurutnya, berkomitmen menjadi mitra tumbuh bagi mahasiswa dalam perjalanan akademik mereka.
Rangkaian kegiatan OSMB dilengkapi dengan materi pendidikan terbuka dan belajar mandiri, kuliah umum, serta wawasan kebangsaan yang disampaikan oleh perwakilan Korem 071/Wijayakusuma, Rr. Sri Harjani Estri Dwi Asmoro, S.Sos., berpangkat Letkol Cba (K), selaku Kepala Seksi Teritorial Korem 071/Wijayakusuma. Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai registrasi, layanan tata usaha, pencegahan dan penanganan kekerasan seksual (PPKS), kemahasiswaan, pengenalan aplikasi UT Online, hingga organisasi mahasiswa.
Melalui OSMB dan Klinik Ujian ini, UT Purwokerto tidak sekadar memperkenalkan sistem perkuliahan, tetapi menghadirkan rasa aman bagi mereka yang baru memulai. Sebuah penegasan bahwa di Universitas Terbuka, pendidikan tinggi tidak menuntut kehidupan untuk berhenti—melainkan memberikan fleksibilitas dan menyesuaikan dengan kehidupan yang terus berjalan.


