UT Gandeng YPKI untuk Tingkatkan Kesadaran Bahaya Kanker Payudara

Isu kesehatan seperti pola hidup dan konsumsi yang sehat, serta tingkat kesadaran akan kesehatan tubuh beserta ancaman penyakit di sekitar, telah lama menjadi perhatian dan isu utama di masyarakat. Hal ini dipicu pula dengan kampanye pemerintah untuk menerapkan pola hidup yang sehat, sehingga mendorong masyarakat untuk menjadikan kesehatan sebagai prioritas. Pandemi COVID-19 pun menjadi pelajaran tersendiri bagi seluruh masyarakat di dunia untuk selalu menjaga imunitas dan kesehatan, serta selalu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan terkait berbagai jenis penyakit yang mengancam.

Begitu pula dengan institusi pendidikan seperti Universitas Terbuka (UT). Dalam menjalankan prosesnya, UT seperti halnya institusi lain tentunya sangat mengandalkan SDM yang berkualitas. Tidak hanya kualitas, konsistensi SDM pun harus selalu terjaga. Di balik itu, UT juga memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan dan keberlangsungan seluruh pegawainya, termasuk juga aspek kesehatan.

Sebagai bentuk kepedulian UT dalam memfasilitasi hak pegawainya di bidang kesehatan, UT berupaya untuk memberikan pengetahuan dan menyelenggarakan sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan. Kali ini, Poliklinik UT bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) untuk melakukan kegiatan sosialisasi dan deteksi dini kanker payudara melalui pemeriksaan Mammografi untuk pegawai di lingkungan UT. Pemeriksaan ini dilakukan di UTCC Kantor Pusat UT Pondok Cabe, dengan difasilitasi oleh Mobil Mammografi RS Dharmais Jakarta. Pada kesempatan ini, sosialisasi dilakukan melalui pemeriksaan Mammografi yang dilakukan kepada 50 pegawai wanita UT yang berusia di atas 40 tahun. Pemeriksaan Mammografi memiliki peran penting dalam deteksi dini kanker payudara, karena bisa menunjukkan perubahan pada payudara, bahkan ketika gejala belum muncul.

Menurut Penanggung Jawab Poliklinik UT Nisa Afriza, M.KM., “Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran serta kebiasaan gaya hidup sehat, serta untuk meningkatkan pengetahuan tentang SADARI serta mendorong pegawai untuk konsultasi apabila ada keluhan.” SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara. SADARI bertujuan untuk menemukan benjolan dan tanda-tanda lain pada payudara sedini mungkin agar dapat dilakukan tindakan secepatnya.

Beliau pun menyebutkan bahwa sosialisasi dan pemeriksaan ini dilakukan akibat penyebaran informasi tentang kanker payudara di Indonesia yang belum merata. Bahkan masih ada mitos-mitos di kelompok masyarakat tentang pengobatan non-medis yang belum dapat dibuktikan secara keilmuan. Selain itu, masih pula terdapat banyak stigma-stigma terkait vonis kanker payudara meski baru stadium awal, sehingga banyak pasien tervonis memilih menunda untuk menjalani pengobatan. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat terkait kanker payudara menjadi tantangan tersendiri, di mana masyarakat masih memandang buruk penderita kanker payudara, di mana seorang wanita tidak lagi dianggap “utuh” pasca mengidap kanker payudara. Penyebaran informasi melalui kegiatan seperti ini dianggap efektif untuk membantah stigma-stigma yang ada. Sosialisasi beserta pemeriksaan pun dilaksanakan untuk pencegahan, agar tidak terlambat dalam upaya pengobatan-pengobatannya.

Penyelenggaraan sosialisasi dan pemeriksaan ini merupakan bentuk perhatian UT pada kesehatan pegawainya. Sebagai sebuah institusi, UT bertanggung jawab pula pada kesejahteraan pegawai-pegawainya. Hubungan baik dan kekeluargaan yang terjalin antara UT sebagai institusi dan pegawainya selalu berjalan dua arah, di mana seluruh pegawainya menjaga keberlangsungan UT, dan sebaliknya, UT pun menjaga keberlangsungan seluruh pegawainya. Selanjutnya, Poliklinik UT pun akan menjalin kerja sama dengan Unit Transfusi darah Rumah Sakit Fatmawati untuk kegiatan Donor Darah.