Selenggarakan Sosialisasi Juknis RPL, UT Persiapkan Diri Menuju PTN-BH

Dengan fleksibilitas tinggi dan daya jangkau yang luas,  Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan utama bagi banyak pekerja yang juga memiliki keinginan mendapatkan gelar sarjana. Selain itu, UT tidak hanya memfasilitasi para calon mahasiswa yang memang berkeinginan mengemban pendidikan tinggi, namun juga memberikan keuntungan bagi calon mahasiswa yang sudah memiliki pengalaman kerja di bidangnya masing-masing. Salah satunya dengan memberlakukan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Dengan RPL, calon mahasiswa yang telah memiliki pengalaman kerja dapat diakui kompetensinya dan dapat dikonversikan menjadi SKS atau diakui kesetaraannya di UT.

Pada Rabu 19/10/2022, UT berkesempatan untuk memperoleh arahan langsung dari Kemendikbudristek terkait Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) RPL sesuai Kepdirjen Diktiristek No.162/E/KPT/2022. UT menghadirkan 2 (dua) narasumber utama, Pranova Herdianto selaku Sub Koordinator Data dan Informasi Setditjen Ristekdikti sekaligus perwakilan dari PDDikti, serta Yulita Priyoningsih selaku Sub Koordinator Pembelajaran Khusus Belmawa Ditjen Diktiristek. Bertempat di Gedung Serbaguna Kantor Pusat UT Pondok Cabe, Sosialiasi Juknis RPL ini dihadiri oleh Rektor UT Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D., beserta seluruh jajaran Wakil Rektor dan pimpinan UT serta unit-unit terkait.

Acara diawali dengan kata pembuka dari Wakil Rektor Bidang Akademik UT, Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A. Beliau menyambut dengan baik kehadiran para narasumber yang akan memberikan arahan secara terpadu terkait Juknis RPL yang terbaru sesuai dengan Kepdirjen. Beliau berharap dengan adanya sosialisasi ini, UT lebih siap untuk menghadapi dinamika baru serta dapat melakukan penyesuaian sesuai dengan kondisi di UT. Beliau memohon pula dampingan dari Diktiristek agar terdapat kesamaan persepsi, konseptual, implementasi dan operasional UT dengan Kepdirjen yang berlaku.

Selanjutnya, Rektor UT Ojat Darojat pun memberikan sambutannya sekaligus dengan resmi membuka acara Sosialisasi Juknis RPL. Menurut beliau, UT memberikan kesempatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat untuk bisa merasakan pendidikan tinggi. Lebih dari 80% mahasiswa UT saat ini merupakan pekerja yang telah memiliki berbagai sertifikat, penghargaan dan sejenisnya. Hal ini pun diapresiasi oleh UT dengan penyelenggaraan RPL. “Saya harap agar sosialisasi yang disampaikan oleh “sang induk” ini dapat menjadi quality guideline yang akan diikuti oleh UT sebagai rujukan utama.”, ucap Ojat Darojat. Beliau pun secara resmi membuka acara dan mempersilakan narasumber untuk menyampaikan paparannya.

Pranova Herdianto selaku narasumber pertama menyampaikan ungkapan terima kasihnya atas sambutan yang baik dari pihak UT. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran beliau selaku perwakilan dari PDDikti merupakan bentuk support bagi pelaksanaan RPL di UT. Pranova menyebutkan bahwa PDDikti merupakan tulang punggung data serta pusat untuk pengelolaan data pelaksanaan RPL. Namun dalam perjalanannya, PDDikti menemukan masalah di mana terdapat kasus ijazah palsu dan menyatakan bahwa ijazah palsu tersebut diakui sebagai RPL. Kasus-kasus seperti itulah yang mengganggu proses verifikasi dan validasi banyak perguruan tinggi dalam RPL. Pranova berpesan agar UT selalu menjalankan RPL dengan jujur dan tidak menyalahi aturan, tetap sesuai dengan apa yang telah UT laksanakan serta harus menjadi lebih baik lagi.

Kemudian Sub Koordinator Pembelajaran Khusus Belmawa Ditjen Diktiristek, Yulita Priyoningsih pun menyampaikan paparannya terkait Juknis RPL. Beliau menyampaikan bahwa perbedaan dengan RPL yang lalu adalah tidak adanya lagi kategori RPL Tipe A1 dan A2, dan semuanya diintegrasikan ke dalam Tipe A saja. Seluruh pendidikan atau kompetensi yang diakui, baik formal, non-formal, informal dan sejenisnya, maka semuanya termasuk ke dalam RPL Tipe A. Beliau menambahkan, “Untuk Tipe B, terdapat banyak salah persepsi oleh beberapa pejabat negara bahwa dikarenakan prestasi mereka di bidangnya, mereka berhak di-RPL-kan dan berhak memperoleh gelar S2 atau S3. Ini salah konsepsi. RPL Tipe B hanya memberikan pengakuan kesetaraan, bukan memberikan gelar begitu saja.” Selanjutnya, Juknis RPL sesuai dengan Kepdirjen pun dijelaskan secara runut oleh Yulita Priyoningsih, mulai dari langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan UT dalam melakukan rekognisi, hingga berbagai permasalahan yang berpotensi terjadi pada setiap langkahnya.

Dalam menentukan setiap langkahnya, UT selalu mengikuti aturan yang berlaku. Untuk terus meningkatkan kualitasnya, UT terus-menerus melakukan kajian terhadap aturan-aturan yang diberlakukan, serta melakukan evaluasi agar tidak menyimpang dari yang seharusnya. Sosialisasi seperti yang dilakukan ini merupakan bukti konkrit komitmen UT dalam kepatuhannya melakukan proses bisnis sesuai dengan ketentuan yang diwajibkan kementerian. Gencarnya pemberlakuan UT dalam menyelenggarakan RPL merupakan salah satu kelebihan UT dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, karena RPL sendiri memiliki sifat yang sama dan memfasilitasi UT dalam misinya menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak ada yang termarjinalkan.