The 17th Cyber Education Forum (CEF): Improving Online Learning Readiness for People with Disabilities

Indonesia Cyber Education (ICE) Institute mempersembahkan the 17th Cyber Education Forum (CEF) Universitas Terbuka dengan mengangkat tema “Improving Online Learning Readiness for People with Disabilities” pada Selasa, 25 Oktober 2022. Rangkaian CEF yang ketujuh belas ini diselenggarakan melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube UT TV.

Acara ini dimoderatori oleh Erika Pradana Putri, S.T., M.Sc., dan menghadirkan dua pembicara utama yaitu Dr. Swati Mujumdar dan Alies Poetri Lintangsari, M.Li.

Pembicara pertama, Dr. Swati Mujumdar adalah Pro-Chancellor dari Symbiosis Skills Universities, Pune & Indore, India menyampaikan bahwa tujuan dari pembelajaran online adalah untuk menjangkau yang tidak terjangkau. Memberikan pendidikan yang terjangkau dari segi biaya, menyediakan pendidikan yang fleksibel dan mudah diakses dengan tetap memberikan pendidikan berkualitas. Beliau turut menyampaikan, bahwa nilai-nilai tersebut harus dapat mengakomodasi seluruh pelajar, termasuk anak berkebutuhan khusus. Untuk mendukung terwujudnya hal-hal tersebut, Symbiosis Skills Universities menawarkan mobile learning pedagogi pertama di India dengan memberikan bite size learning, konten dan video yang interaktif, menyediakan catatan untuk setiap mata kuliah, tugas-tugas yang menyesuaikan dengan mahasiswa, serta ujian yang dapat dilaksanakan di mana saja. Selain itu, untuk dapat mengakomodasi mahasiswa dengan kebutuhan khusus, penting bagi perguruan tinggi untuk mempertimbangkan fitur-fitur yang dibutuhkan yaitu sistem pembelajaran yang dapat diterima, bahan ajar yang dapat dioperasikan, mudah dimengeri, dan dapat disesuaikan. Suatu aspek penting juga bagi guru dan tenaga pengajar untuk peka dan mengerti akan masalah dan kendala yang dihadapi oleh pelajar dengan kebutuhan khusus.

Pembicara kedua, Alies Poetri Lintangsari, M.Li. dari Universitas Brawijaya menyampaikan presentasi dengan judul “Students with disability’ college trasition: the missing link.” Dalam presentasi ini, beliau menyampaikan hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa institusi pendidikan, termasuk Universitas Terbuka, dalam menyediakan jembatan dan mempersiapkan calon mahasiswa dengan kebutuhan khusus untuk menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Dalam penelitian ini, ditemukan adanya gap pada kurikulum sekolah menengah atas yang tidak mempersiapkan murid dengan kebutuhan khusus untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Kurikulum yang ada lebih berfokus pada kecakapan vokasional.

Pada tahun 2012, Universitas Brawijaya menginisiasikan program alternatif Special Selection Program for the Students with Disabilities (SSPSD) yang merupakan kebijakan untuk membatu murid dengan kebutuhan khusus. Hal ini merupakan bentuk untuk mewujudkan kpercayaan bahwa pendidikan harus tersedia bagi semua, termasuk murid dengan kebutuhan khusus yang tentunya harus bisa terakomodasi. Maka dari itu, dengan dukungan ICE-I dan UT, tim peneliti  mempersiapkan penelitian “Siap Kuliah Online Course: Preparing Students with Disabilities to College” yang ditujukan untuk mempersiapkan murid dengan kebutuhan khusus untuk menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Penelitian ini meneliti dan mewawancarai alumni dengan kebutuhan khusus, guru pada Sekolah Luar Biasa (SLB), dan dosen. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa para alumni berkebutuhan khusus mengalami kesulitan pada aspek sosial dan aksesibilitas terhadap bahan ajar atau fasilitas kampus selama menjalani kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi. Kedepannya, penelitian ini diaharapkan dapat berkolaborasi dengan sekolah-sekolah untuk mempersiapkan program transisi yang mempersiapkan murid-murid dengan kebutuhan khusus untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.