Menyongsong UT PTN-BH, Senat UT Berkunjung ke UNAIR untuk Benchmarking

Universitas Terbuka (UT) sebentar lagi akan beralih dari status Perguruan Tinggi Negeri Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PTN PK-BLU) menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Peralihan status hukum tersebut tentu saja akan berdampak pada perubahan di seluruh aspek organisasi dan tata Kelola (OTK) UT, termasuk perubahan organ utama PTN-BH, khususnya peran Majelis Wali Amanat (MWA), Rektor, dan Senat Akademik Universitas (SAU). Dalam rangka menyongsong peralihan status tersebut, Senat akademik UT melakukan benchmarking berupa kunjungan kerja ke salah satu universitas terlebih dahulu mendapatkan status PTN-BH, yaitu Universitas Airlangga (UNAIR).

Kunjungan kerja rombongan senator UT ke Unair dilakukan pada tanggal 13 Juni 2022 dengan tujuan untuk  mendapatkan pandangan, pengalaman, dan praktek baik seputar peran MWA, Rektor dan SAU pada PTN-BH. Diskusi difokuskan pada empat aspek yaitu Tata Kelola PTN-BH, Hubungan Kerja antara SAU, MWA dan Rektor, bentuk laporan kerja serta Peraturan yang dibuat SAU, MWA dan Rektor. Kunjungan kerja tersebut diikuti oleh 9 anggota senat akademik yang terdiri dari Ketua Senat, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si;  Sekretaris Senat, Dr. Etty Puji Lestari serta beberapa anggota senat antara lain Rektor UT Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D;  Dekan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP), Dr. Sofjan Arifin, M.Si; Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Dr. Subekti Nurmawati, M.Si; Kepala Pusat Riset dan Inovasi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PRI PJJ), Prof. Daryono, S.H., M.A., Ph.D; Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FST, Ir. Endang Indrawati, M.A;   Kepala Pusat Pengujian pada Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Drs. Timbul Pardede, M.Si dan  Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi pada Jurusan Ilmu Komunikasi dan Informasi FHISIP, Dra. Arifah Bintarti, M.Si. Ikut hadir dalam kegiatan tersebut Dr. Suparti, M.Pd. Kepala Unit Pelaksana Teknis Unit Program Belajar Jarak Jauh Surabaya.

Rombongan UT disambut baik oleh pimpinan Unair yaitu Rektor Unair Prof. Dr. Moh. Nasih, S.E, M.T, Ak, didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Aset, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E, M.Si, M.Fin dan Ketua SAU Prof. Djoko Santoso, dr.Ph.D, Sp.PD, K-GH, FINASIM serta beserta perwakilan MWA dan SAU Unair. Kegiatan bertempat di Balairua Kampus C Unair.  Selama kurang lebih tiga jam tuan rumah membagikan pengalamannya mengelola Unair dengan skema PTN-BH. Dalam paparannya, Ketua SAU Unair menyampaikan paparannya tentang best practice governance dengan senat. Senat harus dibedakan agar mandiri dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

Paparan berikutnya disampaikan oleh prof. Dr. Moh. Nasih, S.E, M.T, Ak selaku Rektor Unair yang menjelaskan kunci sukses dalam menjaga harmoni antara MWA, SAU dan Rektor. Di Unair sendiri mereka menjelaskan hubungan ketiganya sebagai struktur Tritunggal dalam kaitannya dengan implikasi kewenangan. Terkait dengan laporan kinerja maka lebih lanjut Rektor Unair mengatakan bahwa laporan kinerja hanya disampaikan oleh rektor, sedangkan SAU dan MWA tidak membuat laporan

Pertemuan diakhiri dengan tanya jawab yang semakin menambah wawasan Ketua dan Anggota Senat UT seputar pengelolaan PTNBH dengan peran SAU dan MWA yang dituntut untuk dapat bersinergi dengan pimpinan universitas memajukan UT ke depannya.

Sebelum kunjungan ke Unair, Rektor dan jajarannya pun berkunjung ke Kantor UT Surabaya. Dalam kesempatan tersebut Dr. Suparti, M.Pd. selaku Direktur UT Surabaya mewakili seluruh civitas akademik UT Surabaya menyampaikan rasa syukurnya dan menyambut dengan baik kehadiran Rektor UT di Surabaya. Prof. Ojat dalam kunjungan ke kantor UT Surabaya pun menyampaikan pengarahan kepada para staf UT Surabaya yang turut hadir. Beliau  memberikan informasi tentang perubahan kampus negeri UT PK-BLU menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) yang kemungkinan akan diterima beberapa bulan kedepan.

“Setelah ditandangani oleh Presiden nantinya, UT akan berubah badan umum milik publik yang bersifat otonom yakni PTNBH. Banyak sekali manfaat untuk UT ke depan,” tutur Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D.

Rektor menyampaikan tentang sejumlah manfaat atas peralihan status tersebut, antara lain keleluasaan pengelolaan diantaranya membuka ataupun menutup program studi sesuai kebutuhan, menetapkan tarif biaya pendidikan yang sesuai, serta dapat mengajukan pembinaan karir secara mandiri untuk merekrut pegawai UT secara intern.

“Saya semakin optimis, UT menjadi kampus negeri berbasis pembelajaran jarak jauh yang akan semakin diminati,” tutup Pak Rektor.

 

Etty PL