FKIP-UT Gelar Temu Ilmiah Guru Nasional ke XIII

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka (FKIP-UT) kembali menggelar Temu Ilmiah Guru Nasional (TING) ke XIII, dengan tema “Literasi Digital dalam Penerapan Merdeka Belajar untuk Membangun SDM Unggul” yang diadakan secara daring pada Jumat, 19 November 2021. Para peserta mengikuti kegiatan secara daring dan live streaming di YouTube channel UT TV. Kegiatan ini merupakan pertemuan ilmiah sekaligus agenda tahunan yang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 dalam memperingati Hari Guru setiap 25 November.

Dalam sambutan, Ketua Panitia Dr. Sri Tatminingsih, M.Pd. menyampaikan bahwa pandemi Covid-19  tidak menghalangi pelaksanaan kegiatan TING ke XII. Sebanyak 397 partisipan tergabung dalam acara TING ke XIII, yang terdiri dari 63 pemakalah dan 334 peserta. Adapun latar belakang partisipan berasal dari guru, dosen, mahasiswa pendidikan guru, praktisi dan pemerhati pendidikan, juri dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran dan Kreativitas Mahasiswa Tingkat Nasional (LIP-KMN) Tahun 2021 yang berasal dari seluruh Indonesia. Sebanyak 286 peserta tergabung dalam LIP-KMN tahun 2021 dari 10 kategori lomba. Ia menyatakan bahwa terdapat 7 sub tema dalam TING ke XIII ini yaitu: 1) Pemanfaatan Literasi Digital dalam Pembelajaran, 2) Peluang dan Tantangan Merdeka Belajar, 3) Inovasi dalam Penerapan Merdeka Belajar dan Literasi Digital, 4) Permasalahan dan Solusi dalam Penerapan Merdeka Belajar dan Literasi Digital, 5) Peran Guru dalam Penerapan Merdeka Belajar dan Literasi Digital, 6) Evaluasi Penerapan Merdeka Belajar dan Literasi Digital 7) Perspektif Pendidikan Berbasis Penguatan Karakter.

Selanjutnya sambutan Dekan FKIP Dr. Ucu Rahayu, M.Sc. menyampaikan bahwa kegiatan TING ini memiliki tujuan untuk berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan, mengoptimal peran guru sebagai agen of change sehingga terwujud generasi yang unggul. Dalam upaya menyiapkan bangkitnya Generasi Emas 2045, maka diperlukan pembangunan sumber daya manusia sehingga menghasilkan manusia Indonesia yang religius, cerdas, produktif, andal dan komprehensif. Melalui program Merdeka Belajar, guru memiliki kebebasan dalam berinovasi dan berkolaborasi dengan memanfaatkan teknologi yang terbarukan, sehingga mendukung kemerdekaan guru dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Rektor UT, Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. berterima kasih atas kesempatan para keynote speaker, para ahli, presenter dan pemakalah, serta partisipasi peserta dalam kegiatan TING ke XIII ini. Pandemi Covid-19 mengubah tatanan kehidupan seluruh masyarakat dunia termasuk dalam proses pembelajaran sehingga masyarakat mendapat pengalaman pembelajaran dalam jaringan atau pendidikan jarak jauh (PJJ). Melalui kegiatan TING ke XII, diharapkan dapat meningkatkan literasi digital para peserta dalam mengintegrasi, menganalisis dan mengelola pembelajaran secara daring dalam melahirkan insan unggul. Rektor juga berharap melalui kegiatan ini muncul ide dan gagasan baru terkait implementasi literasi digital dan merdeka belajar dari penyelenggara pendidikan itu sendiri, seperti guru, dosen, mahasiswa dan tenaga pendidikan  atau pemerhati dalam bidang pendidikan. 

Kegiatan TING ke XIII menghadirkan keynote speaker Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang diwakili oleh Direktur Sumber Daya. Dr. Mohammad Sofwan Effendi, M.E. mengapresiasi atas terselenggaranya TING ke XIII. Sofwan menyampaikan bahwa masifnya perubahan dunia saat ini yang dipengaruhi oleh teknologi yang berkembang pesat dan pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik. Para peserta didik dituntut untuk mampu beradaptasi dan menyongsong masa depan yang cemerlang. Pola pendidikan perlu di berubah menyesuaikan zaman. Pada era industri 4.0, peserta didik dituntut untuk mampu berinovasi untuk bersaing di tingkat dunia. Pemerintah melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberikan kesempatan bagi guru dan peserta didik untuk menggali potensi inovasi pembelajaran seluas-luasnya baik di sekolah maupun di luar sekolah. Peran teknologi menjadi hal yang penting guna mendukung proses Pendidikan yang berkualitas di era digital. Sofwan menambahkan bahwa literasi digital menjadi pendukung dalam terselenggaranya program MBKM.

Dalam TING ke XII diselenggarakan sesi pleno dengan menghadirkan 4 narasumber yaitu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang diwakilkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., Ketua Yayasan High Scope Indonesia Ratna Dewi Antarina, S.E., M.Sc., MBA. dan Tokoh Pendidikan Non-Formal Dr. Yessy Gusman, S.H., M.B.A., serta dimoderatori oleh Dr. Lidwina Sri Ardiasih, S.Pd., M.Ed.

Narasumber pertama Prof. Nunuk memaparkan bahwa dalam menghadapi revolusi industri 4.0, para guru dan peserta didik dituntut untuk lincah, fleksibel, mampu beradaptasi, kreatif, berkarakter dan mampu memecahkan masalah. Keberhasilan program Merdeka Belajar ditunjukkan dengan angka partisipasi yang tinggi, hasil belajar berkualitas dan distribusi pendidikan yang merata.

Narasumber kedua Prof. Unifah menyampaikan bahwa berbagai faktor mempengaruhi perubahan pola pendidikan di Indonesia. Dalam menghadapi gawat darurat pendidikan yaitu dengan penguatan mutu pendidikan. Mutu Pendidikan ditentukan oleh implementasi kebijakan program yang konsisten dan kapasitas pembelajaran sepanjang hayat melalui penguatan literasi dasar dan digital. Menurut Prof. Nunuk, menuju masa depan Indonesia maju diperlukan empat pilar kebijakan pendidikan yaitu manusia Indonesia yang produktif, pendidikan dasar yang adil dan merata, pendidikan vokasi dan profesi yang relevan, dan pendidikan tinggi yang unggul.

Narasumber ketiga Ibu Antarina mengutip ucapan dari Ki Hajar Dewantara “Pendidikan harus mampu memerdekakan manusia, yakni mendidik manusia agar mampu berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain dan dapat mengatur dirinya sendiri”, Ibu Antarina menuturkan bahwa kutipan tersebut tercermin pada program Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah. Ibu Antarina memaparkan bahwa guru perlu membekali para peserta didik untuk menjadi individu yang mandiri. Menuju kelas masa depan diidentifikasi bahwa 8 aspek yang muncul dalam Pendidikan K-12 (Pendidikan dari taman kanak-kanak hingga menengah atas) yaitu tanggung jawab digital, pemikiran komputasi, kelas kolaborasi, inovasi pedagogi, persiapan kemampuan hidup dan menjadi pekerja, pembelajaran yang dipimpin siswa, menghubungkan wali dan sekolah, serta teknologi baru. Ibu Antarina menekankan bahwa literasi digital menjadi penting dalam memecahkan masalah dengan melihat dari pola konsumsi produk digital, kreasi digital hingga berinovasi.

Narasumber keempat Dr. Yessy menyampaikan bahwa 4 faktor penting dalam penerapan literasi digital yaitu terampil dalam penggunaan informasi dan teknologi, menyesuaikan budaya yang ada, mementingkan keamanan diri dan data pribadi, serta memerhatikan kaidah etika. Dalam merdeka belajar diperlukan literasi digital sehingga para peserta didik dapat memanfaatkan sumber dan proses pembelajaran yang lebih luas dengan beragam pilihan.

Setelah sesi pleno, dilanjutkan dengan pemaparan artikel ilmiah oleh pemakalah pada sesi paralel yang dibagi ke dalam delapan kelas virtual dan dipandu oleh masing-masing moderator, notulis sekaligus host.