KSF 19 Bahas Tema Implementasi Kampus Merdeka untuk Mendukung Pembangunan Indonesia dari Pinggiran

Knowledge Sharing Forum (KSF) yang diselenggarakan pada hari Senin (03/05/2021) memasuki seri ke-19. Tema pada KSF kali ini yaitu “Implementasi Kampus Merdeka untuk Mendukung Pembangunan Indonesia dari Pinggiran.” Acara diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan YouTube UT TV dalam rangka hari pendidikan nasional menghadirkan narasumber yaitu Ketua MPR RI, H. Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A., Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D, Kepala Staf Kepresidenan RI & Ketua Ikatan Alumni UT, Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, S.I.P. yang diwakili oleh Tenaga Ahli Utama Kantor Staff Presiden, Agung Hardjono, M.A., Bupati Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara, Jabes Ezar Gaghana, S.E, M.E dan sebagai moderator Kepala PPHIK-LPPM UT,  Dr. Sri Sediyaningsih, M.Si. atau yang akrab disapa dengan Dian Budiargo.

Acara dibuka oleh sambutan Rektor UT, Prof. Ojat Darojat M.Bus, Ph.D. Beliau menyampaikan bahwa UT sudah mengabdi lebih dari 36 tahun untuk merealisasikan misi pemerintah dalam tiga hal yaitu, pertama pemerataan akses perguruan tinggi bagi seluruh warga masyarakat, kedua memberikan kesempatan kepada warga masyarakat yang sudah bekerja yang ingin meningkatkan kompetensi dan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi, serta yang ketiga meningkatkan daya tampung perguruan tinggi negeri khususnya bagi lulusan SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Pada saat ini UT telah melakukan berbagai terobosan diantaranya terkait manajemen internal dan peningkatan layanan mahasiswa. Dalam rencana ke depan UT sedang mempersiapkan diri menjadi PTN BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) supaya otonomi bisa lebih luas dan semakin gesit di dalam menghadapi perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Di samping itu UT juga telah menyiapkan kerangka dasar sebagai “digital learning” ekosistem nasional sehingga ketika UT berubah menjadi PTN BH, telah di dukung dengan sistem informasi yang kuat dan layanan kepada masyarakat akan semakin baik lagi.

Selanjutnya, H. Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A. berharap peringatan hari pendidikan nasional sebagai momentum untuk membangun komitmen dalam mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi. Dengan tema besar serentak bergerak wujudkan merdeka belajar, ada pesan penting bahwa tanggung jawab memajukan pendidikan nasional yang merata dan mewujudkan akses pendidikan seluas-luasnya bagi rakyat tentu membutuhkan dukungan, kerja sama dan kerja bersama dari seluruh elemen bangsa. Merujuk pada tema webinar pada hari ini, pemaknaan pada kampus merdeka menegaskan konsepsi bahwa pada hakikatnya proses pembelajaran di perguruan tinggi harus terbebas dari segala bentuk keterbatasan akses. Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan jaman, pendidikan di kampus tidak seharusnya terkekang oleh ruang dan waktu sehingga dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. “Dalam kaitan ini saya sangat mengapresiasi Universitas Terbuka (UT) yang telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 312 ribu dan telah melahirkan 1,8 juta alumni,” ujarnya. Beliau menambahkan, “Sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh pertama di Indonesia, UT secara konsisten memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat dari segala lapisan baik di perkotaan maupun di pedesaan bahkan hingga warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.”

Dalam paparan yang disampaikan oleh Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D, tantangan Indonesia yang disampaikan oleh banyak pakar yaitu tentang kemungkinan perkembangan Indonesia yang berpeluang menjadi kekuatan ekonomi ketujuh dunia dalam sepuluh tahun ke depan. Seiring dengan abad ke 21 dimana ekonomi dunia berpusat di Asia, lebih dari 50% perdagangan dunia ada di Asia. Ini merupakan peluang besar bagi Indonesia menjadi negara yang maju, makmur dan sejahtera. Tantangan global yang kita hadapi yaitu untuk mewujudkan 17 Sustainable Development Goals, sedangkan dari dalam negeri demokratisasi bergerak dengan sangat cepat sementara pendidikan masyarakat masih rendah. Selain itu, terjadinya transformasi sosial yang luar biasa dimana hoaks sering bermunculan sehingga masyarakat bingung membedakan antara fakta dan hoaks yang datang dengan sangat intens. Belum lagi kesenjangan, kemiskinan, pemenuhan kesehatan, capaian pendidikan yang masih rendah menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dimana perguruan tinggi harus menjadi mata air bagi pembangunan bangsa agar masyarakat tercerahkan di tengah gegar budaya, gegar transformasi sosial, media sosial dan komunikasi yang sangat intens saat ini.

Agung Hardjono M.A. mengapresiasi UT yang membangun pendidikan dari pinggiran. Lebih dari 36 tahun UT membuka akses masyarakat untuk kuliah secara fleksibel dan terjangkau di hampir seluruh penjuru Indonesia. Selain itu, UT telah lebih dulu siap dengan model pembelajaran jarak jauh yang kini menjadi tren selama masa Covid-19 menjadi jawaban bagi pengembangan pendidikan e-learning berteknologi. Hal ini menjadikan UT sebagai contoh kesiapan perguruan tinggi unggul yang ikut menyukseskan visi Indonesia maju dengan memberikan sistem pendidikan yang adil, bernilai kebangsaan, demokratis dan merata sampai pinggiran Indonesia. UT juga merupakan citra kampus merdeka – merdeka belajar sebenarnya karena UT mengoptimalkan misi pendidikan tanpa batas dengan memiliki 312 ribu mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia. Merdeka belajar melalui UT dirasakan manfaatnya berdasarkan experimental learning process, yaitu mahasiswa tidak berada dalam ruang sempit namun berada langsung di ruang terbuka yang bersentuhan dengan masyarakat dan dinamika pinggiran Indonesia. “UT menjadi jawaban permasalahan pendidikan di daerah pinggiran karena mahasiswa dapat merdeka dalam mengembangkan karya tanpa meninggalkan tugas utamanya dalam pengabdian bagi negara dan keluarga,” tuturnya.

Sebagai masyarakat yang tinggal di perbatasan, Jabes Ezar Gaghana, S.E, M.E mempunyai kebanggaan atas tema yang menjadi perhatian utama pada KSF ke-19 ini khususnya dari bidang pendidikan. Kabupaten Kepulauan Sangihe mempunyai 105 pulau, 79 tidak berpenghuni dan 26 berpenghuni yang berbatasan langsung dengan Negara Filipina. Di wilayah ini terdapat mahasiswa UT. IPM (Indeks Pembangunan Mahasiswa) di Kabupaten Kepulauan Sangihe mengalami peningkatan yaitu 70,73%. Beberapa potensi yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu sektor perikanan, pertanian dan pariwisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu pariwisata andalan Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah under water volcano yang merupakan satu-satunya di ASEAN. Di dalam dunia pendidikan, Jabes Ezar Gaghana, S.E, M.E mengusung strategi utama yang dibangun dalam Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu penguatan kapasitas SDM dan optimalisasi pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) untuk pemulihan ekonomi daerah.

Sebagai penutup Wakil Rektor Bidang Pengembangan Institusi dan Kerja Sama UT, Rahmat Budiman, S.S., M. Hum., Ph.D. mengapresiasi narasumber serta perguruan tinggi lain yang telah berpartisipasi pada KSF ini.