Jalan Panjang Abdul, Si Humanis yang Selalu Optimis

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Abdul Latief Miraj, Mahasiswa UT(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Hadist tersebut coba diterapkan Abdul Latief Miraj dalam kehidupan sehari-harinya. Abdul, begitu sapaannya, merupakan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) semester 8 jurusan Perencanaan Wilayah Kota (PWK). Sudah sekitar 4 tahun ia mengelola bimbingan belajar tingkat SD di rumahnya, daerah Solokan Jeruk Kab. Bandung. Keprihatinan melihat anak-anak usia sekolah yang masih belum mahir membaca dan menulis menjadi alasan utama berjalannya kegiatan bimbingan belajar tersebut. Gayung bersambut, atensi anak-anak di daerahnya pun cukup besar. Pada tahun pertama, tak kurang 180 anak bergabung dalam kegiatan bimbingan belajarnya. Melihat fenomena tersebut Abdul mengajak rekan-rekannya untuk membantu menjadi relawan dalam kegiatan bimbingan belajar yang diberi nama KBI (Komunitas Berbagi Ilmu).

Selain aktif dalam kegiatan pembimbingan anak-anak, mahasiswa yang hobi membaca dan menonton drama Korea tersebut juga aktif dalam LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dalam pengelolaan lingkungan. Abdul aktif terjun langsung dalam kegiatan-kegiatan LSM tersebut, seperti pada 2015, saat ia melakukan pendampingan terhadap masyarakat, menuntut sebuah perusahaan yang bermasalah di lingkungannya.

Selain kegiatan-kegiatan sosial yang disebut sebelum ini, Abdul juga bekerja sebagai operator di rental fotokopi. Abdul juga mengaku sempat bekerja di pabrik tekstil. Namun, dalam segala keterbatasan (baik dari segi waktu maupun materi), semangat Abdul untuk melanjutkan kuliah masih “menyala-nyala”. Di tengah kesibukannya, Abdul selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya, yakni membaca. Dari kegemarannya membaca tersebut, ia mendapatkan informasi tentang UT. Perkenalannya dengan UT, seakan membangkitkan kembali mimpinya yang telah terkubur untuk merasakan proses belajar di bangku kuliah. UT memberinya harapan sekaligus solusi. Harapan untuk masa depan yang lebih cerah, dan solusi untuk tetap bisa berkuliah di tengah kesibukannya yang lain. Pada masa registrasi 2013.1/2013.2 resmi sudah anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut menjadi mahasiswa UT, melalui jalur beasiswa Bidik Misi.

Dibutuhkan adaptasi yang tidak mudah baginya untuk langsung tune-in dengan dunia perkuliahan. Tahun pertama belajar di UT masih dirasakan ada kesulitan dalam mencari pola belajar. Ditambah dalam program studi PWK tersebut ada mata kuliah praktik berupa studio, yang mengharuskannya terjun langsung ke lapangan mencari data untuk kemudian dianalisis dan dibuat laporannya. Hal tersebut mungkin dirasa hal yang wajar bagi mahasiswa. Namun, tidak bagi Abdul. Baginya, hal tersebut merupakan hal baru yang membutuhkan energi lebih untuk melewatinya. Belajar dari pengalaman, semester berikutnya Abdul memilah-milah strategi belajar yang dirasanya cukup tepat untuk mengakomodasi semua kepentingannya. Salah satu strategi yang diterapkannya adalah mencuri start dalam belajar. Sebelum masuk semester baru, penggemar anime ini sudah membaca dan mendalami materi dari bahan ajar yang ia miliki. Ruang baca virtual di website UT, sebagai teman setianya, ditambah lagi perkembangan bahan ajar digital UT yang sangat membantu mahasiswa.

Perkembangan UT terutama dalam hal penggunaan teknologi pembelajaran, membuat lajang yang kerap menggunakan sepeda mini dalam beraktivitas ini terkesima. “Mahasiswa UT benar-benar dimudahkan dengan berbagai macam layanan yang diberikan, hampir semua berbasis online.”, demikian dia menjelaskan. Ketika ditanya tentang trik-trik belajar di UT, dengan sigap dia menjawab, “Belajar itu laksana perahu melawan arus, bila kita tidak maju, berarti kita mundur. UT adalah perahu, alat bantu melawan arus”. Dengan kemauan belajar yang tinggi Abdul mampu melalui semester demi semester mengikuti proses belajar di UT dengan baik dan tanpa hambatan berarti.

Kini, Abdul Latief sedang menunggu proses yudisium setelah semester akhir di Universitas Terbuka ditempuh dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan. Siapa yang menyangka, pegawai rental fotokopi, yang juga buruh pabrik tekstil kini sedang dalam proses menuju gelar sarjana di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dari kisahnya, kita semua dapat belajar bahwa hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Kembali lagi pada hadist di awal tulisan, dengan selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain, salah satu jalan hidup Abdul Latief Miraj, untuk menyelesaikan studinya di tingkat universitas dilancarkan oleh Allah SWT. Sukses terus Abdul Latief, Si Humanis yang Selalu Optimis! (Dewi Priamsari)

Share This Post