Profil Pimpinan

Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D.

Universitas Terbuka Adalah Pintu Menuju Sukses

Keuletan dan kegigihannya dalam memajukan Universitas Terbuka dan pendidikan jarak jauh menjadikannya sebagai wanita Asia pertama yang terpilih sebagai Presiden suatu organisasi internasional Pendidikan Jarak Jauh – the International Council for Open and Disstance Education (ICDE) Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed, Ph.D. atau Tian, begitu sapaan wanita bertubuh mungil sudah menjadi Professor diusianya yang sangat belia. Wanita kelahiran Sukabumi, 1 April 1962 ini merintis karirnya di UT sejak tahun 1985. Ketika itu, Tian lulus dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan ditawari membantu UT langsung Rektor UT saat itu, yaitu Bapak Setijadi. Walaupun pada awalnya hanya ingin bekerja di UT untuk sementara, namun akhirnya Tian mendedikasikan waktu dan karirnya untuk mengabdi di UT hingga sekarang. Ketetapan untuk tetap bekerja di UT dipicu oleh tawaran untuk melanjutkan kuliah S2 di Simon Fraser University, Kanada. Seiring dengan segudang prestasi yang telah dicapainya maka Tian semakin memantapkan kiprahnya di UT sampai sekarang.

Tidak hanya berprestasi di dunia pendidikan Indonesia tapi juga kiprahnya di dunia Internasional tidak diragukan lagi. Pada pertemuan di Oslo, Norwegia tanggal 29 Februari 2012, Tian terpilih secara aklamasi menjadi Presiden ICDE periode 2012 – 2015. Presiden suatu lembaga Internasional Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh atau International Council for Open and Distance Education (ICDE). Sebelumnya Tian telah sukses memimpin Asian Association of Open Universities (AAOU) sebagai Presiden pada tahun 2009 hingga 2010. Hingga kini pun Tian masih aktif sebagai anggota Executive Board AAOU. Pengakuan dunia terhadap dirinya mengangkat nama Universitas Terbuka sebagai salah satu Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh terbaik di Indonesia maupun di dunia.

Di tengah kesibukannya yang sangat padat, Tian selalu menyempatkan diri untuk menonton film karena menurutnya kegiatan ini merupakan kegiatan kebersamaan yang sama-sama digemari oleh suami dan anaknya. Selain itu, Tian merasa bahwa film dapat membawanya ke dunia lain yang berbeda dan seperti berlibur tanpa harus kemana-mana.

Harapannya untuk UT adalah ingin agar UT pada masa yang akan datang menjadi perguruan tinggi yang terdepan dalam hal pemberian akses pendidikan tinggi berkualitas di Indonesia. Nama UT akan menjadi nama pertama yang muncul di setiap benak orang Indonesia ‘dewasa’ yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi ataupun ke program pendidikan berkelanjutan. Di mata para pakar, pemerhati, dan praktisi pendidikan, UT akan menjadi rujukan utama dalam hal penyelenggaraan pendidikan tinggi jarak jauh, baik melalui penggunaan teknologi tercetak, terekam, tersiar, maupun teknologi komunikasi dan informasi terkini. Nama UT akan menjadi nama pertama yang muncul di setiap benak para pakar, pemerhati, maupun praktisi setiap kali mereka membutuhkan informasi, klarifikasi, konfirmasi, ataupun validasi tentang sistem penyelenggaraan pendidikan tinggi jarak jauh di Indonesia. Melihat perkembangan di dunia pendidikan dan juga teknologi Tian yang sangat fokus dalam bidang ICT ini, berharap segala sesuatu tentang UT dapat dilihat atau dapat di tangkap oleh semua orang di seluruh pelosok negeri dengan hanya melihat website UT.

Dr. Yuni Tri Hewindati

Untuk menjadi profesional, tidak cukup hanya melalui pelatihan

Sebagai Pembantu Rektor I Universitas Terbuka (UT), Dr Yuni Tri Hewindati, termasuk sosok energik dan disiplin. Ia tercatat sebagai karyawan UT sejak tahun 1985 dan menjadi pegawai negeri sipil tahun 1986. Kiprahnya di UT saat itu, diakuinya masih dalam taraf meraba-raba. Artinya, ia belum paham betul mengenai konsep pendidikan jarak jauh dan sistem belajarnya. Hingga akhirnya, setelah ia dan institusi yang dicintainya ini menata diri, akhirnya mulai dipahamilah konsep tersebut. Menurutnya, saat ini UT sudah sangat bagus dan ia menyukai tantangan yang ada UT ini. Perkembangan UT pun diikutinya secara baik hingga akhirnya ia dipercaya mengelola Program Studi Biologi, Pembantu Dekan I, dan Dekan pada FMIPA UT.

Disinggung mengenai prestasi yang pernah dicapai oleh pimpinan UT sebelumnya, perempuan yang menyukai aktivitas travelling ini menyatakan bahwa, semua ada eranya. “Dulu, ketika Pak Setijadi memimpin UT, beliau mampu memberikan sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada, yaitu UT itu sendiri. Beliau termasuk sosok yang berani dalam mengambil resiko. Dan beliau cocok di situ”, katanya. Selain pendiri UT tersebut, Dr Yuni Tri Hewindati pun mengakui bahwa Prof Dr Atwi Suparman, M. Sc, mantan Rektor UT di era 2001 hingga 2009, pun memberikan kontribusi luar biasa. Baginya, Prof Dr Atwi Suparman, M. Sc merupakan sosok yang ahli di bidang manajerial. “Teknik pengelolaannya sangat bagus. Coba lihat saja memo-memo beliau. Ada banyak hal luar biasa yang bisa kita pelajari dari memo-memo tersebut”, imbuhnya.

Dalam hal UPBJJ-UT, capaian yang saat ini mulai dirasakan adalah sudah hampir seluruh Kantor UPBJJ-UT menempati gedungnya sendiri. Ia mengakui bahwa beban kerja di UPBJJ-UT sangat banyak, sehingga perlu upaya untuk menata diri secara lebih baik, sehingga akan tercapai kualitas kerja yang baik pula. Dalam pelaksanaannya, UT Pusat pun tetap akan melakukan kontrol kualitas terhadap seluruh program kerja yang ada di UPBJJ-UT. Sudah ada rambu-rambu kontrol dari UT Pusat yang harus dipatuhi oleh UPBJJ-UT. Di samping itu, ia mengakui bahwa seluruh Kepala UPBJJ-UT sudah bekerja profesional karena sudah semakin mengetahui sistem kerja di UT. Semua itu diperoleh karena adanya proses belajar, utamanya dalam hal networking, upaya peningkatan angka partisipasi mahasiswa, dan model kerja sama yang dijalankan.

Begitu juga halnya dengan fasilitas, yang akan terus ditingkatkan hingga tahun 2012. Ia pun berharap, setelah semua fasilitas terpenuhi dan baik adanya, seluruh komponen UT harus bekerja secara giat dan profesional. Untuk mewujudkannya, diperlukan sumber daya manusia handal, karena mayoritas kesalahan yang terjadi disebabkan oleh faktor manusia. “Untuk itu, seluruh potensi yang ada di UT harus berupaya menjadi insan profesional. Dan di era Ibu Tian ini (Prof Ir Tian Belawati, Ph D, Rektor UT saat ini), beliau sangat concern dengan masalah kualitas”, paparnya.

Untuk menggapai cita-cita dalam hal kualitas tersebut, menurut Pembantu Rektor I yang dikenal oleh rekan-rekannya sebagai pendengar yang baik ini, perlu ada kemauan pada diri sendiri. Selain itu untuk memenuhi standar kerja yang ada, hal tersebut juga sangat penting agar pretasi yang didasari oleh kemauan tersebut dapat menjadi contoh bagi orang lain. Dan baginya, proses untuk mencapai predikat teladan tersebut tidak cukup hanya melalui aktivitas pelatihan-pelatihan semata. Selain kemauan, perlu juga kemampuan. Kemampuan menjadi sangat penting karena hal ini terkait dengan individu seseorang. Dan yang terakhir, yaitu setelah kemauan dan kemampuan, hal lain yang tidak kalah penting adalah masalah kedisiplinan. “Biarpun seseorang itu hadir dan ada pada saat jam kerja, tapi tidak melakukan apa-apa, yang belum bisa dikatakan berkarya. Tapi coba lihat, saat ini para kepala unit sudah menata dan mendistribusikan pekerjaan unitnya dengan baik. Semua pekerjaan dibagi secara merata, sehingga tidak ada karyawan yang diam saja”, katanya.

Disinggung mengenai rencana UT dalam beberapa tahun ke depan, ia menyatakan bahwa meskipun saat ini FKIP mempunyai jumlah mahasiswa terbanyak, ia meyakini bahwa semua fakultas yang ada di UT akan berupaya mempertahankan prestasi dalam hal jumlah dan sebaran mahasiswa. Dr Yuni Tri Hewindati pun berharap ada satu upaya khusus yang diharapkan dapat mengubah image masyarakat yang saat ini baru sebatas mengetahui UT sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengkhususkan diri bagi kalangan pendidik atau guru. Meskipun demikian, tanpa meninggalkan program studi yang selama ini sudah ada, ia pun akan mengikuti kerangka berpikir Rektor UT saat ini, yang akan meningkatkan jenis Program Studi lainnya berdasarkan permintaan masyarakat dengan menyesuaikan tuntutan perkembangan yang terjadi dan sejalan dengan kebijakan pemerintah. “Kita harus semakin cerdas dan cermat dalam menentukan tren tersebut, meskipun jumlah guru pensiun pada beberapa tahun mendatang juga sangat besar”, ujar ibu tiga anak ini, yaitu (1) Manda Parikesit (25 tahun) alumni Monash University yang saat ini bekerja di Phillip Morris, (2) Nadya Puspawardani (23 tahun) kuliah di Malaysia, dan ketiga (13 tahun) Melia Dilasari (13) kelas 8 di SMP Al Ikhlas Cipete Jakarta Selatan.

Isteri Tri Adi Abimanyu yang merupakan wirausahawan sukses di bidang jasa yang juga alumni UT tahun 1990 ini menambahkan, saat ini kualitas bahan ajar cetak UT sudah sangat baik utamanya dalam hal substansi dan perwajahan. Saat ini yang perlu dipikirkan adalah cara kita mempertahankan dan meningkatkannya. Selain bahan ajar cetak, ada juga bahan ajar noncetak yang perannya sama dengan bahan ajar cetak. Semua bahan ajar tersebut harus diproduksi secara baik sesuai dengan kebutuhan. Disinggung mengenai perlunya studio alam dalam pengelolaan dan pemrosesan bahan ajar noncetak, ia menyatakan bahwa hal itu untuk saat ini belum perlu. “Kita sudah punya danau di belakang, dan di sekitar danau itu akan segera dibangun sebuah hutan mini yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bermacam-macam, termasuk produksi bahan ajar noncetak. Tapi, kalau proses produksinya harus dilakukan di luar UT, ya....silakan saja karena memang tuntutannya demikian. Sebagai contoh, kalau harus ada penggalan cerita atau gambar mengenai aktivitas di sebuah pabrik, tentu tim P2M2 akan berupaya mendapatkannya di lokasi pabrik tersebut, bukan?”, lanjutnya.

Terkait dengan kesiapan UT sebagai BHP, ia menyatakan bahwa badan usaha yang dapat menjadi unggulan UT adalah bahan ajar cetak karena UT sudah sangat baik dalam proses dan pengelolaan produksinya. Dan yang perlu diingat, dalam proses ini faktor kualitas harus sangat diperhatikan. Artinya, apabila UT akan menjual barang yang kualitasnya tidak baik, tentu hal tersebut akan menurunkan citra UT di masyarakat. Untuk menjaga kualitas tersebut, UT sudah berupaya mengirimkan stafnya ke berbagai ajang dan pelatihan, baik yang diselenggarakan di dalam maupun luar negeri.

Dra. Dewi A.Padmo Putri, M.A., Ph.D

Sosok Pembantu Rektor II Universitas Terbuka (UT) yang tegas dan mandiri ini menempuh perjalanan karir di UT mulai tahun 1987 sebagai dosen FKIP-UT, kemudian lanjut studi ke jenjang S2 di Concordia University – Montreal – Canada dan memperoleh gelar Master of Arts pada tahun 1991. Latar belakang pendidikan S1 dan S2 dalam bidang teknologi pendidikan, membuatnya mudah mempelajari desain instruksional untuk bahan-bahan pendidikan jarak jauh. Latar belakang pendidikan inilah yang mempermudah Dewi menjalankan tugasnya sebagai Kepala Pusat Produksi Multi Media – UT pada tahun 1991 - 1998.

Selepas dari kesibukannya di Pusat Produksi Multi Media, Dewi memperoleh kesempatan sebagai Asisten Pembantu Rektor Bidang akademik pada tahun 1998, hingga kemudian ditugaskan sebagai Ketua Lembaga Penelitian pada tahun 2005. Tidak lama bertugas di Lembaga Penelitian, Wanita penggemar bakso dan bubur ayam ini ditugaskan sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Bahan Ajar, Ujian, dan Sistem Informasi yang merupakan lembaga baru di lingkungan UT. Tugas yang diembannya pada Lembaga ini harus dilepaskannya pada tahun 2008 karena Dewi melanjutkan studinya ke jenjang S3 di Florida State University – Florida - Amerika Serikat.

Sekembalinya ke tanah air pada pertengahan tahun 2012 dan kembali ke UT, Dewi ditugaskan oleh Rektor UT sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Dewi mengatakan bahwa tugasnya di LPPM UT merupakan tugas yang menantang. Kegiatan Penelitian sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi perlu dilakukan sehingga UT mampu menyumbangkan hasil-hasil penelitian baik yang bersifat keilmuan, penelitian kelembagaan, maupun penelitian pengembangan strategis institusi.

Belum lama menjabat sebagai Ketua LPPM dikarenakan kepiawaiannya Dewi pun dipromosikan naik jabatan menjadi Pembantu Rektor II pada 7 Januari 2014. Dewi mengemukakan Universitas Terbuka harus menjadi universitas rujukan utama dalam penyelenggara pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh di tanah air.
 

Dr. Aminudin Zuhairi, M.Ed.

Tenang dan Disiplin dalam Bekerja

Sosok berpenampilan tenang dari Dr. Aminudin Zuhairi, M.Ed. telah membawanya menjadi salah satu putra terbaik UT sebagai Pembantu Rektor III yang membidangi kemahasiswaan dan Alumni sejak tahun 2011. Pria yang menyukai film dokumenter yang bertemakan kehidupan dan perjalanan wisata ini bertekad untuk terus memperbaiki kebijakan dan kualitas sistem dan prosedur layanan mahasiswa UT sesuai amanat dalam Rencana Strategis dan Rencana Operasional UT 2010-2021.

Kiprah Pria yang berulang tahun 27 November ini di UT sejak 1985 dan selanjutnya pernah berkarier sebagai Asisten Rektor, Kepala PUSMINTAS, dan Ketua LPBAUSI. Pa Amin, beigitu beliau akrab di panggil, selalu disibukkan dengan berbagai upaya dan kegiatan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas UT dalam bidang pelayanan dan kegiatan akademik kemahasiswaan. Di tengah-tengah kesibukannya, sekali waktu masih disempatkan oleh untuk berolah raga dan berjalan kaki.

Bapak dari Fawzi Rahmadiyan dan Annisa Rahmadiyani ini juga menekankan bahwa orang hidup itu harus tulus ikhlas, dan bekerja sebaik mungkin dan hati-hati jangan sampai salah karena kesalahan sekecil apapun akan dapat berakibat fatal. Bekerja dengan baik dalam tim dan dengan siapa saja itulah yang juga selalu diterapkan oleh pria kelahiran Salatiga, 49 tahun silam ini. Suami dari Isthi Rokhiyah yang menghabiskan lebih banyak waktunya dengan bekerja menyatakan kesediaannya untuk ditemui kapan saja di kantornya baik oleh mahasiswa maupun koleganya.

Menurut Bapak penyuka semua warna itu mahasiswa jarak jauh harus disiplin dalam upaya belajar terutama dalam belajar mandiri dan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Diutarakan pula oleh Doktor dalam bidang Higher and Adult Education itu bahwa UT juga telah memberikan bantuan layanan belajar kepada mahasiswa yang mendorong dan memfasilitasi proses belajar mahasiswa sehingga mahasiswa diharapkan akan dapat meningkatkan kompetensinya menjadi semakin baik.

Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A.

”Tahlukkan dan surgakan hidup”

Demikian motto yang selalu dipegang oleh Pembantu Rektor IV Universitas Terbuka terpilih untuk periode Tahun 2011 – 2015, yaitu Dr. Mohamad Yunus, S.S., M.A. yang di biasa di panggil Bapak Yunus.

Pria supel ini lahir di Cirebon bertepatan dengan hari pahlawan yaitu pada tanggal 10 November 1965. Menikah dengan Dra. Uun Turjanah dan dikaruni tiga orang putera puteri yang cerdas. Putera sulungnya M. Fajar Haqi Ismaya, puteri keduanya Lulu AuliaRahmani, dan puteri bungsunya Nayla Faras Noor Izzati.

Gelar Sarjananya diraih dari Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indoneesia (UI) pada tahun 1988. Tahun 1995, gelar master diperolehnya dari Ohio State University (Columbus, Ohio) dalam Primary Education Program. Sementara itu, gelar Doktor diraihnya dari Program Studi Pengembangaan Kurikulum pada Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, tahun 2009.

Karier sebagai dosen Universitas Terbuka dirintisnya sejak tahun 1989. Selain sebagai dosen, Dr. Mohamad Yunus juga pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan II, III, dan I FKIP-UT dalam kurun waktu antara 1998 – 2005. Tak lama setelah menyelesaikan S3-nya, tugas sebagai Kepala UPBJJ-UT Bogor pun disandangnya sejak Desember 2009. Sekitar Juli 2011, beliau ditarik kembali ke UT Pusat untuk diamanahi sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Bahan Ajar, Ujian, dan Sistem Informasi (LPBAUSI). Enam bulan kemudian, yakni Desember 2011, tugas sebagai Pembantu Rektor IV (Bidang Kerja Sama dan Penguatan Institusi) tersampir di pundaknya.

Pria yang memiliki hoby menikmati dan memasak kuliner tradisional ini mempunyai kesan yang mendalam selama bekerja di UT. Dalam pandangannya UT merupakan lembaga pendidikan yang unik sekaligus asyik. Unik karena banyak tantangan dan ruang berkreasi. Asyik karena kendati sebagai instansi negeri, hubungan antarpersonal, termasuk antarstaf dengan pimpinan atau sebaliknya, sangat cair, hangat dan kekeluargaan. Kesejahteraan pegawai pun mendapat perhatian luar biasa. Dan tak kalah pentingnya ialah, keberanian yang luar biasa dari para pimpinan UT untuk memberikan kepercayaan dan ruang gerak yang leluasa bagi pegawainya untuk melakukan inovasi dan terobosan, sekaligus membangun kaderisasi yang kuat.

Dalam amatannya, UT adalah perguruan tinggi besar dengan jumlah mahasiswa yang besar, serta ragam dan sebaran mahasiswa yang besar. Keunggulan layanan berbasis IT, kesanggupan melakukan perbaikan yang terus-menerus, serta orientasi layanan yang mengutamakan kepentingan atau kepuasan pengguna merupakan sesuatu yang harus selalu diupayakan, disempurnakan dan diwujudkan.

Dekan FEKON UT Muzammil

Drs. Moh. Muzammil, M.M

Pria kelahiran Madiun 17 September 1961 ini menjalani kehidupannya mengalir begitu saja. “Tugas manusia hanya berdoa dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Hasil akhirnya bukan ranah manusia lagi, melainkan domain Tuhan”. Begitulah prinsip hidup Moh. Muzammil yang kerap dipanggil Muzammil atau Jamil ini. Sebelum menjabat sebagai Dekan FEKON, ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Manajemen, Ketua Jurusan Manajemen dan Pembantu Dekan III FEKON.

Pria yang hobinya travelling dan membaca ini memegang teguh motto hidupnya, yaitu migunani tumraping liyan, yang artinya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini kita harus bermanfaat bagi sesama. Setiap orang akan menuai apa yang dia perbuat.

Ia sangat menginginkan UT ke depan sustainable, terus tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu ia mengharapkan UT harus terus-menerus adaptif terhadap perubahan, selalu melakukan creating value untuk pelanggannya. Untuk mencapai itu semua, tidak ada cara lain kecuali semua SDM UT harus menjadi manusia-manusia pembelajar. Itu lah harapan ia untuk UT ke depan.

Prof. Daryono, S.H., M.A., Ph.D.

Education is liberation. Education without freedom is tyranny but freedom without education is catastrophe. To educate people is to liberate them from inequality, poverty and isolation.

Pemikiran tersebut memberikan inspirasi untuk tetap berkarir di dunia pendidikan yang telah digelutinya sejak tahun 1988 di Universitas Terbuka.

Lahir di Magetan, 22 Juli 1964. Anak ke-3 dari 4 bersaudara ini dibesarkan di lingkungan keluarga TNI. Masa kecil dan remajanya berlangsung di pangkalan Angkatan Udara Maospati. Kebiasaan-kebiasaan hidup dalam keluarga militer begitu berbekas sehingga saat lulus dari Perguruang Tinggi, tepatnya Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) di Semarang, masih terbersit keinginan untuk mengikuti wajib militer seusai pendidikan strata satunya.

Bertemu dengan pasangan hidupnya di fakultas tersebut. Selanjutnya hubungan mereka di"inagurasi"kan pada Oktober 1989. Dari pernikahan itu lahir seorang putri pada tahun 1990, kini sedang menempuh pendidikan di universitas serta seorang putra pada tahun 1993 yang saat ini duduk di tingkat akhir SMA. Sejak mengenal pasangan hidupya, dan juga karena pengalaman selama studi lanjutnya, dunia pendidikan mulai menarik perhatiannya.

Setelah bergabung di Universitas Terbuka tahun 1988, pada tahun 1992-1994 memperoloeh kesempatan untuk mengikuti studi lanjut di Faculty of Graduate Studies, University of Victoria dengan beasiswa dari The Canadian International Development Agency (CIDA) dan memperoleh Master of Arts di bidang psikologi pendidikan. Sekembali dari studi, mendapatkan beberapa penugasan di antaranya editor Jurnal Studi Indonesia, sekretaris jurusan Sosiologi FISIP UT dan ketua Pusat Penelitian Kelembagaan.

Pada tahun 2002-2007 dengan beasiswa dari The Australian Development Scholarship (ADS) melanjutkan studi doktoral dan memperoleh PhD di bidang law and development dari Faculty of Law, The Australian National University (ANU) Canberra, Australia. Selama di Canberra, Australia, menjadi pengajar tidak tetap di Australian Defense Force Academy (ADFA) dan di Faculty of Art ANU. Pada tahun 2008-2009 mendapatkan post-doctoral fellowship dari Faculty of Law, National University of Singapore (NUS) untuk penyelesaian dan publikasi thesis. Pengalaman selama studi tersebut menambah keteguhan untuk menjadi pendidik yang nota bene adalah aktor penting dalam menciptakan tatanan kehidupan yang lebih bermartabat (civilized society).

Drs. Udan Kusmawan, M.A., Ph.D.

Ketika pintu kebahagiaan tertutup, banyak pintu lain terbuka, tetapi seringkali kita menatap pintu yang telah tertutup itu terlalu lama, sehingga sulit melihat pintu lain yang sesungguhnya telah dibukakan Alloh SWT untuk kita. (Dr. ‘Aidh Al-Qarni)

Pepatah tersebut selalu menginspirasi aktivitas dan langkah hidupnya sehingga terus semangat untuk berkarya dan berbuat sesuatu untuk Universitas Terbuka (UT) yang telah dijalaninya sejak tahun 1993.

Lahir di Sumedang, Jawa Barat, 05 April 1969, dan melalui masa kecil hingga remaja di Kabupaten Sumedang. Anak ke-8 dari 8 bersaudara dibesarkan di lingkungan keluarga petani yang bersahaja di pedesaan Darmaraja, Sumedang. Pernikahannya dengan Ema Masthuroh dianugrahi dua orang Putra, yaitu Altair Reksawastu Ali dan Fathi Reksawastu Ali.

Dengan dukungan beasiswa salah satu Bank Pemerintah, dilanjutkan dengan beasiswa Ikatan Dinas Pemerintah Indonesia, dan diselingi dengan bekerja sebagai pengajar les prifat dan sales buku salah satu penerbit di Bandung, Pria kelahiran Kota Tahu ini mampu menyelesaikan studi IKIP Bandung (UPI Bandung sekarang) tepat waktu lulus tahun 1993. Studi lanjut pada Jenjang S2 diselesaikan di Iowa University, USA atas biaya Pemerintah Indonesia lulus tahun 1997, dan Jenjang S3 di the University of Newcastle, NSW, Australia atas biaya Pemerintah Australia lulus tahun 2007.

Sebelum bekerja di UT, pria Aslianda (Aseli Anak Sunda) ini pernah bekerja sebagai Guru Matematika di SD dan Fisika di SMP swasta etnis Tionghoa di wilayah Tangerang, kemudian menjadi Guru Kimia SMA swasta di Tangerang. Karir di UT diawali sebagai staf Bank Soal Pusat Pengujian. Seiring waktu dan perkembangan UT, Kang Udan pernah juga bekerja sebagai staf Pusat Penelitian Kelembagaan, sebagai Asisten Rektor merangkap Sekretariat AAOU (Asian Association of Open Universities), dan Asisten Pembantu Rektor bidang kerjasama dan Pengembangan Institusi.

Segenap pengalaman mengajar, studi, penelitian, dan pengabdiannya di UT tersebut telah memupuk kepercayaan Pimpinan dan warga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk memimpin FKIP sebagai Dekan sejak tahun 2013. Tidak banyak yang diinginkannya sebagai Dekan FKIP, kecuali mencoba mengemudikan Armada Besar FKIP ini mengarungi samudera era teknologi dan informatika serta meretaskannya ke segenap civitas guru, tenaga kependidikan, dan para pemerhati pendidikan di seluruh Indonesia dan Asia.

Sri Harijati Dekan FMIPA Dr. Ir. Sri Harijati, M.A.

“Jalani saja kehidupan ini dengan sepenuh hati, jangan sia-siakan waktu, karena kita sudah diberi kesempatan mengisi kehidupan” serta “berupaya tepat waktu”

…. merupakan prinsip hidup yang dianut Sri Harijati yang lahir di Madiun 11 September 1962. Harijati, begitu biasa dipanggil, lahir dari pasangan orangtua yang keduanya berprofesi sebagai “pendidik” yang selalu menjadi panutannya dalam menanamkan kecintaan pada bidang pendidikan.

Ketika bergabung dengan Universitas Terbuka (UT) tahun 1988 tidak terbayang jenis pekerjaan yang akan dilakukan di UT… Namun, semakin lama bekerja di UT serta pengalamannya di tempatkan di berbagai unit di UT antara lain di FMIPA, FISIP, Puslitgasis-LPM, PPM-LPPM, PPs, dan sekarang kembali ke FMIPA, semakin menyadarkannya bahwa bekerja di UT memberinya tantangan yang berbeda. Tidak ada benchmark di Indonesia untuk PTN dengan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh seperti UT; disisi lain, UT dituntut untuk dapat menyelenggarakan proses pembelajaran berkualitas dan menghasilkan lulusan sama atau lebih baik dari perguruan tinggi tatap muka lainnya.

Alumni S1 dan S3 dari Institut Pertanian Bogor serta S2 dari University of Victoria, Victoria, BC, Canada ini berpendapat bahwa UT telah menorehkan kemajuan yang sangat signifikan. Harapannya, kedepan UT harus terus meningkatkan kualitas pembelajarannya, apalagi akan makin banyak perguruan tinggi berlomba-lomba untuk membuka program studi dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh seperti UT. Pelayanan UT juga harus ditingkatkan seiring perkembangan teknologi & informasi, agar masyarakat dengan berbagai kendala dan keterbatasan dapat selalu mengakses pendidikan di UT dan lulus dengan kualitas yang dapat disejajarkan dengan lulusan perguruan tinggi terkemuka lainnya.

Dra. Suciati, M.Sc., Ph.D.

Keterlibatan Bu Suci, demikian panggilan akrabnya, dalam pendidikan jarak jauh dimulai sebagai sekretaris program Belajar Jarak Jauh (BJJ) pada tahun 1982, program pilot project yang dikelola Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan kualifikasi guru melalui program Diploma dengan sistem belajar jarak jauh. Ketika Universitas Terbuka diresmikan pada tahun 1984, ybs. bergabung dengan Universitas Terbuka sampai sekarang.

Kecintaan ybs terhadap pendidikan dimulai ketika menjadi asisten dosen pada Universitas Kristen Satya Wacana, setelah menyelesaikan S1 pada FKSS Bahasa Inggris. Selanjutnya ybs. menyelesaikan program S2 dan S3 di Syracuse University, New York, dalam bidang teknologi pendidikan.

Penugasan sebagai Direktur PPs mulai diemban sejak Oktober 2010, setelah 4 tahun sebelumnya membantu sebagai Asisten Direktur Akademik PPs. Satu hal yang menjadi obsesinya adalah bekerja bersama orang lain, berusaha supaya semakin banyak warganegara Indonesia meningkat kemampuan, wawasan dan kualifikasinya melalui pendidikan yang lebih tinggi, khususnya pascasarjana. Usaha ini diharapkan dapat memberi sumbangan kepada misi untuk menjadikan bangsa Indonesia disegani dalam pergaulan masyarakat global. 

Ir. Kristanti Ambar Puspitasari, M.Ed., Ph.D.

“Bekerjalah dengan hati. Bekerja harus ikhlas dan selalu berusaha berbuat yang terbaik yang kita bisa lakukan, karena bekerja di manapun sama menantangnya dan menyenangkannya asalkan kita jalani dengan ikhlas. Di manapun kita bekerja, asalkan ada keinginan untuk memajukan unit dimana kita ditempatkan, maka semua pekerjaan akan terasa menyenangkan. Sebaliknya, pekerjaan akan dirasakan menjadi beban bila dilakukan dengan berat hati.”

Itulah beberapa kalimat yang menjadi penyemangat Ketua LPPM UT ini. "Ibu Ita" telah menamatkan pendidikan hingga jenjang S3: Doctor of Philosophy in Instructional Systems, di Florida State University, USA. Jenjang S2: Master of Education, Simon Fraser University, Canada, dan S1: Sarjana Pertanian dalam Fitopatologi, di Universitas Gadjah Mada. Ibu yang dianugrahi dua putra ini, memulai karirnya sebagai Staf akademik FMIPA, ditempatkan di Unit Pelayanan Mahasiswa UT 1985-1986. Dalam perjalan karirnya, Ibu Ita beberapa kali dipercaya untuk memimpin unit kerja tertentu, seperti Pusat pengujian dan Pusat Jaminan Kualitas. Setelah menempuh pendidikan dan memiliki banyak pengalaman memimpin, Ibu Ita saat ini kembali mendapat mandat menjadi Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)(SK Rektor No. 7392/UN31/KEP/2014 tgl. 30 Desember 2013) UT 2014.

Menikah dengan Boedhi Oetoyo dan mempunyai 2 anak laki-laki (Herlambang Wisanggeni dan Respati Pakusadewo), Ibu Ita sangat senang jika dapat menghabiskan waktu bersama keluarga. Bisa memasak bersama di rumah, menonton film bersama, ataupun jalan-jalan, itulah aktivitas yang dilakukannya dengan keluarga. Bila sedang sendirian di rumah, Ibu Ita memiliki hobi utama, yaitu membaca novel misteri, yang menjadi sarana hiburan menyenangkan.

Sebagai bagian dari UT, Ibu Ita mengharapkan semoga UT dapat menghasilkan lulusan yang pantang menyerah, dan mau terus belajar untuk memajukan diri dan Indonesia. Sebagai perguruan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, Ibu Ita merasakan bahwa UT beruntung mempunyai mahasiswa dan alumni yang berasal dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari guru TK, guru SD, pegawai negeri, pegawai swasta, manajer, pengusaha, ABRI, sampai dengan anggota DPR. Mahasiswa dan alumni UT berasal dari seluruh pelosok tanah air, dari daerah terpencil di luar Jawa sampai dengan kota metropolitan Jakarta. Mahasiswa UT mempunyai karakter sebagai pembelajar yang mandiri dan pantang menyerah. Keinginan untuk terus belajar untuk memperbaiki kualitas hidup mudah-mudahan menjadi ciri khas lulusan UT. Dengan memperbaiki kualitas hidupnya dan memajukan kehidupannya, lulusan UT dapat menjadi sumber daya manusia yang handal untuk memajukan Indonesia sesuai kemampuan dan keahliannya dalam bidang pekerjaannya masing-masing di seluruh pelosok tanah air. Demikianlah yang diharapkan oleh Ibu Ita untuk kemajuan UT.

Kepala BAAPM UT Ida Ketut Priadnyana

Ir. Ida ketut Priadnyana, M.A.

Pria yang bersahaja ini kerap disapa Pak Ketut. Putra Bali kelahiran  Singaraja, Bali, 9 Januari 1961 adalah Kepala Biro Administasi Akademik, Perencanaan dan Monitoring Universitas Terbuka (BAAPM-UT) masa periode 2014-2018. Memiliki motto hidup “bekerja merupakan sarana di dalam hidup bermasyarakat”. Menurutnya jika kita tidak bisa bermasyarakat maka bekerja pun akan terasa lebih sulit, begitu ungkapan pria ramah dan humoris yang banyak menghabiskan waktu di kantor ini.

Lulusan sarjana jurusan Ilmu tanah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor dan Program Magister University of Victoria, Canada ini sempat berkarier di perusahaan swasta yang bergerak di bidang  transmigrasi, sebelum bergabung dengan UT pada akhir tahun 1985. Peraih penghargaan sebagai Kepala Bagian (Kabag) Terbaik pada tahun 2010 ini, selama berkarier di UT pernah menjabat antara lain sebagai kepala sub bagian (kasubbag) urusan dalam dan transportasi pada bagian Rumah Tangga, Kasubbag Perlengkapan, Asisten Pembantu Rektor II, Kabag TU PPs, Kabag Keuangan, dan Kabag UHT hingga kini mencapai jabatan tertinggi pada tenaga kependidikan di Universitas yaitu sebagai kepala biro.

Ir. Ida ketut Priadnyana, M.A., menikah dengan Siti Nurhayati dan dianugerahi dua orang anak laki-laki, Ida Bagus Andra Nuriadnyana tercatat sebagai mahasiswa semester 5 pada di Universitas swasta dan Rana Nuriadnyana yang tercatat sebagai siswa kelas 3 di Sekolah Menengah Atas.

Jalan kaki dan bersepeda merupakan hobi olahraganya, selain itu membaca novel-novel karangan Sidney Sheldon, Dan Brown, dan Sandra Brown juga hobinya.  Kerja kerasnya untuk kemajuan UT tidak dipungkiri lagi, Ia mempunyai  harapan terhadap UT  di masa depan, yaitu berhasil mebudayakan masyarakat Indonesia untuk dapat belajar mandiri.

Foto Wagimin, S.H., CN.

LIKA LIKU HIDUP ADALAH HAL YANG ‘SERU’

Wagimin, S.H., CN.

Wagimin, S.H., CN. atau yang akrab disapa Pak Wagimin, adalah salah satu pejabat Universitas Terbuka yang saat ini bertugas sebagai Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) UT. Terhitung mulai awal tahun 2017 tepatnya pada pelantikan pejabat UT tanggal 3 Januari 2017, ia secara resmi menjadi Kepala BAUK untuk masa jabatan 2017-2021.

Pak Wagimin bisa dibilang salah satu sosok yang turut serta dalam membesarkan UT. Ia telah mengabdikan hidupnya selama lebih dari 30 tahun untuk kemajuan UT. Pusat Komputer (Puskom) UT menjadi tempat pertama ia mengontribusikan kemampuannya. Pak Wagimin cukup lama bertugas di unit yang mempunyai peranan penting di UT ini. Ia termasuk salah satu orang yang ikut mengembangkan aplikasi komputer UT di awal berdirinya. Semakin lama kariernya pun semakin meningkat. Ia selanjutnya diberi kepercayaan untuk menjabat di beberapa posisi penting di UT seperti Kepala Sub Bagian Anggaran Rutin dan Pembangunan; Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Perlengkapan, Kepala Bagian Perencanaan dan Kerja Sama; Kepala Bagian Umum, Hukum, dan Tatalaksana; hingga di posisinya saat ini.

Menurut cerita Pak Wagimin, ia merasakan banyak pengalaman menarik ketika bekerja di UT. Seberapa beratnya pengalaman tersebut, ia tetap menganggapnya sebagai lika liku hidup yang ‘seru’ dan harus disyukuri. “Waktu di Puskom. Karena masih muda, bujangan, tidur di kantor itu sudah biasa. Waktu itu Puskom-UT masih di Salemba (menumpang di Pusat Ilmu Komputer UI) dan rumah saya di belakang sini (Tangsel). Kalau kita habis lembur, naik bus dari Senayan bangun-bangun di Depok, ketiduran.” kenangnya sambil tertawa ketika menceritakan pengalamannya ketika di awal-awal bekerja di UT.

Pak Wagimin adalah putra asli Gunung Kidul. Sejak lahir pada 8 September 1962 lalu hingga SMA, ia tinggal di tanah kelahirannya. Ketika lulus dari SMA, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Waktu itu ia bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan, namun keadaan ekonominya tidak memungkinkan untuk mewujudkan impiannya itu. Namun, kesabaran dan rasa bersyukurnya membuahkan hasil. Ia diterima di UT dan dapat melanjutkan pendidikan ke universitas ternama hingga jenjang Spesialis Notariat.

Sosok yang bersahabat dan humoris ini berharap kepada seluruh generasi yang nanti akan melanjutkan perjuangan membesarkan UT, agar selalu bekerja dengan baik dan ikhlas. Ia mengingatkan bahwa besarnya UT adalah untuk kepentingan bersama. “Layani mahasiswa dengan baik” pesannya ketika menjelaskan pentingnya mahasiswa bagi UT.

Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph,D.

Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph,D.

“Keutamaan orang yang berilmu dari ahli ibadah laksana bulan purnama di atas seluruh bintang”

“Pak Ojat”, itulah kawan dan rekan-rekannya di Lingkungan Universitas Terbuka (UT) menyapa Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph,D. Sosok pria bersahaja ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Bahan Ajar, Ujian, dan Sistem Informasi atau disebut juga LPBAUSI. Selepas dilantik tahun 2016, beliau secara resmi memimpin unit yang mempunyai peranan sangat penting ini setelah sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Jaminan Kualitas (Pusmintas) UT.

Pak Ojat lahir di Sumedang, 26 Oktober 1966. Pria berdarah Sunda ini menikahi Susiah Hartina, SE, MM dan dikaruniai dua orang anak, Muhamad Farhan Wirakusuma dan Salsabila Rabani. Pria ini mempunyai hobi yang unik yakni traveling. Traveling yang dimaksud Pak Ojat bukanlah traveling biasa namun academic journey untuk mengikuti seminar dan konferensi baik nasional maupun internasional. Ketika mendengar seminar/konferensi yang belum pernah diikuti, beliau akan bersemangat membuat tulisan bagus untuk dikompetisikan di konferensi/seminar tersebut.

Semenjak kecil Pak Ojat merupakan anak yang cerdas, beliau sering kali menjadi bintang kelas. Pun ketika menyelesaikan gelar sarjananya di IKIP Bandung, penggemar lalapan ini menjadi lulusan terbaik. Prestasi akademik ini yang juga membuat beliau memperoleh beasiswa untuk menyelesaikan studi diploma IV dan magisternya di La Trobe University, Australia, dan doktoralnya dengan beasiswa dari Bank Dunia di Simon Fraser University, Kanada. Kedua pendidikan pascasarjana tersebut diselesaikan beliau dengan hasil yang memuaskan. Hadist Riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi yang berbunyi “Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang” inilah yang dipegang teguh oleh Pak Ojat dan mendasari hasratnya akan ilmu.

Sudah lebih dari 25 tahun, beliau mengabdikan hidupnya untuk kemajuan UT. Berbagai jabatan sudah pernah diamanahkan ke bapak dua anak ini. Mulai dari Ketua Program Studi, Ketua Jurusan, dan Pembantu Dekan III di FKIP-UT, Kepala UPBJJ-UT Bogor, hingga Kepala LPBAUSI yang saat ini beliau emban. Di UT pula Pak Ojat untuk diangkat menjadi guru besar/profesor pada tahun 2016. Pada awalnya, penyuka warna biru dan putih ini memang tidak bekerja di UT. Sebelum diwisuda, beliau telah bekerja di perusahaan swasta asal Cina selama satu tahun hingga tahun 1990. Selepas dari perusahaan swasta tersebut, pengabdiannya di UT dimulai sejak tahun 1991 hingga sekarang.

Dengan jabatan yang sekarang diembannya, Pak Ojat berharap dapat berkontribusi lebih untuk kemajuan UT. UT menjadi yang terdepan di Asia dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dengan standard global yang menjangkau semua orang termasuk mereka yang hidup di daerah terpencil dimana akses pendidikan tinggi sulit masuk, sehingga istilah ‘openess’ dapat terimplementasikan secara luas bagi orang, tempat, ide atau gagasan, serta penerapan cara-cara baru dalam penyelenggaraan pendidikan.

Share This Post