Faktor yang Mempengaruhi Pembaharuan Pendidikan

 

Lembaga pendidikan formal atau sekolah sebagai suatu subsistem dari sistem sosial saling mempengaruhi dengan sistem sosial tersebut. Jika terjadi perubahan dalam sistem sosial maka terjadi pula perubahan dalam lembaga pendidikan. Sebagai contoh bila dalam masyarakat dibutuhkan seorang ahli atau orang yang mempunyai keterampilan dalam bidang komputer, maka lembaga pendidikan akan mengadakan program pendidikan dalam bidang komputer. Jadi jelaslah bahwa hubungan antara lembaga pendidikan sangat erat dengan sistem sosial.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam lembaga pendidikan formal seperti sekolah dapat diciptakan inovasi-inovasi baru dalam setiap komponennya. Inovasi ini harus disebarkan agar terjadi perubahan sosial. Usaha penyebaran inovasi ini bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Ada kalanya inovasi cepat diterima oleh masyarakat, terkadang sulit untuk diterima.

Oleh karena itu keberhasilan suatu inovasi ditentukan oleh banyak faktor. Di bawah ini merupakan enam faktor utama penghambat inovasi yang dikemukakan oleh Ibrahim, antara lain:

 

1.   Estimasi tidak tepat terhadap inovasi

Hambatan yang disebabkan oleh tidak tepatnya perencanaan atau estimasi dalam proses difusi inovasi antara lain, tidak tepat dalam mempertimbangkan implementasi inovasi, kurang adanya kerja sama antarpelaksana inovasi, tidak adanya persamaan pendapat tentang tujuan yang akan dicapai, tidak jelas struktur pengambilan keputusan, komunikasi yang tidak lancar, adanya tekanan dari pemerintah untuk mempercepat hasil inovasi dalam waktu yang sangat singkat.

Oleh karena itu para pelaksana inovasi agar benar-benar merencanakan dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada tempat yang menjadi sasaran inovasi.

2.   Konflik dan motivasi

      Hambatan ini diakibatkan karena adanya masalah-masalah pribadi, seperti  adanya pertentangan antaranggota tim, adanya rasa iri antara anggota yang satu dengan yang lain, ada anggota tim yang tidak semangat kerja, pimpinan yang terlalu kaku dan berpandangan sempit, kurang adanya penguatan atau hadiah terhadap anggota yang melaksanakan tugas dengan baik.

3.   Inovasi tidak berkembang

      Inovasi tidak berkembang karena hal-hal seperti, lambatnya material yang diterima, alokasi dana yang tidak tepat, terjadi inflasi, pergantian pengurus  yang terlalu cepat sehingga mengganggu kontinuitas tugas.

4.   Masalah keuangan

      Yang termasuk dalam hambatan keuangan yaitu tidak memadainya dana dari pemerintah daerah atau pemerintah pusat, kondisi perekonomian secara nasional dan penundaan penyampaian dana. Oleh karena itu dituntut kemampuan untuk mencari sumber-sumber dana lain yang akan digunakan untuk pembiayaan pelaksanaan inovasi.

5.   Penolakan inovasi dari kelompok tertentu

      Penolakan inovasi yang dimaksud bukan penolakan karena kurang dana atau masalah personalia, tetapi penolakan masuknya inovasi karena beberapa faktor berikut, yaitu  adanya pertentangan dalam memandang inovasi, adanya kecurigaan masyarakat akan masuknya inovasi tersebut.

6.   Kurang adanya hubungan sosial

      Faktor terakhir ini terdiri dari dua hal, yaitu hubungan antaranggota kelompok pelaksana inovasi dan hubungan dengan masyarakat. Hal ini disebabkan karena adanya ketidakharmonisan antaranggota proyek inovasi.     

Selain faktor-faktor utama penghambat inovasi tersebut di atas ada faktor lain yang menghambat inovasi dalam bidang pendidikan, faktor tersebut adalah:

 

1.   Faktor kegiatan pembelajaran

      Kegiatan belajar-mengajar adalah suatu kegiatan yang berlangsung selama kegiatan pengajaran terjadi. Dalam kegiatan belajar-mengajar ini terjadi interaksi antara guru dan siswa. Keberhasilan kegiatan belajar-mengajar ditentukan oleh pribadi guru dan pribadi siswa itu sendiri.

      Sebagai contoh penggunaan internet sebagai salah satu inovasi pendidikan akan sulit diterapkan bila pribadi guru tidak dapat menerima penggunaan internet tersebut.

2.   Faktor Internal dan Ekternal

      Faktor internal yang dimaksud di sini adalah siswa. Siswa mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam proses penerimaan inovasi pendidikan karena dalam kegiatan pembelajaran tujuan yang akan dicapai adalah perubahan tingkah laku siswa. Jadi dalam membuat keputusan untuk melaksanakan inovasi dalam bidang pendidikan perlu memperhatikan siswa.

      Faktor eksternal yang mempengaruhi proses inovasi pendidikan adalah orang tua siswa. Peran orang tua sebagai pendukung siswa baik moral maupun penyedia dana bagi siswa/anaknya. Bila orang tua tidak memberikan dukungan bagi kegiatan pendidikan anaknya, maka kegiatan pembelajaran akan terhambat, dengan terhambatnya kegiatan pembelajaran ini maka kegiatan inovasi yang telah direncanakan akan terhambat pula.

      Faktor  internal  dan eksternal lain yang mempengaruhi proses penerimaan inovasi adalah, guru, administrator, konselor yang terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Ada pula ahli-ahli lain yang terlibat tidak secara langsung dalam kegiatan pembelajaran ini seperti, penilik, pengawas, konsultan dan juga pengusaha yang membantu dalam pengadaan fasilitas sekolah.

3.   Sistem Pendidikan

      Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia diatur dengan undang-undang yang diatur oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang tersebut diatur tentang kurikulum, jenjang, jam belajar sampai pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas. Jadi guru dan siswa tidak dapat berbuat semau mereka. Dengan adanya aturan-aturan tersebut tentu saja kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik, akan tetapi dapat saja terjadi bahwa guru atau siswa merasa terkekang dengan adanya aturan tersebut. Guru atau siswa menjadi tidak bergairah untuk belajar, sehingga peran mereka sebagai pendidik dan peserta didik tidak optimal. Siswa tidak mempunyai motivasi untuk menerima pelajaran. Hal ini akan berdampak buruk terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Begitu pula dengan guru yang tidak mempunyai motivasi dalam mengajar, ia datang tidak tepat waktu, memberi materi pelajaran seperlunya saja, membiarkan kelas kosong, merasa apatis terhadap tugas karena tidak diberikan kewenangan secara penuh dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan tugasnya, akan sangat mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Bila kegiatan pembelajaran terganggu maka kegiatan inovasi pun ikut terganggu.

      Selain hambatan-hambatan yang telah dijelaskan di atas, dari penelitian dari beberapa  ahli ditemukan beberapa hambatan dalam penyebaran inovasi antara lain:

 

1.   Hambatan geografi

      Indonesia sebagai negara kepulauan tentu saja merupakan tantangan dalam penyebaran inovasi. Hambatan geografis mencakup jarak yang jauh, transportasi yang kurang lancar, daerah yang terisolir, keadaan iklim yang tidak mendukung. Oleh karena itu dalam perencanaan inovasi perlu dipertimbangkan kondisi geografis dan sarana transportasi.

2.   Hambatan sejarah

      Hambatan sejarah, meliputi hal-hal  peraturan-peraturan yang diwariskan oleh kolonial, tradisi yang bertentangan dengan inovasi.

3.   Hambatan ekonomi

      Hambatan ekonomi meliputi ketersediaannya dana dari pemerintah dan pengaruh adanya inflasi. Dari data hasil penelitian, pelaksanaan inovasi kurang memperhitungkan perencanaan penggunaan dana dan kurang memperhitungkan adanya inflasi.

4.   Hambatan prosedur

      Termasuk dalam hambatan prosedur ialah kurang terampilnya tenaga pelaksana inovasi, kurang koordinasi antarbagian pelaksana inovasi, tidak cukup persediaan material yang digunakan.

5.   Hambatan personal

      Hal-hal yang menjadi hambatan personal yaitu kurang adanya penguatan (hadiah) bagi penerima dan pemakai inovasi, orang yang memegang peranan penting dalam penyebaran inovasi tidak terbuka, sikap kaku dan pengetahuan yang sempit dari orang-orang yang melaksanakan inovasi serta adanya pertentangan pribadi antarpelaksana proyek inovasi.

6.   Hambatan sosial budaya

      Hambatan sosial budaya yang dianggap penting adalah adanya pertentangan ideologi tentang proyek inovasi. Hal lain yang termasuk dalam hambatan sosial budaya yaitu kurang adanya tukar pikiran, perbedaan budaya dan kurang harmonisnya hubungan antara pelaksana proyek inovasi dengan penerima inovasi.

7.   Hambatan Politik

      Hambatan politik merupakan peringkat terendah dari berbagai aspek penghambat inovasi. Adapun yang termasuk dalam hambatan politik ialah kurangnya hubungan baik dengan pimpinan politik, adanya pergantian pemerintah sehingga berpengaruh pada kontinuitas inovasi, adanya keberatan dari pemerintah terhadap pelaksanaan inovasi dan kurangnya pengertian dan perhatian dari pemerintah akan pelaksanaan inovasi.

    Fullan (1996) mengkategorikan 3 faktor kunci yang mempengaruhi proses penerapan inovasi  dalam bidang pendidikan yakni, karakteristik perubahan, karakteristik lokal dan faktor eksternal.

1.   Karakteristik Perubahan:

         Kebutuhan

         Kejelasan

         Kompleksitas

         Kualitas

2.   Karakteristik Lokal:  

         Wilayah       

        Komunitas   

         Kepala Sekolah

         Guru

3.   Faktor Eksternal:

        Pemerintah dan Agen Lain

Banyak inovasi di sekolah diterapkan tanpa memperhatikan kebutuhan. Kebutuhan yang dimaksud di sini adalah, kebutuhan guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh seorang guru tidak merasa perlu adanya inovasi berupa penggunaan komputer dalam pembelajaran karena menurutnya siswa-siswinya belum dapat mengoperasikan komputer. Bila inovasi ini diteruskan maka dana untuk pengadaan komputer akan terbuang dengan sia-sia.

Masalah lain yang dialami dalam proses penerapan inovasi adalah kejelasan. Masalah kejelasan ini selalu ditemukan dalam setiap penelitian tentang inovasi. Banyak guru sebagai pengadopsi inovasi tidak dapat mengidentifikasi apa esensi dari inovasi yang sedang diterapkan. Hal ini tentu saja membuat proses adopsi inovasi tidak berjalan dengan baik.

Kompleksitas juga dapat mempengaruhi proses adopsi inovasi. Kompleksitas yang dimaksud di sini adalah, kompleksitas yang berkaitan dengan tingkat tanggung jawab individu yang terlibat dalam proses implementasi. Jumlah individu yang besar pada satu sisi dapat menguntungkan karena dapat mempercepat pekerjaan, tapi pada sisi yang lain dapat juga menyebabkan kegagalan karena kompleksnya masalah tanggung jawab individu yang terlibat dalam inovasi ini.

Kualitas dari bahan-bahan atau sumber-sumber yang digunakan dalam penerapan inovasi juga mempengaruhi proses penerimaan inovasi. Dengan bahan-bahan yang berkualitas tentu saja membuat inovasi cepat diterima oleh masyarakat. Kualitas ini juga terkait dengan masalah kebutuhan, kejelasan dan kompleksitas.

Wilayah yang dimaksudkan di sini adalah, penguasa atau penentu kebijakan. Inovasi dalam bidang pendidikan yang tidak akan berhasil dengan baik bila tidak ada dukungan dan sikap menerima dari penentu kebijakan baik secara lokal maupun wilayah. Dengan contoh sikap dan dukungan ini maka guru akan selalu berusaha mengembangkan inovasi dan tidak  akan bersikap apatis terhadap inovasi.

Dalam menerapkan inovasi, terkadang karakteristik komunitas diabaikan. Kestabilan politik yang terjadi di suatu komunitas masyarakat merupakan syarat utama dalam penerapan inovasi. Pada komunitas yang sedang mengalami konflik, yang terpikirkan oleh masyarakatnya adalah bagaimana menyelamatkan nasib mereka bukan memikirkan menerima inovasi.

Sekolah adalah, unit atau pusat dari adanya perubahan yang ditandai oleh adanya inovasi. Oleh karena itu kepala sekolah memegang peranan penting dalam hal ini, karena kepala sekolah merupakan orang yang dapat membentuk kondisi organisasi seperti mengembangkan tujuan, mengkolaborasikan struktur dan iklim organisasi dan merumuskan prosedur pengawasan.

Karakteristik guru juga memegang peranan penting dalam penerapan inovasi. Kepribadian, jenjang karir membuat guru merasa lebih teraktualisasi diri sehingga berdampak pada sukses tidaknya penerapan inovasi. Kerja sama yang baik antarsesama guru membuat inovasi dapat diterapkan dengan baik.

Prioritas pendidikan bagi provinsi dan nasional ditentukan oleh birokrasi pemerintahan. Hal ini membuat proses penerapan inovasi dalam bidang pendidikan sulit tercapai karena kurang koordinasi antarbirokrasi pemerintahan.

Selain hal-hal tersebut di atas, faktor yang mempengaruhi inovasi dalam bidang pendidikan adalah kecepatan adopsi suatu inovasi. Kecepatan adopsi adalah tingkat kecepatan penerimaan inovasi oleh anggota sistem sosial. Kecepatan ini biasanya diukur dengan jumlah penerima yang mengadopsi suatu ide baru dalam suatu periode waktu tertentu.

Uraian tentang atribut/karakteristik inovasi telah dijelaskan pada Kegiatan   Belajar 1. Bila Anda masih kurang jelas dapat dipelajari kembali. Di bawah ini akan diuraikan tentang variabel yang mempengaruhi kecepatan adopsi yang lainnya yaitu:

 

1.   Tipe keputusan inovasi

      Tipe keputusan inovasi mempengaruhi kecepatan adopsi. Tipe keputusan inovasi dibagi menjadi tiga yaitu, keputusan opsional, keputusan kolektif dan keputusan otoritas. Keputusan opsional biasanya lebih cepat daripada keputusan kolektif, tetapi lebih lambat daripada keputusan otoritas. Kecepatan adopsi yang paling lambat adalah tipe keputusan kontingen karena harus melibatkan dua urutan atau lebih. Jadi semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan inovasi, semakin lambat tempo adopsinya. Hal ini tentu saja ini sangat tidak menguntungkan dalam penyebaran inovasi. Untuk itu dalam rangka mempercepat kecepatan adopsi maka perlu dipilih unit pembuatan keputusan yang sedikit melibatkan orang.

2.   Sifat saluran komunikasi yang digunakan

      Saluran komunikasi adalah alat yang digunakan untuk menyebarkan suatu inovasi. Saluran komunikasi dibagi menjadi saluran komunikasi massa dan interpersonal, serta saluran lokal dan saluran kosmopolit. Saluran interpersonal adalah saluran yang melibatkan pertemuan tatap muka antara dua orang atau lebih, misalnya percakapan langsung, dan pertemuan kelompok. Sedangkan saluran media massa adalah alat-alat penyampai pesan yang memungkinkan sumber mencapai suatu audiens dalam jumlah besar yang dapat menembus ruang dan waktu contohnya radio, televisi, film, surat kabar, buku dan sebagainya. Saluran antarpribadi disebut lokalit jika kontak-kontak langsung itu sebatas daerah atau sistem sosial itu saja, sebaliknya saluran media massa dapat dipastikan bersifat kosmopolit karena tidak terbatas pada satu daerah dan sistem sosial saja. Saluran komunikasi mempengaruhi kecepatan adopsi, misalnya jika saluran komunikasi interpersonal yang dipergunakan untuk menciptakan kesadaran pengetahuan (menunjukkan adanya inovasi) seperti yang terjadi pada masyarakat pedesaan yang belum ada media massa, kecepatan adopsi akan lambat karena penyebaran pengetahuan tidak berjalan cepat.

3.   Ciri-ciri sistem sosial

      Dalam suatu sistem yang modern tempo adopsi mungkin lebih cepat, karena di sini kurang ada rintangan sikap di antara penerima (anggota sistem sosial), sedangkan dalam sistem sosial yang tradisional, mungkin tempo adopsi lebih lambat.

4.   Agen pembaharu

      Agen pembaharu adalah pekerja profesional yang berusaha mempengaruhi atau mengarahkan keputusan inovasi orang lain selaras dengan yang diinginkan oleh lembaga pembaharuan di mana ia bekerja. Para guru, penyuluh lapangan, pekerja sosial, juru dakwah dan misionaris adalah agen pembaharu. Agen pembaharu juga mempengaruhi kecepatan adopsi dengan jalan melakukan promosi-promosi. Hubungan antara kecepatan adopsi dengan usaha agen pembaharu tidak langsung dan linier. Pada tahap-tahap tertentu usaha keras agen pembaharu mendatangkan hasil yang besar, pada saat yang lain terkadang usaha agen pembaharu tidak mendatangkan hasil yang baik karena kurang berhasilnya agen pembaharu dalam mempengaruhi pemuka masyarakat untuk memulai mengadopsi inovasi.