ASPEK-ASPEK INOVASI PENDIDIKAN

Inovasi pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari empat aspek, yaitu tujuan pendidikan, struktur pendidikan dan pengajaran, metode kurikulum dan pengajaran serta perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses (Cece Wijaya, 1998, p. 28). Inovasi dalam aspek tujuan pendidikan dimulai pada tahun 1970 dan kini dikenal sebagai Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Inovasi ini berlangsung lambat karena umumnya guru belum dapat membiasakan diri menjabarkan TIK. Akan tetapi, ia memiliki tujuan yang jelas dan baik dalam mengajar. Inovasi pada aspek struktur pendidikan melibatkan cara penyusunan sekolah dan kelompok serta ruangan kelas agar menjadi lebih bergengsi. Hal ini dapat dilakukan melalui rencana pendidikan. Perencanaan pendidikan merupakan pencapaian tujuan pendidikan oleh kelompok dan masyarakat, namun secara khusus perencanaan pendidikan merupakan upaya dan bantuan demi tercapainya tujuan itu secara individual.

Perencanaan pendidikan menurut pandangan yang banyak dianut oleh Departemen Pendidikan Nasional ialah suatu rangkaian kegiatan melihat ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan, prioritas dan biaya pendidikan dengan mempertimbangkan kenyataan yang ada dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Hal tersebut dilakukan untuk mengembangkan potensi sistem pendidikan, negara dan peserta didik yang dilayani oleh sistem tersebut. Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa tipe perencanaan yang kuno dan klasik telah ditinggalkan, saat ini lebih menekankan pada peranan pendidikan dalam pembangunan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi, pembangunan sumber daya manusia yang memberikan jasa sebagai tenaga kerja.

Aspek ketiga dalam inovasi pendidikan meliputi pembaharuan dalam materi dan isi kurikulum dalam pengajaran. Inovasi materi atau isi kurikulum, yaitu meliputi inovasi pendidikan yang disajikan. Usaha-usaha yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan proses pembelajaran merupakan suatu usaha yang baik, namun demikian inovasi yang dilakukan saat ini bersifat lokal dan terbatas. Seperti contohnya bagaimana meningkatkan mutu proses belajar dan mengajar dan bagaimana menerapkan muatan lokal dari kurikulum nasional. Pada saat ini di beberapa sekolah juga telah diterapkan integrated curriculum atau kurikulum terpadu yang memadukan beberapa materi pelajaran dalam satu kegiatan belajar.

Aspek keempat dalam inovasi pendidikan adalah perubahan terhadap aspek-aspek pendidikan dan proses yang meliputi penggunaan multimetode dan multimedia dalam kegiatan belajar. Penggunaan kombinasi metode atau media dilakukan oleh guru pada saat proses berlangsung, dan diharapkan dapat memberikan hasil yang efektif. Perubahan dalam proses ini juga meliputi pendekatan inkuiri artinya, penyelidikan yang dilakukan oleh siswa apabila siswa masih memiliki pertanyaan dalam belajarnya. Pendekatan ini banyak dilakukan dalam bidang studi IPA, namun saat ini diusahakan dalam bidang studi IPS atau yang lainnya. Pendekatan CBSA yaitu siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan belajar namun masih dalam bimbingan guru. Dibandingkan dengan cara belajar sebelumnya dimana guru lebih dominan dalam proses pembelajaran dan sumber informasi hanya datang dari guru (verbalisme).

Selain yang diuraikan di atas, upaya pembaharuan dalam bidang pendidikan yaitu dengan adanya Teknologi Pendidikan. Teknologi Pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan evaluasi atas sistem, teknik serta alat bantu untuk meningkatkan proses belajar manusia (Ellington, 1984, p. 20). AECT 1994 mendefinisikan Teknologi Pendidikan sebagai teori dan terapan dari rancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi atas proses dan sumber untuk belajar. Konsep Teknologi Pendidikan tidak hanya meliputi pemanfaatan media untuk belajar namun mencakup seluruh aspek yang mempengaruhi belajar manusia.

Inovasi pendidikan telah diterapkan pada berbagai tingkat pendidikan. Inovasi pendidikan yang dilakukan pada tingkat pendidikan dasar salah satunya adalah adanya sistem pamong. Pamong merupakan sistem pendidikan yang bersifat massal dalam arti mampu menyajikan pendidikan pada sejumlah besar anak dalam kondisi yang berbeda-beda secara serentak. SD Pamong adalah suatu sistem pengelolaan pendidikan dasar yang merupakan salah satu kemungkinan atau pelengkap bagi pendidikan dasar pada umumnya. Sistem pendidikan ini terutama untuk memecahkan masalah pendidikan anak-anak terlantar dan anak-anak putus sekolah mulai dari usia 7-12 tahun yang berkaitan erat dengan program Wajib Belajar (WAJAR). Tujuan SD Pamong adalah untuk meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dasar dengan menciptakan wadah bagi mereka yang tidak dapat belajar di sekolah. SD Pamong ini melibatkan anggota masyarakat dan orang tua untuk berperan lebih aktif sehingga anak didik dianggap sebagai subjek pendidikan bukan hanya sekedar objek dalam pendidikan. Sejak tahun 1976, sistem pamong telah menunjukkan kemampuannya bukan saja untuk memproses para siswa belajar kurikulum SD namun juga dapat digunakan oleh mereka yang putus sekolah. Dalam pendidikan SD Pamong tugas guru berubah dan banyak dituntut untuk menjadi motivator dan stabilisator dalam kegiatan belajar siswa di sekolah maupun di luar sekolah.