LING 1112

Tutor:
Edi Rusdiyanto

Kesesuaian Tanah dan

Kesesuaian Lahan Pertanian


WB00693_.gif (1755 bytes)  WB00694_.gif (1732 bytes)

Pemerintah akan mulai memberlakukan Otonomi Daerah pada tahun 2000. Hal ini akan memacu adanya pengembangan wilayah. Kecepatan pengembangan wilayah antara satu daerah dengan daerah lainya sangat bervariasi tergantung kemampuan dan ketersediaan sumberdaya lahannya. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan wilayah adalah mengevaluasi lahan. Dalam mengevaluasi lahan akan diperoleh klasifikasi kesesuaian lahan. Istilah kesesuaian lahan sering dirancukan dengan kesesuaian tanah. Berikut ini akan kita ulas dalam bentuk tanya-jawab tentang kesesuaian lahan pertanian yang mengacu pada mata kuliah Kimia-Fisik-Biologi Lingkungan, Modul 7 KB 1.

 

Pertanyaan:

  1. Bagaimana hubungan antara lahan pertanian dengan tanah pertanian ?

  2. Apa perbedaan antara tanah dari hasil pelapukan batuan dan tanah dari hasil pematangan sisa-sisa tanaman ?

  3. Apa yang dimaksud dengan pelapukan fisik, kimia dan biologi ?

  4. Apa makna terjadinya perbedaan kesuburan tanah ?

  5. Apa yang dimaksud dengan kesesuaian lahan pertanian ?

  6. Apakah suatu wilayah bila tanahnya subur dapat diartikan kesesuaian lahannya adalah untuk pertanian ?

  7. Mengapa kesesuaian lahan perlu diperhatikan dalam pengembangan pertanian ?

  8. Apakah semua jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik pada wilayah yang kesesuaian lahannya untuk pertanian ?

  9. Apakah klasifikasi kesesuaian lahan dapat berubah ?

  10. Bagaimana kategori dari klasifikasi kesesuaian lahan ?

  11. Dapatkah diberikan contoh klasifikasi kesesuaian lahan ?


WB00693_.gif (1755 bytes)  WB00694_.gif (1732 bytes)

Jawaban:

 

Tanya :

Bagaimana hubungan antara lahan pertanian dengan tanah pertanian ?

Jawab :

Dalam bidang pertanian, pengertian lahan lebih luas dari pada tanah. Istilah tanah dalam arti soil adalah material tak terkonsolidasi sebagai hasil pelapukan batuan atau hasil pematangan sisa-sisa tanaman/tumbuhan di bawah pengaruh kegiatan air, iklim, hewan, tumbuhan dan manusia. Pada umumnya tanah dibedakan atas tiga lapis yaitu : (1) tanah lapis atas (Horison A), (2) tanah lapis bawah (Horison B) dan (3) bahan induk (Horison C). Karena itu, tanah pertanian dapat dikatakan sebagai media tumbuh tanaman.

Istilah lahan dalam arti land adalah serangkaian atribut permukaan bumi yang penting bagi kehidupan manusia. Unsur utamanya berupa tanah (soil), sedangkan unsur pelengkapnya meliputi apa saja yang ada di atasnya (air, udara, dan tumbuhan) dan apa yang ada di bawahnya (batuan induk). Dengan demikian lahan pertanian meliputi tanah (pertanian), air (air irigasi, air hujan), udara (iklim/cuaca), tumbuhan (yang dibudidayakan dan tidak dibudidayakan), dan batuan induk.

 

Tanya :

Apa perbedaan antara tanah dari hasil pelapukan batuan dan tanah dari hasil pematangan sisa-sisa tanaman ?

Jawab :

Tanah dapat digolongkan menjadi dua yaitu tanah mineral dan tanah organik. Di Indonesia sebagian besar berupa tanah mineral. Tanah dari hasil pelapukan batuan akan membentuk tanah mineral. Contohnya: tanah Latosol (merah) dan tanah Andosol (hitam kelam). Proses pelapukan tersebut dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu pelapukan fisik, kimia dan biologi. Selanjutnya tanah dari hasil pematangan sisa-sisa tanaman akan membentuk tanah organik. Contohnya: tanah gambut. Proses pematangan tersebut juga dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu pematangan fisik, kimia dan biologi.

 

Tanya :

Apa yang dimaksud dengan pelapukan fisik, kimia dan biologi ?

Jawab :

Pelapukan fisik adalah proses pemecahan batuan tanpa mengalami perubahan susunan kimia. Hal ini misalnya akibat adanya perubahan temperatur yang sangat besar antara siang dan malam hari. Hasil pelapukan ini merupakan pecahan batuan dengan susunan kimia yang sama dengan batuan aslinya.

Pelapukan kimia adalah proses penguraian pecahan-pecahan batuan ke dalam unsur-unsur penyusunnya yang biasanya disertai dengan pembentukan mineral baru dengan susunan kimia yang berbeda dengan batuan aslinya. Contohnya: batuan kapur dalam air yang penuh dengan gas C, reaksinya sebagai berikut:

CaCO3 + H2O + CO2 (karbonat yang tidak bisa melarut) ------> Ca(HCO3)2 (asam karbonat yang bisa melarut)

Pelapukan biologi adalah pelapukan yang disebabkan kegiatan tanaman dan/atau hewan baik tingkat tinggi atau tingkat rendah. Contohnya: aktivitas akar tanaman tingkat tinggi yang masuk ke dalam celah-celah (retakan) batuan sehingga membantu memecahkan batuan. Di alam intensitas dan frekuensi terjadinya proses pelapukan fisik, kimia dan biologi berbeda-beda. Hal ini akan mempengaruhi terjadinya perbedaan kesuburan tanah.

 

Tanya :

Apa makna terjadinya perbedaan kesuburan tanah ?

Jawab :

Kesuburan tanah diartikan sebagai kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Kesuburan tanah dapat dibedakan menjadi kesuburan fisik, kimia dan biologi. Tanah yang subur secara fisik belum tentu secara kimia dapat dikatakan subur. Contohnya: tanah Regosol, secara fisik cukup baik tetapi secara kimia kurang baik. Dengan demikian, tanah yang subur (fisik, kimia dan biologi) akan mampu menopang pertumbuhan tanaman secara baik.

 

Tanya :

Apa yang dimaksud dengan kesesuaian lahan pertanian ?

Jawab :

Sebelum diuraikan tentang kesesuaian lahan pertanian, supaya lebih jelas akan diuaraikan lebih dulu pengertian tentang kemampuan lahan.

Kemampuan lahan (land capability) adalah kesesuaian lahan untuk berbagai penggunaan yang secara umum dapat diusahakan di suatu wilayah. Contoh: suatu wilayah sesuai untuk penggunaan lahan pertanian atau permukiman. Hal ini berarti wilayah tersebut dapat digunakan untuk lahan pertanian saja atau lahan permukiman saja atau kedua-duanya. Karena itu, semakin banyak kesesuaian lahan yang dapat diusahakan di suatu wilayah, semakin tinggi kemampuan lahannya.

Kesesuaian lahan (land suitability) adalah kecocokan suatu lahan untuk penggunaan tertentu, misalnya : sesuai untuk pertanian, permukiman, industri, dan sebagainya. Dengan demikian, kesesuaian lahan pertanian adalah kecocokan suatu lahan untuk penggunaan pertanian.

 

Tanya :

Apakah suatu wilayah bila tanahnya subur dapat diartikan kesesuaian lahannya adalah untuk pertanian ?

Jawab :

Salah satu faktor kesesuaian lahan adalah kondisi kesuburan tanah. Tetapi perlu diingat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tidak hanya tanah. Faktor-faktor yang lain, misalnya: curah hujan, tinggi tempat, pengolahan tanah, dan sebagainya. Karena itu, tanah yang subur belum tentu dapat sesuai menjadi lahan pertanian yang baik. Dengan kata lain, kesesuaian tanah pertanian belum tentu sama dengan kesesuaian lahan pertanian.

 

Tanya :

Mengapa kesesuaian lahan perlu diperhatikan dalam pengembangan pertanian ?

Jawab :

Pengembangan pertanian dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi pertanian yaitu peningkatan hasil pertanian melalui penambahan input tiap satuan luas lahan pertanian. Sedangkan ekstensifikasi pertanian yaitu peningkatan hasil pertanian dengan menambah luas lahan pertanian.

Kesesuaian lahan sangat diperlukan pada kedua program tersebut. Misalnya: program intensifikasi dengan penambahan bibit unggul baru. Supaya bibit tersebut dapat tumbuh dengan optimal, maka harus disesuaikan dengan kondisi lahannya. Demikian juga, program ekstensifikasi harus memperhatikan kesesuaian lahan untuk pertanian. Kalau tidak, maka akan menghadapi kendala-kendala dalam pengembangannya.

 

Tanya :

Apakah semua jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik pada wilayah yang kesesuaian lahannya untuk pertanian ?

Jawab :

Pada umumnya semua jenis tanaman dapat tumbuh di wilayah yang kesesuaian lahannya untuk pertanian. Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua jenis tanaman dapat tumbuh optimal di wilayah tersebut. Hal ini karena tiap-tiap jenis tanaman mempunyai persyaratan tumbuh yang berbeda-beda. Dengan demikian, supaya produksi dapat optimal maka harus dipadukan antara kesesuaian lahan untuk pertanian dan persyaratan tumbuh tiap-tiap jenis tanaman (crops requirement).

 

Tanya :

Apakah klasifikasi kesesuaian lahan dapat berubah ?

Jawab :

Klasifikasi kesesuaian lahan dapat dibagi 2 macam yaitu klasifikasi kesesuaian sekarang (current suitability) dan klasifikasi kesesuaian potensial (potential suitability).

Klasifikasi kesesuaian sekarang menunjukkan kesesuaian terhadap penggunaan lahan yang ditentukan dalam keadaan sekarang, tanpa ada perbaikan yang berarti. Sedangkan klasifikasi kesesuaian potensial menunjukkan kesesuaian terhadap penggunaan lahan yang ditentukan dari satuan lahan dalam keadaan yang akan datang setelah diadakan perbaikan utama tertentu yang diperlukan.

Dengan demikian, klasifikasi kesesuaian lahan sifatnya tidak tetap atau dapat berubah.

 

Tanya :

Bagaimana kategori dari klasifikasi kesesuaian lahan ?

Jawab :

Klasifikasi kesesuaian lahan terdiri dari empat kategori yang merupakan tingkatan generalisasi yang bersifat menurun yaitu :

  1. Ordo kesesuaian lahan (Order) : menunjukkan jenis kesesuaian atau keadaan kesesuaian secara umum,

2. Kelas kesesuaian lahan (Class) : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo,

3. Sub-kelas kesesuaian lahan (Sub-class) : menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam sub-kelas,

4. Satuan kesesuaian lahan (Unit) : menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil yang diperlukan dalam pengelolaan di dalam sub-kelas.

Kesesuaian lahan pada tingkat ordo menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Karena itu, ordo kesesuaian lahan dibagi dua yaitu :

1. Ordo S : sesuai (suitable),

2. Ordo N : tidak sesuai (not suitable).

Kesesuaian lahan pada tingkat kelas meliputi :

1. Kelas S1 : sangat sesuai (highly suitable),

2. Kelas S2 : cukup sesuai (moderately suitable),

3. Kelas S3 : sesuai marginal (marginally suitable),

4. Kelas N1 : tidak sesuai pada saat ini (currently suitable),

5. Kelas N2 : tidak sesuai permanen (permanently not suitable).

 

Tanya :

Dapatkah diberikan contoh klasifikasi kesesuaian lahan ?

Jawab :

Salah satu contoh klasifikasi kesesuaian lahan menurut kelas adalah sebagai berikut (Sitorus, 1985) :

Kelas S1 : Lahan sangat sesuai untuk pertanian padi sawah tadah hujan

- kedalaman tanah efektif lebih dari 75 cm

- kelas butir berlempung halus atau lebih halus

- permeabilitas lambat

- tanpa ada atau sedikit batu di permukaan lahan (< 5%)

- kesuburan tanah tinggi

- pH tanah lapisan atas antara 5,5 - 7,5

- Kejenuhan Al < 80 %

- kedalaman pirit > 100 cm

- lereng < 3% dengan > 80% dari wilayah rata

- tinggi dari muka laut < 500 m

- zone agroklimat B3 atau lebih basah

- drainase terhambat

- tanpa adanya banjir/genangan

- salinitas < 1500 mmhos/cm

- untuk tanah gambut atau bergambut harus dari bahan saprik dengan ketebalan

< 50 cm.

WB00693_.gif (1755 bytes)  WB00694_.gif (1732 bytes)