GERAKAN SOSIAL SEBAGAI SUMBER
PERUBAHAN SOSIAL

Masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami suatu perubahan sosial. Perubahan sosial tersebut bersumber dari terjadinya krisis ekonomi dan krisis politik pada masyarakat. Krisis ekonomi mengawali terjadinya perubahan sosial yang dilanjutkan dengan krisis kepercayaan kepada kepemimpinan nasional. Peningkatan praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme terutama dalam bidang politik dan ekonomi memunculkan reaksi-reaksi masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang berreaksi adalah mahasiswa.

Gerakan mahasiswa yang disertai oleh berbagai peristiwa, diantaranya peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti dan pendudukan gedung MPR dan DPR oleh mahasiswa telah mempercepat terjadinya pergantian kepemimpinan nasional. Pergantian kepemimpinan ini membawa masyarakat Indonesia ke dalam suatu perubahan terutama dalam bidang politik. Perubahan politik yang terjadi diantaranya adalah perubahan sistem pemilu baik dari keanggotaannya maupun perundang-undangannya.

Reaksi terhadap ketidakadilan baik dalam bidang politik maupun ekonomi menjadi sumber perubahan sosial. Hal ini menunjukkan perubahan masyarakat Indonesia bersumber dalam masyarakatnya sendiri. Reaksi-reaksi tersebut umumnya dilakukan secara kolektif, yang muncul dari kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat seperti kelompok mahasiswa, kelompok cendekiawan, kelompok elit politik dan lain sebagainya. Reaksi mahasiswa sebagai salah satu kelompok dalam masyarakat dapat kita kaji dalam kerangka analisa gerakan sosial.

Gerakan Sosial

Giddens, Light, Keller dan Calhoun mengemukakan bahwa suatu perilaku kolektif dapat digolongkan sebagai suatu gerakan sosial bila memiliki tujuan atau kepentingan bersama, dan menggunakan cara-cara di luar institusi-institusi yang ada. Gerakan sosial ditandai oleh suatu tujuan jangka panjang untuk merubah atau mempertahankan masyarakat atau institusi di dalamnya. Tujuan dari gerakan mahasiswa di Indonesia bisa dilihat dari tuntutan-tuntutan mereka, seperti penghapusan korupsi, kolusi dan nepotisme, hapuskan dwifungsi ABRI dan sebagainya.

Gerakan sosial juga ditandai oleh penggunaan cara-cara yang bertentangan atau diluar institusi yang ada. Penyampaian tuntutan-tuntutan yang dilakukan dalam gerakan mahasiswa bertentangan dengan cara penyampaian pendapat yang ditetapkan oleh pemerintah. Penyampaian pendapat semestinya disampaikan melalui wakil rakyat di MPR. Karena ketidakpercayaan masyarakat, dalam hal ini mahasiswa, terhadap wakil rakyat disertai dengan tidak berfungsinya jalur komunikasi yang ada, mahasiswa mendemonstrasikan pendapatnya. Melalui uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gerakan mahasiswa merupakan suatu gerakan sosial. Karena gerakan yang dilakukan para mahasiswa jelas memiliki tujuan jangka panjang dan menggunakan cara-cara di luar institusi yang ada.

Karakteristik dasar dalam setiap gerakan sosial juga tercermin dalam gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa. Karakteristik pertama keanggotaannya bersifat tidak menentu atau berubah-ubah. Gerakan mahasiswa tidak memiliki jumlah peserta yang tetap di setiap aksi-aksinya. Mahasiswa yang ikut disetiap gerakannya biasanya berubah-ubah. Sebagai contoh seorang mahasiswa Universitas Terbuka yang menjadi peserta ketika menduduki gedung MPR/DPR namun tidak menjadi peserta aksi di Universitas Trisakti, dan dia menjadi peserta kembali dalam aksi dalam peristiwa Semanggi. Hal ini menunjukan mahasiswa yang ikut dalam gerakan sosial tidak tetap dan jumlahnya berubah-ubah. Peserta aksi mahasiswa juga tidak dibatasi karena siapa saja yang memiliki identitas sebagai mahasiswa dapat menjadi peserta dalam gerakan mahasiswa.

Karakteristik kedua, kepemimpinannya ditentukan oleh reaksi yang informal dari para anggotanya. Pemimpin dalam setiap gerakan mahasiswa di pilih berdasarkan situasi dan kebutuhan saat itu, dan pemilihannya tidak dilakukan secara formal oleh seluruh pesera demonstrasi. Pada gerakan mahasiswa yang menduduki gedung MPR/DPR kepemimpinan berisi gabungan dari setiap kelompok mahasiswa, misalnya pemimpin dari Universitas Terbuka, pemimpin dari Universitas Trisakti, pemimpin dari Universitas Indonesia dan lain-lain. Sedangkan pada gerakan mahasiswa di Semanggi pemimpinnya berbeda dengan gerakan di peristiwa Trisakti. Kepemimpinan itu biasanya berbeda dari setiap aksinya. dan tidak semua peserta aksi ikut menentukan pemimpinnya, bahkan bisa jadi peserta demonstrasi bisa tidak mengenal pemimpinnya.

Karakteristik ketiga, tindakannya dijalankan secara terus menerus. Gerakan mahasiswa terus dilakukan selama tujuan atau tuntutannya belum tercapai. Mahasiswa terus melakukan demonstrasi dan memunculkan beberapa peristiwa, seperti peristiwa trisakti, peristiwa pendudukan Gedung MPR/DPR, peristiwa semanggi dan sebagainya. Aksi-aksi ini akan terus mereka serukan selama tujuan mereka belum tercapai, peristiwa semanggi tanggal 13 November 1998 merupakan contoh akibat tuntutan mahasiswa mengenai dwifungsi ABRI tidak di dengar. Kemudian terjadi kembali reaksi mahasiwa akibat dimanfaatkannya militer oleh pemerintah dengan disahkannya UU Penanggulangan Keadaan Bahaya, yang melahirkan peristiwa semanggi II tahun 1999.

Pengklasifikasian Gerakan Sosial

Gerakan sosial dapat diklasifikasikan melalui beberapa kriteria yaitu bidang kegiatan, jenis perubahan, arah perubahan, cakupan fungsional dan keteraturan sosial. Selain kriteria tersebut gerakan sosial dapat diklasifikasikan menurut tujuan yang hendak dicapai oleh suatu gerakan sosial. Tokoh yang menggunakan kriteria ini adalah William Kornblum.  Kriteria tersebut memberikan empat klasifikasi, yaitu: revolutionary movement, reformist movement, conservative movement, dan reactionary movement.

Gerakan sosial disebut sebagai Revolutionary Movement, apabila bertujuan untuk merubah institusi dan stratifikasi masyarakat. Gerakan ini terkait dengan revolusi sosial yang merupakan suatu transformasi menyeluruh tatanan sosial, termasuk di dalamnya institusi pemerintahan dan stratifikasi sosial. Contoh dari gerakan ini adalah revolusi di Rusia pada tahun 1917 dan revolusi di Cina pada tahun 1949. Pada kedua revolusi tersebut sistem budaya, sosial, politik dan ekonomi masyarakatnya berubah menjadi sistem komunis. Suatu revolusi harus memenuhi tiga kriteria, yaitu (1) melibatkan massa dalam gerakan sosial, (2) menghasilkan proses reformasi atau perubahan, (3) melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan.

Gerakan sosial yang bertujuan untuk merubah sebagian institusi dan nilai diklasifikasikan sebagai Reformist Movement. Boedi Oetomo yang didirikan tahun 1908 di Jakarta merupakan gerakan reformis, karena gerakan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan formal kepada pribumi. Dimana pada saat itu yang mendapatkan pendidikan formal hanya para bangsawan pribumi.

Gerakan sosial ini bertujuan untuk mempertahankan nilai dan institusi masyarakat. Contoh dari gerakan ini adalah gerakan konservative wanita STOP ERA (Equal Rights Amandement). Gerakan ini menentang usaha kaum feminis pada tahun 80-an untuk melakukan perubahan pada konstitusi demi menjamin persamaan hak pria dan wanita.

Reactionary Movement adalah suatu gerakan sosial yang bertujuan untuk mengganti institusi dan nilai masa kini dengan institusi dan nilai masa lampau. Contoh yang diberikan Kornblum adalah gerakan Ku Klux Klan di Amerika Serikat. Organisasi rahasia ini berusaha mengembalikan keadaan di Amerika serikat ke masa lampau di kala institusi-institusi sosial mendukung keunggulan orang kulit putih di atas orang kulit Hitam (White Supremacy).

Melalui pengklasifikasian dari William Kornblum ini kita bisa melihat bahwa gerakan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa dapat dimasukkan kedalam Reformist movement. Reformist yang sekarang di Indonesia diterjemahkan menjadi reformasi memperlihatkan bahwa tujuan dari gerakan mahasiswa adalah untuk merubah sebagian dan institusi dan nilai yang selama zaman orde baru diberlakukan. Pada masa Orde Baru beberapa institusi telah dicemari oleh praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme atau yang disingkat dengan KKN. KKN ini juga seakan-akan telah menjadi nilai yang dianggap benar karena hampir semua bidang kehidupan tidak terlepas dari praktek-praktek tersebut. Mulai dari pembuatan KTP hingga ke tender-tender pembangunan tak terlepas dari KKN. Nilai inilah yang dituntut oleh mahasiswa untuk dihapuskan, sedangkan nilai-nilai lainnya yang baik seperti nasionalisme, gotong royong, tetap dipertahankan.

Tahapan Gerakan Sosial

Gerakan sosial tidak bersifat statis tetapi dapat mengalami perkembangan. Rex Hopper mengemukakan empat tahap perkembangan gerakan sosial, yaitu tahap reaksi masal, tindakan masal, pemantapan formal, dan revolusi. Gerakan mahasiswa di Indonesia saat ini bisa kita lihat dalam tiap tahap perkembangan tersebut.

Pada tahap ini gerakan sosial menghadapi dua kemungkinan tindakan polisi atau militer. Pertama, polisi atau militer berusaha memadamkan atau mematahkan gerakan itu. Kedua, polisi atau militer membiarkan dan mengamati saja dari jauh gerakan sosial yang terjadi. Tindakan polisi atau militer terhadap gerakan mahasiswa saat itu cenderung untuk memadamkan dan mematahkan. Peristiwa trisakti merupakan tindakan polisi atau militer yang sangat jelas menunjukan keinginan mematahkan gerakan mahasiswa. Selanjutnya insiden-insiden antara mahasiswa dan militer masa pemerintahan Habibie menunjukkan keinginan memadamkan gerakan mahasiswa. 

  • Tahap pemantapan formal, pada tahap ini apa yang sudah diperjuangkan bersama sudah dituangkan dalam bentuk yang jelas hubungannya dengan ideologi tertentu. Tujuan gerakan mahasiswa mulai memasuki tahap pemantapan formal sejak diadakannya pemilu, kemudian sidang umum, dan saat ini berjalannya sistem pemerintahan yang baru. Keterlibatan mahasiswa dalam pemilu merupakan cerminan yang jelas bahwa tuntutan yang disuarakan mahasiswa sudah mulai dituangkan dalam suatu institusi, dalam hal ini institusi politik. Proses pemilu hingga ke sidang umum, serta sidang Umum MPR berusaha menghapuskan KKN.
  • Tahap revolusi, tahap ini dapat terjadi jika mereka yang terlibat dalam gerakan sosial itu menuntut pergeseran kekuasaan dari yang berkuasa ke kelompok yang ingin berkuasa. Selain itu adanya penggunaan kekerasan sebagai metode untuk menggeser kekuasaan itu. Hingga saat ini tahap terakhir dari gerakan sosial tidak terlihat dari gerakan mahasiswa. Mereka yang terlibat dalam gerakan mahasiswa juga tidak dapat secara langsung menggantikan pemerintahan Orde Baru, namun tetap harus melalui aturan main yang berlaku yaitu melalui pemilu dan sidang umum. Revolusi ini tidak menjadi tuntutan dari gerakan mahasiswa, karena gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah reformist movement bukan revolutionary movement.
  • Gerakan mahasiswa Indonesia dapat diidentifikasikan suatu sebagai gerakan sosial, yang merupakan sumber internal terjadinya perubahan sosial di Indonesia. Melalui tujuan gerakan mahasiswa kita dapat mengidentifikasi sebagai gerakan sosial yang bertipe reformist movement. Dengan demikian yang diharapkan dalam gerakan mahasiswa adalah perubahan sebagian dari institusi dan nilai yang ada dalam masyarakat Indonesia. Gerakan mahasiswa di Indonesia saat ini telah berkembang hingga tahap pemantapan formal, dan tujuan dari gerakan sosial telah dituangkan ke dalam suatu institusi.
     
     

    Sumber: