D.  Kuota Impor

 

Kuota impor merupakan salah satu kebijaksanaan non tarif (non tariff barriers), yaitu kebijakan perdagangan selain bea masuk yang dapat menimbulkan distorsi, sehingga mengurangi potensi manfaat perdagangan intyernasional.  Kuota impor itu sendiri diarti-kan sebagai tindakan sepihak yang dilakukan secara sepihak dengan jalan menentukan batas maksimum jumlah barang yang boleh diimpor selama jangka waktu tertentu. Tujuan pokoknya adalah untuk melindungi kepentingan industri dan konsumen dalam negeri.  Misalnya kebutuhan beras untuk konsumen dalam negeri sebesar 1 juta ton.  Sedangkan kemampuan produksi beras di dalam negeri adalah sebesar 500 ribu ton, maka yang jumlah impor yang diizinkan adalah sebesar 500 ribu ton.

Sesuai ketentuan GATT/WTO, kuota ini hanya boleh digunakan untuk  : (1) melindungi hasil pertanian; (2) menjaga keseimbangan neraca pembayaran; dan (3) melindungi kepentingan ekonomi nasional.   Jenis-jenis kuota impor dapat dibedakan atas :

1.   Absolute/unilateral quota, yaitu sistem kuota yang ditetapkan secara sepihak (tanpa negosiasi)

2.   Negotiated/bilateral quota, yaitu sistem kuota yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan atau menurut perjanjian

3.   Tariff quota, yaitu pembatasan impor yang dilakukan dengan mengkombinasikan sistem tarif dengan kuota

4.  Mixing quota, yaitu pembatasan impor bahan baku untuk melindungi kepentingan industri dalam negeri.

 

Efek ekonomi  pengenaan kuota impor dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan parsial, seperti yang digunakan pada tarif dengan sedikit perbedaan . Perhatikan gambar dibawah ini.

 

 

Dimana : D adalah kurva permintaan DN, S adlah kurva penawaran DN, Sw adalah kurva penawaran LN , Sd+w adalah jumlah penawaran DN dan LN, dan Sd+w adalah jumlah penawaran DN dan LN setelah kuota.  Efek ekonomi dari kuota adalah sebagai berikut :

   Setelah free trade, harga yang terjadi adalah P1.  Produksi Dnadalah  sebesar OQ1 dan konsumsi sebesar OQ2, sehingga untuk mencukupi kebutuhan DN dilakukan impor adalah sebesar Q1Q2 ( = BC).

Misalnya untuk melindungi produsen dalam negeri maka pemerintah melakukan kuota impor sebesar Q3Q4  ( = ED).  Kurva penawaran DN dan LN akan bergeser dari Sw+d menjadi Sw+d.  Pengenaan kuota impor akan menyebabkan :

a.        harga naik dari OP1 menjadi OP2

b.        konsumsi DN turun dari OQ2 menjadi OQ4

c.        produksi DN naik dari OQ1 menjadi OQ3

d.        impor akan turun dari Q1Q2 (= BC) menjadi Q3Q4 (=ED)

e.     pemilik kuota akan mendapat keuntungan sebesar P1P2 per unit produk (P1Px Q3Q4)

f.     biaya proteksi kuota (cist of quota protection) adalah sebesar segitiga BEG + HDC

g.    redistribusi pendapatan dari konsumen ke produsen sebe-sar ruang P1P2EB

 

Perbedaan pokok efek ekonomi kuota impor dengan tarif impor adalah jika pada pengenaan kuota, laba kuota dinikmati oleh importir dan produsen,  sedangkan pada tarif impor, penerimaan tarif masuk kepada pemerintah.  Melalui berbagai kebijaksanaan penerimaan tarif ini dapat dikembalikan kepada konsumen.   Untuk mengurangi laba kuota jatuh sepenuhnya ketangan importir, maka pemerintah dapat menjual izin mengimpor suatu barang melalui lisensi impor.