Model Tobin

Untuk menerangkan model Tobin ini, terlebih dahulu perlu dikemukakan model fungsi produksi neoklasik yang dikembangkan oleh Swandan Solow oleh karena model Tobin memperluas model fungsi produksi neoklasik. Model fungsi produksi neoklasik dinyatakan sebagai berikut:

 

Y=F(K.L)                                                                                                             (8)

 

dimana

Y    = produksi (output) riil

L    = tenaga kerja

K   = modal

 

Fungsi produksi agregat ini menunjukkan jumlah output yang maksimum yang dapat diperoleh berdasarkan jumlah modal dan tenaga buruh yang digunakan dengan tingkat teknologi tertentu yang ada.

L dalam persamaan (8) di atas adalah permintaan terhadap tenaga buruh. Penawaran tenaga buruh diasumsikan tumbuh berdasarkan persentase tertentu dari pertumbuhan penduduk. Pada suatu waktu tertentu, penawaran tenaga buruh ditunjukkan dalam persamaan berikut:

Lt=Loent                                                                                                       (9)

 

dimana

n   = tingkat pertumbuhan penduduk

Lo = jumlah tenaga buruh pada saat awal

e   = logaritma natural

t    = waktu

Permintaan terhadap tenaga buruh selalu sama dengan penawarannya, yang bermakna bahwa tingkat full employment diasumsikan dalam model neoklasik ini.

 

Faktor modal adalah faktor yang menunjukkan kekayaan. Kekayaan ini adalah dalam bentuk investasi atau pertambahan stok modal. Apa yang diinvestasikan adalah bagian pendapatan yang tidak dikonsumsikan. Artinya ada tabungan. Hubungan antara investasi dengan tabungan adalah sebagai berikut:

            =    sY (K,L)                                                                    (10)

 

dimana

I     = investasi

s    = rasio tabungan (saving ratio) yaitu bagian pendapatan yang
         tidak dikonsumsikan

 

Persamaan (10) menunjukkan bahwa pertumbuhan modal tergantung pada teknologi dan savings ratio. Dengan perkataan lain, akumulasi modal tergantung pada tingkat produktivitas dan perilaku menghemat.

Dalam suatu ekonomi yang betumbuh, tingkat equilibrium ditandai oleh adanya suatu proses pertumbuhan yang terus menerus. Dalam situasi seperti ini, akumulasi modal, pertumbuhan produksi dan peningkatan konsumsi berlangsung pada tingkat yang ditentukan oleh pertumbuhan faktor buruh. Persamaan (10) dapat dinyatakan dalam bentuk per kapita sebagai berikut:

 

nk=sf(k)                                                                                                      (11)

 

dimana

k    = K/L

n    = tingkat pertumbuhan tenaga buruh

 

 

Meningkatnya saving ratio akan mengakibatkan disequilibrium. Dengan asumsi n yang konstan, ekuilibrium akan dipulihkan dengan peningkatan intensitas modal, k. pada periode transisi, faktor modal akan bertambah  lebih cepat dari faktor buruh. Tetapi akhirnya, tingkat pertumbuhan faktor modal akan sejajar dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Tingkat ekuilibrium yang baru akan ditandai dengan bertambah besarnya nilai stok modal (capital stock) dan bertambah tingginya volume produksi.

Tobin memperluas model fungsi produksi neoklasik dengan memasukkan faktor uang ke dalam sistem produksi. Model Tobin dinyatakan sebagai berikut:

 

                                                                                               (12)

dimana

M   = jumlah uang yang beredar

P   = tingkat harga umum

u    = persentase perubahan jumlah uang yang beredar

p       = persentase perubahan tingkat harga umum

 

Pendapatan yang dapat dibelanjakan dalam suatu ekonomi adalah pendapatan nasional ditambah dengan nilai riil pertambahan uang yang beredar.

Menurut Tobin, keseluruhan unit ekonomi di dalam masyarakat mempunyai dua jenis harta yaitu modal fisik (physical capital) dan saldo riil keuangan (real money balances). Jumlah uang yang beredar mempengaruhi tingkat pendapatan yang dapat dibelanjakan, yang selanjutnya mempengaruhi tingkat konsumsi dan tabungan.

 

Dengan asumsi adanya suatu porsi tertentu pendapatan yang dapat dibelanjakan (Yd) dijadikan sebagai tabungan dan suatu porsi tertentu dari pendapatan (Y) dipegang oleh anggota masyarakat sebagai saldo riil keuangan , maka dipostulasikan bahwa saldo riil keuangan ini akan mengandung biaya yaitu sebesar expected opportunity cost saldo riil keuangan ini. Tingkat expected opportunity cost ini adalah perbedaan diantara pendapatan yang dapat diraih dari mempertahankan satu unit modal fisik dengan pendapatan yang dapat diraih dari mempertahankan saldo riil keuangan. Jika rate of return yang diharapkan dari modal fisik sama dengan yang sebenarnya terjadi, maka tingkat expected opportunity cost modal fisik ini sama dengan r + p, dimana r adalah tingkat bunga riil.

 

Dengan memformulasikan fungsi produksi atau pendapatan nasional seperti berikut:

 

                                                                                             (13)

dimana

K   = modal fisik

L    = tenaga buruh

 

Maka pertambahan stok modal atau investasi (I) dapat dinyatakan sebagai berikut:

 

   

                                                                                                 (14)

 

dimana

s    = porsi pendapatan yang ditabung

 

Dengan mensubstitusikan Yd seperti yang dinyatakan dalam persamaan (13) kedalam persamaan (14), kita peroleh :

 

                                                                        (15)

 

Dengan asumsi (1-s) > 0 dan u-p > 0, maka Tobin mempostulasikan bahwa pertambahannya saldo keuangan yang dipertahankan (M/P) akan mengurangi intensitas modal fisik sehingga berpengaruh negatif terhadap tingkat output dalam suatu ekonomi yang telah mengalami monetisasi, inflasi akan mengakibatkan bertambahnya intensitas modal dalam proses produksi. Atau dengan perkataan lain, inflasi akan memperbesar biaya alternatif mempertahankan saldo riil keuangan, mengurangi permintaan akan uang dan menaikkan akan kecenderungan untuk mempertahankan modal fisik.

 

Model Tobin menunjukkan bahwa akumulasi saldo riil keuangan berkompetisi investasi fisik. Menaiknya tingkat bunga secara nominal sebagai akibat adanya inflasi akan mengakibatkan pergeseran ke arah modal fisik, menjauhi saldo fisik keaungannya, sebaliknya, menurunnya tingkat bunga nominal sebagai akibat adanya deflasi akan menguruangi kecenderungan akumulasi modal fisik dan permintaan akan saldo riil keuangan akan bertambah. Ini disebut sebagai efek substitusi (Subtitution Effect).

 

Lefari dan Pattinkin memperluas analisis Tobin dengan mengemukakan bahwa uang bukan hanya sebagai faktor kekayaan atau alat pertambahan modal. Menurut mereka, uang adalah barang produksi dalam kaitannya dalam proses produksi. Fungsi produksi yang berikut sebagai modifikasi fungsi produksi neoklasik:

 

                                                                                               (16)

 

Dimana M/P adalah saldo riil keuangan

 

Fungsi investasi ditunjukkan sebagai berikut:

 

                      (17)

 

Dengan menspesifikasikan uang sebagai barang produksi, maka dengan bertambahnya tingkat inflasi tidaklah dengan sendirinya akan mengakibatkan efek positif terhadap akumulasi modal fisik.

 

Menurut Levhari dan Patinkin, inflasi akan mengakibatkan larutnya input dalam proses produksi dalam saldo tunai sehingga mengurangi output darimana modal fisik diperoleh. Berkurangnya saldo riil keuangan akan mengurangi output. Ini disebut efek pendapatan (Income Effect).

 

Efek pendapatan ini dapat merupakan kekuatan yang akan mengurangi efek substitusi yang dikemukakan Tobin dalam modelnya, sehingga akhirnya kita dapat menyatakan bahwa meningkatnya inflasi akan menimbulkan efek positif terhadap intensitas modal dalam proses produksi (capital deepening). Disatu sisi inflasi dapat memnimbulkan efek positif terhadap komposisi modal dimana terjadi peertambahan modal fisik dibandingkan dengan saldo riil keuangan. Tetapi disisi lain, inflasi dapat mengakbitkan menurunnya output, dimana tabungan sebagai sumber pemupukan modal fisik diperoleh.

 

[ Kembali ]