Bahan baku merupakan bahan langsung, yaitu bahan yang membentuk suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dari produk jadi. Bahan baku adalah bahan utama atau bahan pokok dan merupakan komponen utama dari suatu produk. Bahan baku biasanya mudah ditelusuri dalam suatu produk dan harganya relative tinggi dibandingkan dengan bahan pembantu. Misalkan produk kursi rotan bahan bakunya rotan. Adapun bahan pembantu dari produk kursi rotan, seperti paku, lem kayu, dempul, dan lain-lain.

Adapun dasar penyusunan anggaran bahan baku bersumber dari anggaran produksi, rencana persediaan bahan baku, dan standar bahan baku dipakai. Formula yang dipergunakan untuk menyusun anggaran bahan baku sebagai berikut :

Bahan baku dipakai = unit yang diproduksi x srandar pemakaian bahan baku 

Bahan baku dipakai dalam satuan uang disebut biaya bahan baku. Biaya bahan baku dalam satuan barang dikali harga pokok barang per satuan disebut biaya bahan baku.

Besarnya bahan baku yang dimiliki perusahaan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

 

a. Anggaran produksi  

Semakin besar produksi yang dianggarkan semakin besar bahan baku yang disediakan. Sebaliknya semakin kecil produksi yang dianggarkan semakin kecil juga bahan baku yang disediakan.
 

b. Harga beli bahan baku

Semakin tinggi harga beli bahan baku, semakin tinggi persediaan bahan baku yang direncanakan. Sebaliknya semakin rendah harga bahan baku yang dibeli, semakin rendah persediaan bahan baku yang direncanakan.
 

c. Biaya penyimpanan bahan baku di gudang (carrying cost) dalam hubungannya dengan biaya extra yang dikeluarkan sebagai akibat kehabisan persediaan (stockout cost).
 

d. Ketepatan pembuatan standar pemakaian bahan baku.

Semakin tepat standar bahan baku dipakai yang dibuat, semakin kecil persediaan bahan baku yang direncanakan. Sebaliknya bila standar bahan baku dipakai yang dibuat sulit untuk mendekati ketepatan, maka persediaan bahan baku yang direncanakan akan besar.
 

e. Ketepatan pemasok (penjual bahan baku) dalam menyerahkan bahan baku yang dipesan.

 

f. Jumlah bahan baku setiap kali pesan.
Besarnya pembelian bahan baku tiap kali pesan untuk mendapatkan biaya pembelian minimal dapat ditentukan dengan kuantitas pesanan ekonomis (economical order quantity, EOQ).

 

Economical order quantity (EOQ) adalah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Dalam menghitung EOQ biasanya mempertimbangkan dua jenis biaya yang bersifat variable, yaitu :
 

1. Biaya pemesanan (order costing) yang selalu berubah-ubah sesuai dengan
frekuensi pemesanan.
 

2. Biaya penyimpanan (carryng cost) yang berubah-ubah sesuai dengan jumlah
bahan baku yang disimpan.

 

Jadi EOQ dapat diformulasikan sebagai berikut :

Dimana :

R = Jumlah bahan baku yang akan dibeli dalam suatu jangka waktu tertentu.

S = Biaya pemesanan

P = Harga per unit bahan baku.

I = Biaya penyimpanan setiap (persentase dari persediaan rata-rata)

 

Contoh :

Misalkan bahan baku berupa kedelaiyang diperlukan untuk membuat kecap asli selama tahun 2004 sebanyak 364 ons. Harga bahan baku berupa kedelai per ons sebesar Rp 160. Biaya pesanan setiap kali pesan Rp 728. Biaya penyimpanan bahan baku di gudang 40%.


Berarti cara pembelian yang paling ekonomis untuk setiap kali pesan sebanyak 91 ons kedelai. Bila dalam setahun diperlukan bahan baku kedelai sebanyak 364 ons, maka dalam setahun dilakukan 4 kali pesanan (364 : 91), yaitu tiga bulan sekali memesan.

Kebutuhan kedelai sebanyak 364 ons dapat saja dilakukan dengan cara :

2 kali pesanan dan setiap kali pesan sebanyak 182 ons

4 kali pesanan dan setiap kali pesan sebanyak 91 ons

7 kali pesanan dan setiap kali pesan sebanyak 52 ons

dari ketiga cara tersebut yang paling ekonomis adalah bila dilakukan 4 kali pesanan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan perhitungan jumlah biaya setahun sebagai berikut :



    Ternyata jumlah biaya setahun yang terendah (ekonomis) sebesar Rp 62.244 bila pesanan dilakukan 4 kali dalam setahun. Seandainya perusahaan bahan baku (supplier) memberikan potongan harga 10% bila setiap kali pesanan sebanyak 182 ons.


Dengan demikian lebih ekonomis 2 kali pesan apabila terdapat potongan harga 10% karena jumlah biaya setahun lebih murah yaitu sebesar Rp 59.114 perhitungan EOQ dengnan jumlah biaya setahun Rp 62.244. karena itu tawaran supplier memberikan potongan harga 10% untuk setiap pesanan 182 ons dapat disetujui.

Bahan baku berupa kedelai yang dipesan setiap kali pesan 91 ons tersebut pada saat kapan diadakan pesanan (order). Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita menggunakan perhitungan reorder point (saat pemesanan kembali)

 

Reorder Point

Reorder point adalah saat harus dilakukan pesanan kembali bahan yang diperlukan, sehingga kedatangan bahan yang dipesan tersebut tepat pada waktu persediaan di atas safety stock sama dengan nol.

Safety stock adalah persediaan inti dari bahan yang harus dipertahan kan untuk menjamin kelangsungan usaha, artinya safety stock tidak boleh dipakal kecuali dalam keadaan darurat, seperti : keadaan bencana alam, bahan di pasaran dalam keadaan kosong karena huru-hara, dan lain-lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya safety stock bahan baku, antara lain sebagai berikut :

* Kebiasaan leveransir menyerahkan bahan baku yang dipesan apakah tepat waktu atau terlambat. Bila sering terlambat berarti perlu safety stock yang besar.
 

* Besar kecilnya barang yang dibeli setiap saat. Bila bahan baku yang dibeli setiap saat jumlah besar, maka tidak perlu safety stock yang besar.
 

* Kemudahan menduga bahan baku yang diperlukan. Semakin mudah menduga bahan baku yang diperlukan semakin kecil safety stock.
 

* Hubungan biaya penyimpanan (carrying cost) dengan biaya ekstra
kekurangan persediaan (stockout cost).

 

Contoh :

Misalkan keperluan bahan baku kedelai selama setahun sebanyak 364 ons dan keperluan bahan baku setiap minggu 7 ons (setahun 52 minggu). Lead time yaitu waktu yang diperlukan untuk memesan bahan dari waktu memesan sampai dengan bahan diterima di gudang, misalnya 4 minggu. Harga bahan baku kedelai per ons sebesar Rp 160. Biaya pemesanan setiap kali pean sebesar Rp 728.

Persediaan bahan baku yang ada sebanyak 40 ons. Biaya penyimpanan bahan baku di gudang 40%.

Safety stock ditetapkan sebesar 50% dari penggunaan selama lead time. Dari data tersebut dapat dihitung reorder point dan persediaan bahan baku yang direrncanakan sebagai berikut.

 

Pemakaian selama lead time = 4x7 ons = 28 ons.

Safety stock = 50% x 28 ons = 14 ons.

Reorder point = 28 ons + 14 ons = 42 ons.

Artinya pemesanan sebanyak 91 ons dilakukan pada saat persediaan tersisa 42 ons.

Persediaan maksimum  = safety stock + EOQ

  = 14 ons + 91 ons = 105 ons.

Persediaan rata-rata yang merupakan aktiva lancar = 59,5 ons 14 ons = 45,5 ons.

Bila persediaan yang ada 40 ons, berarti persediaan bahan baku awal yang merupakan aktiva lancar = 40 ons 14 ons = 26 ons.

Adapun rencana persediaan bahan baku akhir yang merupakan aktiva lancar = EOQ persediaan awal, yaitu 91 ons 26 ons = 65 ons.

Bila kita ingin menghitung tingkat perputaran persediaan (TPP) bahan baku dapat dipergunakan formula sebagai berikut.


                

Penyusunan Standar Anggaran Bahan Baku Dipakai

Standar dalam penyusunan anggaran bahan baku terdiri dari standar bahan baku, dan harga standar bahan baku.

a. Kuantitas standar bahan baku.

Kuantitas standar bahan baku adalah taksiran sejumlah unit bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk tertentu, dimulai dari penetapan spesifikasi produk, baik mengenai ukuran,bentuk, warna, karakteristik pengolahan produk, maupun mutunya. Kemudian dibuat kartu bahan baku yang berisi spesifikasi dan jumlah tiap-tiap jenis bahan baku yang akan diolah menjadi produk selesai. Kuantitas standar bahan baku  dapat ditentukan dengan menggunakan :

    Penyelidikan teknis

    Analisis catatan masa lalu dalam bentuk :
 

o       Menghitung rata-rata bahan baku dipakai untuk produk atau pekerjaan yang sama dalam periode tertentu di masa lalu.

o       Menghitung rata-rata bahan baku dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan yang paling baik dan paling buruk di masa lalu.

o       Menghitung rata-rata bahan baku dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan paling baik.
 

b. Harga standar bahan baku

Adalah taksiran harga perunit bahan baku. Harga standar ini pada umumnya ditentukan dari daftar harga pemasok, catalog atau informasi lain yang tersedia yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan harga di masa yang akan datang.
 

c. Standar bahan baku dipakai

Anggaran bahan baku dipakai dapat disusun dalam unit dan dalam rupiah. Anggaran bahan baku dipakai yang disusun dalam rupiah (satuan uang) disebut dengan anggaran biaya bahan baku. Anggaran bahan baku disusun berdasarkan anggaran bahan baku dipakai dalam unit (satuan barang).

 

[ Home ]