wpedaedaeb.png







wp48ac800a.png
wp0c34cfab.png

Augmentasi adalah manipulasi musuh alami secara langsung guna meningkatkan efektifitasnya. Praktek augmentasi didasarkan pada pengetahuan atau asumsi bahwa pada beberapa situasi jumlah individu atau jenis musuh alami tidak cukup memadai untuk mengendalikan hama secara optimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektifitas pengendalian hama, jumlah musuh alami perlu ditambah melalui pelepasan secara periodik. Dalam prakteknya, pendekatan augmentasi membutuhkan ketersediaan sumber musuh alami yang besar.
 

Augmentasi sebagian besar digunakan untuk mengendalikan hama serangga dan kurang potensial untuk menanggulangi gulma. Di antara ketiga pendekatan dalam pengendalian hayati, augmentasi musuh alami adalah pendekatan yang tidak bersifat pemanen dan memerlukan pelepasan musuh alami secara periodik. Meskipun begitu, pada beberapa situasi hama, augmentasi musuh alami adalah pilihan yang paling tepat, murah, dan pendekatan pengelolaan hama yang ramah lingkungan.

Ada dua pendekatan augmentasi, yaitu :
 

1. inokulasi sejumlah kecil musuh alami

      Inokulasi dimulai dengan pelepasan sejumlah kecil musuh alami pada awal daur hama. Kemudian musuh alami diharapkan dapat bereproduksi sepanjang musim tanam dan menekan populasi hama agar tetap rendah pada waktu yang cukup lama. Dalam kasus ini, populasi hama tidak berkurang secara cepat, namun hanya mencegah atau menunda populasi agar tidak mencapai status hama. Contoh dari metode pelepasan inokulasi diperlihakan oleh penggunaan tawon parasitoid Encarsia formosa untuk menekan populasi lalat putih Trialeurodes vaporariorum (Stenseth, 1985). Lalat putih T. vaporariorum adalah hama ganas tanaman sayuran dan bunga yang sulit dikelola, bahkan dengan menggunakan pestisida. Pelepasan parasitoid E. formosa dengan kepadatan yang rendah (0,25 sampai 2 individu per tanaman, tergantung pada jenis tanaman), segera setelah lalat putih pertama muncul pada tanaman, akan mencegah populasi lalat putih mencapai tingkat populasi yang merusak. Contoh Inokulasi.
 

2. inundasi (membanjiri) dengan jumlah yang besar.

      inundasi adalah melepaskan sejumlah besar musuh alami dengan tujuan mengurangi populasi hama dengan segera (reduksi) dan sempurna. Pendekatan inundasi dapat dianggap sebagai pendekatan dengan menggunakan insektisida biotik. Sebagai contohnya adalah pelepasan massal parasitoid telur Trichogramma untuk mengendalikan telur berbagai jenis ngengat. Penggunaan insektisida mikroba yang mengandung Bacillus thuringiensis juga merupakan suatu pendekatan inundasi (Mahr, 1994). Demikian pula dengan penggunaan patogen kapang untuk melawan hama serangga (mikoinsektisida), penyakit tanaman (mikofungisida), dan gulma (mikoherbisida) yang diaplikasikan dengan cara yang sama seperti pestisida kimia konvensional. Pendekatan inundasi membutuhkan biaya besar, karena harus membeli atau memperbanyak musuh alami dalam jumlah yang besar dan berkualitas tinggi. Kemajuan dalam penelitian di bidang makanan sintetis, inang buatan, pengendalian mutu, dan manipulasi genetik akan dapat meningkatkan peranan taktik inundasi pada masa-masa mendatang.
 

Pendekatan augmentasi banyak digunakan untuk mengendalikan hama di dalam ruang tertutup seperti rumah kaca.

Pengendalian hayati konservasi pada dasarnya adalah melindungi, memelihara, dan meningkatkan efektifitas populasi musuh alami yang sudah ada di suatu habitat. Konservasi merupakan pendekatan paling penting jika ingin memelihara populasi musuh alami, baik asli maupun eksotik, di dalam ekosistem pertanian.
 

Dalam pengendalian hayati konservasi harus diupayakan menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan musuh alami dari lingkungannya dan mengurangi faktor-faktor yang dapat mengganggu efektifitasnya. Agar berhasil harus memahami biologi musuh alami dan berupaya untuk memodifikasi praktek budidaya guna mengakomodasi kebutuhannya.
 

Para praktisi pengendalian hayati sangatlah memahami bahwa praktek budidaya yang menguntungkan musuh alami adalah yang dapat menyediakan inang alternatif, sumber makanan dewasa, tempat tinggal, pasokan makanan yang kontinyu, dan iklim mikro yang sesuai. Faktor lain yang sangat penting dalam pengendalian hayati konservasi adalah memodifikasi praktek aplikasi pestisida. Biasanya pestisida hanya digunakan jika populasi hama melampaui ambang ekonomi. Perlu diingat bahwa selain membunuh hama, pestisida juga dapat membunuh musuh alami. Dalam banyak kasus, konservasi musuh alami dapat dicapai dengan mengubah bahan aktif, formulasi, waktu, jumlah dan lokasi aplikasi pestisida. Penggunaan pestisida yang selektif dan bijaksana adalah pilihan terbaik untuk mengkonservasi musuh alami yang ada. Kontak musuh alami dengan pestisida dapat dihindarkan jika waktu dan lokasi aplikasi pestisida tidak berbarengan dengan keberadaan musuh alami di lahan pertanian.

 

 

 

 

 

 

wp2a077347.png

© 2007 Pengendalian Hayati

Made by FMIPA