lobing1.gif (10910 bytes) M_1.gif (4075 bytes) M_5.gif (3463 bytes)
M_3.gif (3681 bytes) M_6.gif (3520 bytes)
M_4.gif (3476 bytes) M_9.gif (3568 bytes)
home.gif (7332 bytes)

Suplemen Uang dan Perbankan: Tanya Jawab
M 4 KB 2 dan KB 3

FAKTOR PENYEBAB DAN CARA MENGATASI INFLASI

Pertanyaan 1:
Apa yang dimaksud dengan inflasi? Jawab:
Pertanyaan 2:
Jelaskan secara singkat tentang jenis-jenis inflasi? Jawab:
Pertanyaan 3:
Faktor-faktor apa yang menjadi sumber terjadinya inflasi? Jawab:
Pertanyaan 4:
Apakah inflasi itu hanya terjadi di negara-negara tertentu saja, seperti Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, atau apakah fenomena ekonomi ini tidak pernah terjadi di negara-negara maju yang perekonomiannya relatif stabil? Jawab:
Pertanyaan 5:
Bagaimana dengan tingkat inflasi di Indonesia? Jawab:
Pertanyaan 6:
Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah guna menekan laju inflasi? Jawab:

surflink.gif (10966 bytes)

Jawab: Pertanyaan 1:
Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang-barang secara umum dan terjadi secara terus menerus. Kenaikan harga satu atau beberapa barang saja tidak dapat dikatakan bahwa terjadi inflasi. Selain itu, apabila kenaikan harga barang terjadi secara temporer, seperti menjelang hari raya misalnya, maka hal itu tidak dapat dikatakan sebagai inflasi. Dengan naiknya harga barang-barang di satu sisi, hal itu mengandung arti terjadinya penurunan nilai uang di sisi lain.
balik.gif (2503 bytes)


Jawab: Pertanyaan 2:
Mengenai jenis-jenis inflasi dapat dilihat dari beberapa penggolongan, seperti:

Dilihat dari tingkat keparahannya, inflasi dibedakan menjadi:

Inflasi ringan, yaitu tingkat inflasi sampai dengan 10% atau 20% setahun;

Inflasi sedang, yaitu antara 10% s/d 30% setahun;

Inflasi berat, yaitu antara 30% s/d 100% setahun;

Hiper inflasi, yaitu di atas 100% setahun.

Berdasarkan sebab terjadinya, inflasi dibedakan atas:

Demand inflation, yaitu inflasi yang timbul karena desakan permintaan masyarakat akan barang dan jasa yang begitu kuat. Inflasi ini muncul karena naiknya tingkat pendapatan masyarakat, sehingga masyarakat cenderung membeli barang dan jasa lebih banyak dari yang biasa mereka gunakan. Misalnya seseorang yang biasa mengkonsumsi susu satu gelas sehari, karena pendapatannya meningkat, maka konsumsi susunya juga meningkat menjadi katakanlah 3 gelas sehari. Dengan meningkatnya konsumsi atau pembelian, akan mendorong naiknya harga barang-barang.

Cost atau Cost-push inflation, yaitu inflasi yang disebabkan karena naiknya biaya produksi. Misalnya terjadi kenaikan bahan bakar atau tuntutan buruh akan kenaikan upah, dimana kedua hal itu merupakan bagian dari biaya produksi, maka perusahaan pun akan menaikkan harga jual barang dan jasanya.

Berdasarkan asal usul terjadinya, inflasi dapat digolongkan ke dalam:

Domestic inflation, yaitu inflasi yang berasal atau bersumber dari dalam negeri;

Misalnya pemerintah mengalami defisit anggaran belanja kemudian pemerintah mencetak uang baru, sehingga jumlah uang beredar bertambah. Keadaan ini akan mendorong tingkat konsumsi masyarakat, bila penawaran barang tetap, maka hal ini akan mendorong kenaikan harga barang-barang.

Imported inflation, yaitu inflasi yang berasal dari luar negeri.

Sebagai contoh adalah negara kita, dimana negara kita masih banyak mengimpor bahan baku dan barang modal lainnya. Apabila harga barang-barang yang diimpor itu naik, maka biaya produksi juga meningkat, yang akhirnya akan menaikkan harga jual barang dan jasa.

balik.gif (2503 bytes)


Jawab: Pertanyaan 3
Dari sudut pandang ekonomi, pada prinsipnya inflasi itu terjadi karena tidak adanya keserasian antara laju pertambahan uang dan tingkat pertumbuhan barang dan jasa. Apabila jumlah uang beredar meningkat, sedangkan produksi barang dan jasa tetap, maka hal ini cenderung akan mendorong terjadinya inflasi.

Namun demikian, dari uraian tentang jenis-jenis inflasi di atas dapat diidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya inflasi, yaitu antara lain:

Naiknya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa

Ketika pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS), biasanya diikuti dengan kenaikan permintaan barang dan jasa. Bila kenaikan besarnya permintaan ini tidak diimbangi dengan penambahan volume barang dan jasa di pasar, maka hal ini akan berakibat pada naiknya harga barang dan jasa. Kenaikan gaji PNS ini pada dasarnya mengindikasikan adanya kenaikan jumlah uang beredar. Jenis inflasi ini disebut demand-pull inflation.

Kenaikan biaya produksi

Pada waktu pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), maka harga barang-barang di pasar juga akan meningkat. Mengapa? Karena kenaikan harga BBM berdampak pada kenaikan biaya produksi, akibatnya perusahaan juga menaikkan harga jual barang dan jasanya. Disini terjadi cost-push inflation.

Defisit anggaran belanja (APBN)

Defisit APBN yang ditutupi dengan pencetakan uang baru oleh Bank Indonesia, akan berakibat pada bertambahnya jumlah uang beredar, dimana hal ini akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa.

Menurunnya nilai tukar rupiah

Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, seperti US dollar, Yen, Deutche Mark, akan berdampak pada semakin mahalnya barang-barang produksi impor. Hal ini berakibat pada kenaikan biaya produksi.

Faktor uang dan barang/jasa seperti diuraikan di atas memang berdampak langsung terhadap inflasi. Bila ditelusuri, maka sumber penyebab inflasi dapat juga berasal faktor-faktor sosial dan politik. Sebagai contoh, adanya berbagai kerusuhan sosial seperti yang terjadi akhir-akhir ini, juga memberikan dorongan terhadap laju inflasi. Berbagai kerusuhan sosial yang terjadi menyebabkan rasa tidak aman pada penduduk, sehingga mendorong mereka untuk membeli barang-barang dalam jumlah lebih besar dari kebutuhan. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi bila keadaan sosial politik semakin memburuk. Dampaknya adalah naiknya harga barang-barang di pasar.

Kemudian, aksi demontrasi menuntut mundurnya Presiden Gus Dur pada akhir tahun 2000, yang berakibat pada merosotnya nilai tukar rupiah. Bila hal ini dibiarkan terus akan berakibat semakin mahalnya barang-barang produksi impor. Hal ini selanjutnya berdampak pada kenaikan biaya produksi barang, untuk seterusnya berakibat pada laju inflasi.

balik.gif (2503 bytes)


Jawab: Pertanyaan 4
Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang terjadi di seluruh negara di dunia. Inflasi tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang saja, seperti Indonesia, tetapi terjadi juga di negara-negara maju. Hanya saja tingkat inflasi antara negara yang satu dengan lainnya berbeda-beda. Di negara-negara maju pada umumnya seperti Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Jepang, harga barang-barang secara umum relatif stabil, dimana tingkat inflasi relatif rendah, berkisar antara 3% – 5% per tahun. Sedangkan di negara-negara berkembang pada umumnya, tingkat inflasi sangat berfluktuatif dan relatif lebih tinggi dari tingkat inflasi di negara-negara maju. Hal ini berkaitan juga dengan keadaan ekonomi, dan sosial-politik yang relatif belum stabil.

balik.gif (2503 bytes)


Jawab: Pertanyaan 5
Sebagaimana negara-negara berkembang lainnya, tingkat inflasi di Indonesia juga sangat berfluktuatif dari tahun ke tahun. Pada akhir masa pemerintahan Orde Lama, yaitu tahun 1966, Indonesia mengalami hiper inflasi yang mencapai 650%. Sedangkan sepanjang pemerintahan Orde Baru, laju inflasi senantiasa ditekan di bawah 10% per tahun. Selama periode Pembangunan Jangka Panjang Tahap (PJPT) I, tingkat inflasi terendah dicapai pada tahun 1971, 1985, dan 1992, masing-masing sebesar 2,5%, 4,3%, dan 4,94%. Sedangkan selebihnya laju inflasi berada di atas 5% per tahun. Tetapi pada tahun 90-an, tingkat inflasi di Indonesia semakin memburuk. Hal ini berkaitan dengan terjadinya krisis ekonomi sejak tahun 1997 lalu. Dimana pada tahun 1998, tingkat inflasi mencapai kurang-lebih 80%. Tingkat inflasi setinggi ini tergolong berat, tetapi belum dapat dikatergorikan sebagai hiper inflasi. Dikatakan hiper inflasi apabila tingkat inflasi ini mencapai lebih dari 100%. Seperti pernah terjadi pada akhir pemerintahan Orde Lama atau awal pemerintahan Orde Baru tahun 60-an.

balik.gif (2503 bytes)


Jawab: Pertanyaan 6
Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah guna menekan laju inflasi antara lain:

Menjaga keserasian antara laju penambahan uang beredar dengan laju pertumbuhan barang dan jasa. Penambahan jumlah uang beredar harus dilakukan secara proporsional dengan tingkat pertumbuhan penawaran barang dan jasa. Di samping itu, jumlah uang beredar senantiasa harus dipantau dan dikendalikan. Beberapa instrumen yang dapat digunakan oleh pemerintah (Bank Indonesia) guna mengendalikan jumlah uang beredar adalah: Politik operasi pasar terbuka (Open Market Operation); Politik diskonto dan bunga pinjaman; serta Politik mengubah cadangan minimal bank-bank umum pada Bank Indonesia. Selain itu perlu pula dilakukan pengawasan pinjaman secara selektif maupun Pembujukan moral (moral suation).

Menjaga kestabilan nilai tukar mata uang.

Nilai tukar rupiah yang cenderung merosot terhadap mata uang asing, akan mendorong laju inflasi. Mengapa? Sebab negara kita masih banyak mengimpor barang-barang modal dan juga bahan baku produksi. Jika mata uang rupiah merosot, maka harga barang-barang impor untuk kebutuhan produksi menjadi lebih mahal. Hal ini berarti akan menaikkan biaya produksi, yang selanjutnya akan menaikkan harga barang dan jasa di pasar.

Melakukan intervensi pasar.

Pada masa-masa tertentu dapat terjadi lonjakan terhadap permintaan barang-barang di pasar, seperti menjelang hari raya Idul Fitri dan Natal. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan terus, karena dapat menyulut kenaikan harga barang-barang pada umumnya. Kenaikan harga barang-barang secara temporer memang tidak dapat disebut inflasi. Tetapi kenaikan harga ini akan berdampak memperbesar tingkat inflasi pada periode tertentu. Untuk itu pemerintah perlu memantau keadaan pasar. Jika terjadi kelangkaan barang, maka pemerintah perlu melakukan intervensi dengan cara menambah pasokan barang.

Memelihara stabilitas sosial dan politik.

Kerusuhan sosial yang terjadi di berbagai tempat belakangan ini harus segera diselesaikan secara tuntas, agar terciptas stabilitas sosial, politik, dan keamanan yang mantap. Dimana hal ini akan memberikan ketenangan pada seluruh masyarakat, sehingga tidak terulang lagi situasi dimana banyak anggota masyarakat yang ‘memborong’ barang-barang kebutuhan pokok. Konflik-konflik horisontal di tingkat elite politik juga harus diredam, karena dampaknya yang tidak menguntungkan terhadap stabilitas politik dan nilai tukar rupiah

balik.gif (2503 bytes)