Studi aspek fisik, biologi, dan kimia terhadap cacing tanah dan kascing pada pengolahan sampah menjadi pupuk kompos

 

Hurip Pratomo dan Anang Suhardianto

Jurusan Biologi, FMIPA-UT

E-mail: hurip@ka.ut.ac.id dan anang@ka.ut.ac.id

 

 

A problem in city areas that is difficult to solve is waste management. The side effect of daily home activities produce waste (garbage). Composting is one of several methods that uses earthworm for waste management. This method has ecological benefits. Eatchworm eats organic waste and produces ‘casting’ as it’s faeces. Casting can be used as plant fertilizer, food supplement, medicine, as well as, laboratory material.

This research attempted to reveal the physical, biologial and chemical aspects of casting and earthworm during composting. The study was conducted in Kapuk Muara where the water pH ranged from 8 to 9, and the temperature of microhabitat ranged from 33 to 38 0C. The composting process took 5 weeks.

The study of physical aspect of composting found that when the temperatue went down the weight of organic waste decreased whereas the weight of earthworm increased. The study of biological aspect revealed that the length  of mature erthworm ranges between 5.9 and 8.3 cm. The water pH in the area was relatively stable which was about 9. The reproduction capacity of earthworm  per moth was about 4 – 6 coccon and 2-3 eggs. Meanwhile, the study of chemical aspect found that the Nitrogen content of casting increased during the coposting process. The chemical substances of casting at the end of composting were as follows: 2,89% Nitrogen, 7.33 C/N ratio, 0.17 Phosfor, 0.91 Kalium, 0.83 Calcium and 0.27 Magnesium.

 

 

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Satu masalah perkotaan yang sulit untuk dipecahkan dari berbagai permasalahan yang timbul adalah masalah sampah. Sampah akan menjadi masalah kota maupun desa dan  jika tidak terkelola dengan baik akan menjadi sumber berbagai penyakit, pencemaran air tanah dan sungai, bau yang tak sedap, serta rusaknya estetika.

Satu masalah perkotaan yang sulit untuk dipecahkan diantara berbagai permasalahan yang timbul adalah masalah sampah. Sampah akan menjadi masalah kota maupun desa; dan jika tidak terkelola dengan baik akan menjadi sumber berbagai penyakit, pencemaran air tanah dan sungai, bau yang tak sedap, serta rusaknya estetika.

Jumlah sampah terbesar dihasilkan oleh Jakarta diikuti oleh Surabaya, Bandung, Semarang, Medan dan kota lainnya (Dinas Kebersihan DKI, 1996). Sampah yang dihasilkan penduduk DKI Jakarta sejumlah 26.750m3/hari. Sedangkan lahan untuk tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA) jumlahnya sangat kurang.  Dalam skala lebih luas, sampah perkotaan di Indonesia tahun 1993 mencapai 4,5 juta ton per tahun dan diperkirakan tahun 2000 menjadi 7,3 juta ton.            

Salah satu pengolahan sampah yang relatif aman dan berdaya guna, dapat dilakukan dengan bantuan cacing tanah. Cara biologi ini adalah mengolah sampah menjadi pupuk kompos menggunakan cacing tanah yang hidup. Sampah organik di tempat pembuangan sampah akan berubah bentuknya menjadi kascing (kotoran atau feses cacing) dengan volume yang lebih kecil, setelah dicerna oleh cacing tanah. Kascing ini berpotensi tinggi menjadi pupuk kompos andalan (Salam,H.S.,1997).

PERMASALAHAN

Pengolahan sampah menggunakan cacing tanah belum banyak dilakukan orang. Usaha ini di Indonesia masih sedikit atau sangat jarang dijumpai. Kajian mengenai pengomposan menggunakan cacing tanah juga masih sedikit. Selain itu, kajian terhadap pengomposan menggunakan cacing Lumbricus sp. di Kapuk Muara yang meliputi beberapa aspek fisik, biologi, dan kimia belum pernah dilakukan.

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek fisik, biologi dan kimia dari kascing dan cacing tanah pada pengomposan sampah organik di Kapuk Muara Lebih khusus, penelitian ini ingin mengetahui :

I. Aspek  Fisik, terdiri dari

      a.   Suhu harian lingkungan

      b.   Bobot media (sampah organik) dan cacing tanah pada awal dan akhir pengomposan.

II. Aspek Biologi terdiri dari

a.        Morfologi

b.       Suhu sampah selama proses menjadi kascing

c.        pH media

d.       Deskripsi reproduksi

e.        Identifikasi ulang spesies

III. Aspek Kimia terdiri dari

a.     Kandungan N dan Nisbah C/N kascing

b.     Kandungan kimia kascing; Posfor, Kalium, Kalsium, dan Magnesium

 

Manfaat Penelitian

1.     Berdasarkan hasil kajian yang diperoleh maka upaya budidaya cacing tanah, dan pengolahan sampah oleh masyarakat akan lebih terarah dan berhasil.

2.     Dengan diketahui kandungan kimia kascing, penggunaan kascing sebagai pupuk kompos akan lebih menarik minat masyarakat. Lebih lanjut usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pengolah sampah.

TINJAUAN PUSTAKA

Missouri Departement of Natural Resources (1997), menyebutkan bahwa cacing tanah yang biasa diternak dan dipakai untuk pengolahan sampah di daerah sub tropis, dapat hidup secara optimal pada lingkungan bersuhu 13 - 25oC. Cacing tanah yang relatif mudah diternak dan dipakai untuk pengurai sampah adalah Eisinia foetida.

Berbeda dengan cacing tanah di daerah beriklim subtropis, cacing tanah di Indonesia dapat hidup optimal dengan suhu lingkungan yang relatif hangat yaitu berkisar dari 26 - 30oC. Khusus untuk kegiatan pengolahan sampah di Kapuk Muara yang dilakukan oleh warga pemukiman kumuh, belum diketahui suhu optimal yang dibutuhkan cacing-cacing tanah tersebut (Salam,H.S.; 1997).

 

Sampah dan Kascing

Sampah adalah benda-benda sisa hasil kegiatan kehidupan manusia sehari-hari.  Berdasarkan identifikasi sampel yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI tahun 1993/1994 dan 1994/1995 diperoleh data komposisi sampah seperti Tabel 1.

 

Tabel 1.  Komposisi sampah di DKI Jakarta

Tahun 1993-1995 (Salam,H.S.1 1997)

Jenis Sampah

Tahun 1993/1994  (%)

Tahun 1994/1995 (%)

A.    Non Organik

      - Kertas

      - Kayu

      - Kain

      - Karet/kulit

      - Plastik

      - Logam

      - Gelas/kaca

      - Baterai

      - Lain-lain

B.    Organik

 

10,18

0,98

1,57

0,55

7,86

2,04

1,75

0,29

0,86

73,92

 

8,28

3,77

3,16

0,56

5,44

2,08

1,77

-

0,95

-

 

Dari Tabel 1 tampak bahwa persentase sampah bahan organik mendominasi dibandingkan sampah jenis lainnya. Berdasarkan fenomena tadi maka penggunaan cacing tanah untuk membantu pengelolaan dan pendaur ulang sampah berpeluang sangat baik. Cacing tanah akan memakan sampah organik dalam waktu relatif singkat sampai sampah menjadi kascing. Semua kascing aman untuk dijadikan kompos karena strukturnya remah, agak kering, tidak panas (suhu stabil) dan tidak mengalami proses pembusukan lagi.

Secara umum cacing tanah memiliki aktifitas unik sebagai dekomposer karena hewan tersebut memiliki kemampuan menerobos tanah, mentransfer nutrisi pada tanah (utamanya dari sampah organik yang tersebar) dan membentuk kascing. Kascing tampak seperti tanah kering yang telah digiling dan secara nyata meningkatkan kesuburan tanah (Praswati dan Hidayat, 1992).

Cacing tanah dan kascing, mempunyai fungsi antara lain: mendegradasi bahan organik dan meningkatkan laju siklus nutrisi, mentranslokasi bahan organik dan mikroba ke dalam tanah, mengurangi pemadatan tanah, membuka lapisan subsoil dan mendukung pertumbuhan akar tumbuhan (Gange, 1993; Marinissen, 1992).

 

Pengomposan

Pengomposan adalah suatu metode perombakan sampah bahan organik (sampah dapur dan kebun) dalam suatu wadah atau tumpukan besar, akibat adanya kegiatan alami bakteri dan jamur. Invertebrata kecil, seperti cacing tanah dan kaki seribu juga membantu menyempurnakan proses ini. Pengomposan akan mengubah sampah dapur dan kebun menjadi suatu bahan semacam tanah yang berwarna gelap dalam beberapa minggu atau bulan (Eco Recycle Victoria and the Gould League of Victoria, 1997).

Menurut Gaur (1982), faktor-faktor utama yang mempengaruhi pengomposan antara lain adalah nisbah C/N, ukuran bahan kompos, kelembaban dan aerasi, temperatur, reaksi kompos, dan inokulasi jasad renik.

 

Suhu

Suhu maksimum selama pengomposan adalah 71oC (Gaur,1982).  Suhu yang lebih tinggi dari itu akan mengakibatkan kematian terhadap jasad renik pendekomposisi bahan organik.  Suhu sebesar 71oC harus diturunkankan ketika pengomposan dengan cacing tanah.

 

METODOLOGI

Waktu

Penelitian dilakukan selama enam bulan meliputi tiga bulan kegiatan di lapangan dan tiga bulan di laboratorium untuk analisis kascing, morfometri tubuh cacing tanah, serta pembuatan laporan. Penelitian dimulai pada bulan Mei 1998 dan berakhir pada bulan Oktober 1998.

 

Tempat

Pengolahan sampah organik menggunakan bantuan cacing tanah, dan pengamatan  parameter tertentu dilakukan di Kapuk Muara, Jakarta Utara. Analisis nutrisi kascing dilakukan di Laboratorium Tanah IPB dan pengukuran morfometri tubuh cacing tanah dikerjakan di Laboratorium Biologi  FKIP-UT.

 

Rancangan Pengomposan    

Cacing tanah dipelihara sebagai hewan pengurai (pengompos) di media sampah organik yang berasal dari sampah dapur warga Kapuk Muara. Pengomposan tersebut dilakukan dengan wadah plastik yang berlubang-lubang kecil di dasarnya. Pengomposan dilakukan dengan  sistim bertingkat pada rak-rak kayu beratap (seperti kandang). Empat wadah plastik berbentuk segi empat disusun bertingkat dari bawah ke atas berjarak satu sama lain sebesar 0,5 cm seperti laci. Ukuran setiap wadah adalah 35 x 45 x 15 cm. Setiap wadah menampung 8-8,5 kg sampah organik yang sudah dipotong-potong. Setiap Pengomposan pada rangkaian bertingkat empat wadah tersebut merupakan satu kali ulangan, dan dalam penelitian ini dilakukan tiga kali ulangan yang diamati pada waktu (relatif) bersamaan. 

Cacing remaja sebanyak satu ons ditebarkan pada wadah terbawah dari empat wadah yang ada. Pengomposan bermula dari wadah terbawah dan berlangsung prosesnya ke wadah di atasnya. Hal ini terjadi karena perilaku makan cacing yang bersifat “top feeder”. Pengomposan dianggap selesai setelah semua media (sampah) organik di empat wadah menjadi kascing.       

Penyiraman dengan air sumur di lokasi dilakukan setiap dua hari sekali pada pukul 07.30 WIB dan 16.30 WIB. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kenaikan suhu yang relatif tinggi. Kenaikan suhu relatif tinggi tersebut terjadi karena proses dekomposisi oleh bakteri yang berlangsung eksoterm dan pengaruh radiasi suhu lingkungan Kapuk Muara yang relatif tinggi. 

 

Pengumpulan dan analisis data

Untuk pengamatan aspek fisik, pengukuran suhu dilakukan sebelum penyiraman setiap dua hari sekali menggunakan termometer. Penimbangan media dan cacing tanah menggunakan timbangan berskala terkecil mikrogram.

Untuk Pengamatan aspek Biologi; yaitu morfologi dan Identifikasi ulang diamati di Laboratorium Biologi FKIP UT menggunakan mikroskop. Sedangkan Suhu, pH media dan deskripsi reproduksi diamati di lokasi penelitian, menggunakan termometer dan pH meter.

Untuk Pengamatan aspek Kimia, setiap minggu diambil sampel kascing dari  wadah terbawah masing-masing ulangan (3 ulangan),  dan di analisis kandungan kimianya dengan metode spectrofotometri di Laboratorium Tanah IPB. Hasil analisis setiap minggu di rata-rata dan dihubungkan satu sama lain dalam bentuk grafik. Kandungan Kimia kascing yang diukur adalah: Nitrogen, Nisbah C/N, Posfor, Kalium, Kalsium dan Magnesium.

Data dianalisis secara deskriptif antara lain ukuran kisaran, selisih, persentase, dan rata-rata dari parameter tertentu yang diamati.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. Aspek Fisik

Suhu harian

Suhu lingkungan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 1998 di Kapuk Muara berkisar antara 33oC - 38o C. Suhu sehari-hari di sekitar rak-rak pengomposan diukur pada jam 12.00 WIB adalah 37oC. Suhu media sampah dan kascing pada jam 07.00 WIB sebelum  dilakukan penyiraman air ke media makanan cacing (sampah organik) berkisar antara 28oC sampai dengan 40oC. Suhu lebih tinggi dari 40oC mula-mula terjadi pada hari pertama pengomposan yaitu ketika sampah organik mengalami pembusukan lanjutan (terjadi proses dekomposisi yang eksoterm) sebelum ditambahkan cacing tanah. Dengan penyiraman pada jam 07.30 WIB dan jam 16.30 WIB setiap dua hari sekali maka kenaikan suhu dapat ditekan dan perombakan material organik oleh bakteri agak dihalangi sehingga populasi cacing tanah lebih leluasa memakan sampah organik tersebut.

 

Bobot media sampah dan cacing tanah pada awal dan akhir pengomposan

Bobot awal sampah organik yang akan dijadikan media dan makanan bagi cacing tanah adalah 35,18 kg setiap rak.  Jumlah total sampah tersebut dibagi dalam 4 wadah  plastik. Bobot akhir sampah yang telah berubah menjadi kascing setelah akhir pengomposan (8 Juni 1998 - 20 Juli 1998) adalah rata-rata 7625 gram (7,625 kg).  Persentase penyusutan bobot sampah menjadi kascing dengan data rata-rata 35,18 kg menjadi 7,625 kg adalah

 

Penyusutan bobot sampah terjadi karena antara lain 1) pemadatan struktur bahan sehingga menghilangkan pori-pori dan vacuola penyimpan air dan udara, 2) perubahan atau konversi senyawa-senyawa padat menjadi sebagian padat, sebagian gas (menguap) dan sebagian cair (yang dapat menguap) setelah dimakan cacing tanah, 3) pemindahan unsur-unsur tertentu ke bagian tubuh cacing dalam pertumbuhan dan perkembang biakannya; misalnya unsur Ca, C, P dan K menjadi pembentuk tulang, kokon, serta telur cacing tanah. Sehingga bobot sampah menyusut diiringi bobot cacing keseluruhan yang mengalami peningkatan. 

Bobot awal sejumlah cacing tanah yang ditebarkan di wadah plastik terbawah (ke 4) di setiap rak adalah 100 gram. Sebagian besar cacing yang diletakkan pada awal pengomposan adalah cacing remaja dan sebagian kecil adalah cacing induk (matang kelamin).

Bobot akhir total cacing setelah pengomposan berhasil rata-rata adalah 375 gram. Bobot sebesar 375 gram tersebut mencakup sejumlah besar cacing induk, cacing remaja dan anak cacing.

Dengan demikian produksi cacing dalam satu kali pengomposan dapat mencapai lebih dari tiga kali lipat yaitu 375 %  dari bobot cacing tanah semula.  Peningkatan bobot total cacing keseluruhan dapat terjadi antara lain karena peningkatan  jumlah cacing dari hasil  kegiatan reproduksi  berupa anak, telur dan anak cacing mulai remaja. Disamping itu terjadi perkembangan ukuran tubuh cacing remaja yang ditebarkan pada awal menjadi cacing induk (bobotnya bertambah)  

Peningkatan bobot total cacing tiga kali bobot awal dalam waktu relatif singkat (6 minggu) untuk jangka panjang dapat menunjang pemanfaatan cacing untuk hewan percobaan, pakan ternak dan pengompos.  Pemanfaatan cacing untuk bahan obat-obatan penyakit tertentu misalnya tipus sekarang ini sudah mulai dicoba di beberapa tempat dengan  pembuatan  tepung cacing yang dimasukkan ke dalam kapsul.

 

II. Aspek Biologi

Morfologi

Tabel 2 menunjukkan hasil pengamatan terhadap morfologi cacing tanah.

 

 

Panjang

Berat

Diameter

Warna

Anak cacing

1,2 cm

0,04 gram

-

Merah muda

Cacing remaja

4,6 cm

0,09 gram

0,1

Merah muda agak coklat

Cacing induk

6,7 cm

0,8   gram

0,2

Merah muda agak putih

Tabel 2. Ukuran rata-rata morfologi cacing tanah

 

Kisaran ukuran morfologi yang diperoleh dengan rataan yang dicantumkan di Tabel 2 adalah: panjang anak cacing remaja berkisar antara 0,9 mm - 1,3 cm; berat 0,02 - 0,06 gram; diameter tubuh cacing remaja dan cacing induk berkisar antara 0,8 - 0,23 cm; panjang cacing induk berkisar antara 5,9 - 8,3 cm; berat 0,5 - 0,9 gram.

Ukuran rata-rata tubuh cacing tanah yang diukur tersebut menggambarkan pertumbuhan tubuh cacing yang relatif sehat pada media, kondisi air penyiraman dan suhu mikrohabitat kandang bernaungan yang menjadi tempat hidupnya. Derajat Keasaman (pH) air yang digunakan untuk menyiram setiap dua hari sekali adalah sebesar 8 - 9. Dengan pH yang cukup basa tersebut ternyata cacing tanah masih sehat dan hidup normal untuk berkembang biak.

Berbeda dengan hasil diatas, Minnich (1977) menyebutkan bahwa cacing tanah jenis Eisenia foetida yang remaja dan induk mempunyai panjang berkisar antara 5 - 15 cm sedangkan panjang jenis Lumbricus rubellus berkisar antara 7 - 15 cm. Ukuran cacing pada penelitian Minnich tersebut relatif lebih panjang dibandingkan cacing tanah yang digunakan dan hidup di kompos di Kapuk Muara.

Secara umum, ukuran tubuh organisme cacing dipengaruhi oleh faktor makanan, keadaan mikro (mikrohabitat) seperti suhu media, pH air penyiraman, suhu lingkungan dan faktor genetik. Berdasarkan hal itu, data-data yang diperoleh tersebut akan mungkin menunjukkan angka berbeda pada penelitian lain di tempat dengan keadaan mikrohabitat yang lain. 

Salah satu faktor mikrohabitat yang diukur adalah pH, pH air sumur yang dipakai untuk menyiram dan pH air payau di lokasi penelitian adalah berkisar antara 8 - 9,  berdasarkan keadaan pH tersebut mungkin menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan cacing Lumbricus sp. relatif tidak sebaik cacing sejenis yang tinggal di lokasi dengan pH 5 -7  seperti  yang disebutkan oleh Minnich (1977).

Diketahui bahwa tubuh cacing mengeluarkan cairan sekret yang selalu membasahi seluruh tubuh. Cairan ini antara lain berguna untuk melindungi diri dari  infeksi kuman, suhu ekstrim,  membantu pencernaan makanan  dan  pergerakan tubuh. Dalam keadaan  pH yang relatif  basa seperti di lokasi Kapuk Muara  diduga pengeluaran sekret tersebut tidak berjalan  baik atau terganggu. Hal itu mungkin menyebabkan kegiatan pencernaan makanan tidak sebaik  cacing yang hidup di lokasi  lain dengan pH relatif  wajar (5-7) dan lebih lanjut secara fisiologis dapat mempengaruhi pertumbuhan, dan perkembangan cacing.

 

Pengamatan suhu

Suhu sampah yang dimakan cacing hingga menjadi kascing adalah seperti pada Gambar 5.

 

 

Gambar 5. Suhu Pengomposan dengan Cacing Tanah (9 Juni – 16 Juli 1998)

           

Pada pengamatan suhu bahan kompos tampak bahwa suhu awal di hari pertama dan kedua relatif masih tinggi yaitu 40oC. Suhu sebesar ini sangat tidak menguntungkan hidup cacing.  Menurut Buckman dan Brady (1982) dan Kotpal (1980), cacing tanah menyukai habitat dengan suhu berkisar antara 15 - 25oC.  Upaya menurunkan suhu dilakukan dengan menyiramkan air pada media atau bahan kompos tersebut.  Wadah plastik pengomposan berlubang-lubang sehingga penyiraman tidak akan membuat genangan, genangan air akan menyebabkan cacing sulit bernapas sehingga dapat menyebabkan kematian.

Pada hari ke-3 sampai hari ke-6, suhu bahan kompos terlihat menurun dari 40oC menjadi 38oC, 34oC, dan 31oC. Selanjutnya pada hari ke 7 suhu telah turun menjadi 28oC. Suhu sebesar 28oC tersebut tetap bertahan sampai pengomposan sampah organik oleh cacing selesai (semua sampah organik telah menjadi kascing). Pada suhu 28oC, cacing-cacing dalam pengamatan secara umum tampak sehat dengan aktifitas normal. Reproduksi cacing berjalan baik, terlihat dari cukup banyaknya anak cacing dan kokon yang diperoleh setiap mengambil sampel bahan kascing (untuk diukur kandungan kimianya).

Suhu sebesar 28oC yang stabil pada hari ke-7 dan seterusnya sampai pengomposan selesai (± 6 minggu) merupakan suhu yang mungkin dapat dikatakan "aman" untuk kehidupan cacing yang diteliti. Dengan suhu 28oC, cacing remaja, induk cacing, anak cacing, dan kokon serta telur berkembang dan bereproduksi secara baik dan normal.   Berdasarkan pengamatan Salam, H.S. (1977), cacing tanah di beberapa lokasi pada umumnya dapat hidup optimal dengan suhu berkisar antara 26 - 30°C, sehingga kestabilan suhu sebesar 28 °C memang relatif baik untuk kehidupan cacing yang diteliti.

 

Pengamatan pH

pH air di Kapuk Muara yang digunakan untuk menyiram media berkisar antara 8-9.   Sementara itu, pH lapisan atas dan lapisan dalam media sampah selama proses menjadi kascing berkisar antara 9-9,5.  pH media sebesar itu mungkin diperoleh dari banyaknya kandungan basa dan mineral cairan hasil proses dekomposisi oleh cacing ditambah dengan kandungan air payau penyiram misalnya: kalsium, natrium dan lain-lain.

Kisaran pH sebesar 9-9,5 merupakan kisaran pH yang cukup tinggi (basa) untuk kehidupan organisme air atau tanah. Cacing tanah yang hidup di daerah beriklim sub tropis disebutkan menyukai habitat tanah dengan pH berkisar antara 6 - 7,2 (Buckman and Brady, 1982). Walaupun demikian, secara morfologi dan penampakan reproduksi, ternyata cacing tanah yang diteliti dalam keadaan “sehat”.  Indikator  “sehat”  antara lain  1.Tidak adanya cacat atau kelainan bentuk tubuh cacing (anak, remaja dan dewasa);  2. Pergerakan cacing ketika dikenai sinar (terang) masih aktif, terlihat dari kegesitannya untuk menghindar dan sembunyi di lapisan bawah media yang terlindung dan gelap;   3. Kegiatan kawin sesama cacing  (kelamin hermaphrodite) berjalan biasa dan prosentase telur menetas relatif normal.     

 

Deskripsi reproduksi

Secara umum kapasitas reproduksi cacing tanah yang diteliti seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Kapasitas reproduksi cacing tanah sampel per ekor

 

Kisaran

Waktu

Produksi kokon

4 - 6 butir

dalam satu bulan

Kandungan kokon

1 - 4 telur

-

Telur menetas (hidup)

2 - 3 ekor

setelah 14 - 18 hari

Persentase telur menetas

> 50%

-

 

Kapasitas reproduksi cacing tanah dalam penelitian ini relatif sama dengan penelitian di Filipina tahun 1982 (The Philipine Earthworm Center, 1982). Pada penelitian itu disebutkan bahwa setelah 7 - 10 hari perkawinan akan diproduksi kokon. Kokon akan diproduksi lagi setelah kira-kira 10 hari setelah produksi ke 1 dan begitu seterusnya. Sebuah kokon dapat berisi sampai 20 butir telur untuk cacing jenis tertentu, dan akan menetaskan 2 sampai 20 ekor anak cacing.

Perbedaan kapasitas reproduksi antara cacing tanah yang diteliti dengan cacing tanah di Filipina (The Philipine Earthworm Centre,1982) disebabkan mungkin antara lain oleh perbedaan kondisi habitat atau mikrohabitat lokasi penelitian, misalnya suhu harian di kedua lokasi cukup berbeda disamping itu juga adanya perbedaan kandungan kimia media dan pH pada dua penelitian tersebut.

 

Identifikasi

 Identifikasi ulang jenis (spesies) dilakukan dengan menggunakan buku "The Earthworm Book" karya Minnich (1977).  Tabel 4 menunjukkan  hasil identifikasi  ciri-ciri taksonomi  10 cacing sampel.

Tabel 4.  Ciri-Ciri Taksonomi Cacing Tanah Yang Diteliti :

Ciri

Letak/warna

Klitelum

segmen 27 - 32 warna merah keputihan

Seta

menutupi seluruh tubuh

Kantong Sperma

segmen 9, 11 dan 12

Panjang Tubuh

5,9 -8,3 cm

Warna Anterior - dorsal

Merah muda kadang kecoklatan

Dengan ciri pokok seperti itu, cacing tanah yang diteliti adalah jenis (spesies) Lumbricus rubellus. Sedang cacing tanah Pheretima defringens yang berwarna kecoklatan mempunyai perbedaan dengan Lumbricus rubellus antara lain pada letak Klitelum (segmen 14 - 16), kantung sperma terletak pada segmen 11 dan 12,  dan Seta berbentuk periseta semua, (Minnich ,1977).

 

III. Aspek Kimia

 

Nisbah C/N

Tampak terjadi penurunan nisbah C/N (Gambar 7) yang sejalan dengan kenaikan kadar nitrogen (Gambar 6).  Penurunan nisbah C/N terjadi dalam jumlah cukup besar pada awal pengomposan hingga minggu ke-5. Pada awal pengomposan tercatat nisbah C/N sebesar 34,7 kemudian menurun hingga mencapai kisaran 17 pada minggu ke-4 dan ke-5 (Gambar 7).

 Selama proses dekomposisi, protein pecah menjadi asam amino dengan bantuan kegiatan mikroorganisme heterotropik, seperti bakteri, fungi, dan aktinomicetes kemudian melalui reaksi enzimatik akhirnya dihasilkan senyawa amonium.  Apabila tersedia cukup oksigen, amonium yang terbentuk tidak hilang seperti CO2 yang berupa gas tetapi akan dioksidasi menjadi nitrit kemudian nitrat. Apabila ketersediaan oksigen tidak memungkinkan untuk terjadinya oksidasi maka nitrogen tetap berada dalam bentuk amonium, dan jumlah ini akan terus menumpuk selama berlangsungnya dekomposisi.

Gambar 7. Pola Penurunan Nisbah C/N Selama Pengomposan

 

Posfor, Kalium, Kalsium, dan Magnesium

          Dalam Tabel 4 tampak kandungan unsur hara kascing yang diamati.

Tabel 4. Kandungan Unsur Hara Kascing pada Awal dan Akhir Pengomposan

 

Kandungan (%)

Unsur Hara

Awal

Akhir

Posfor

Kalium

Kalsium

Magnesium

0,03

1,09

0,24

0,16

0,17

0,91

0,83

0,27

         

Pada Tabel 4 terlihat bahwa kecuali Kalium, terjadi peningkatan kandungan Posfor, Kalsium dan Magnesium. Walaupun semua unsur tersebut digunakan cacing tanah untuk membangun tubuh dan kokonnya tetapi diduga cacing tanah menggunakan Kalium dalam jumlah yang cukup banyak. Kalium tersebut diperoleh dari media untuk pertumbuhan dan pembentukan protein selubung epidermis dan sejenis khitin pembentuk seta, sehingga pada akhir pengomposan terjadi penurunan kadar Kalium kascing.

KESIMPULAN

Secara (aspek) fisik, suhu media menurun dengan adanya penyiraman dan naungan. Suhu menurun dari 40oC dan stabil pada 28oC. Bobot media sampah mengalami penyusutan ketika menjadi kascing sampai 21,67% dari bobot semula.  Bobot cacing tanah pada akhir pengomposan meningkat menjadi 375% dari bobot awal.

Secara (aspek) Biologi, cacing dewasa (induk) yang diteliti berukuran panjang antara  5,9 - 8,3 cm. Suhu yang relatif sesuai untuk kehidupan cacing tanah adalah 28oC. pH media yang sesuai untuk kehidupan cacing dengan habitat Kapuk Muara adalah  9.

Penetasan telur, pelepasan kokon dan kegiatan perkawinan cacing tidak dilakukan pada suhu-suhu tertentu. Semua kegiatan tersebut dilakukan pada suhu 28oC  yang stabil setelah  minggu ke 1 pengomposan.

Identifikasi terhadap cacing tanah mendapatkan bahwa cacing tersebut adalah jenis (spesies) Lumbricus rubellus. Dalam hal reproduksi, kapasitas reproduksi cacing sampel, per ekor adalah 4 - 6 butir kokon diproduksi dalam 1 bulan. Dari 1 kokon dapat menetas    2 - 3 ekor anak cacing.

Secara (aspek) Kimia, kandungan nitrogen kascing meningkat pada akhir masa pengomposan menjadi 2,89%. Nisbah C/N kascing menurun dengan semakin matangnya kompos yaitu pada awal sebesar 34,70 dan pada akhir sebesar 7,33 %.  Unsur kimia lain seperti Posfor, Kalsium, dan Magnesium meningkat pada akhir masa pengomposan, tetapi kalium mengalami penurunan. Kandungan unsur-unsur Posfor, Kalium, Kalsium, dan Magnesium kascing pada akhir masa pengomposan masing-masing adalah 0,17%, 0,91%, 0,83%, dan 0,27%.

 

REFERENSI

1.          Buckman, H.O.  dan N.C. Brady.  1982.  Ilmu Tanah. Bharatara Karya.  Jakarta.

2.          Dinas Kebersihan DKI.  1986.  Laporan Tahunan Profil Masalah Sampah Perkotaan.  Pemda DKI Jakarta.

3.          EcoRecycle Victoria and The Gould League of Victoria.  1997.  Information Sheets:  Composting  (Part A). http : / www. ecorecycle. vic. gov. au.  /waste/compost.htm.

4.          Gange, A.C.  1993.  Translocation of Mycorrhizae Fungi by Earthworms during Early Succession.  Soil Biol.  Biochem.  25(8)): 1021 - 1026.

5.          Gaur, AC.  1982.  A Manual of Rural Composting.  Improving Soil Fertility through Organic Recyclyng (FAO/UNDP Regional Project RAS/75/004).  Project Field Document No. 15. Food and Agriculture Organization of The United Nation.

6.          Kotpal, R.L.  1980.  Annelida.  10th Ed.  Rastogi publ.  India.  p. 64.

7.          Marinissen, J.C.Y.  1992.  Population Dynamics of Erthworm in A Silt Loam Soil under Conventional and “Integrated” Arable Farming during Two Years with Different Weather Patterns. Soil. Biol. Biochem.  24(12): 164 - 165.

8.          Minnich, Y. 1977. The Earthworm Book. Rodale press Emmaus:Britania.

9.          Missouri Departement of Natural Resources.1997. Earthworm-The composting .http:/www.state.mo.us.dnr./deg./swmp/worm.

10.       Praswati, T.S. dan Hidayat.  1992.  Beberapa Aspek Biologi Cacing Sondari yang Dapat Menunjang Usaha Pelestarian dan Budidayanya.  Lemlit IPB bekerja sama dengan FMIPA IPB, Bogor h. 1-11.

11.       Salam, H.S.  1997.  Wawancara Pribadi tanggal 13 Oktober 1997 di Walhi Jakarta.  Jakarta.

12.       Salam, H.S.1 1997.  Pengolahan Sampah Menjadi Kompos dengan Bantuan Cacing Tanah. Penerbit Walhi, Jakarta.

13.       The Philippine Earthworm Center. 1982. A Manual on Earthworm Raising. Philippine Earthworm Center. San Juan, metro Manila, Philippines.