Berita tentang kegiatan Fakultas Matermatika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)

Mahasiswa FMIPA UT Mempresentasikan Proposal Tentang Studio Proses Perencanaan Melalui Vicon

Studio Proses Perencanaan Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota FMIPA

Memasuki semester ke 4 penyelenggaraan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota, FMIPA UT, untuk pertama kalinya, dengan memanfaatkan fasilitas vicon, 2 (dua) kelompok mahasiswa Prodi S1 Perencanaan Wilayah & Kota FMIPA dari UPBJJ UT Purwokerto pada hari Jumat, 28 April 2014 mempresentasikan proposal mereka dalam matakuliah Studio Proses Perencanaan.

Selengkapnya...

Pembangunan dan Lingkungan Hidup dalam Perspektif Sains dan Teknologi

Semnas FMIPA Lingkungan Hidup 18nov2013 utcc

Dalam rangkaian Dies Natalis Universitas Terbuka ke 29 dan agenda tahunan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UT, tahun 2013 ini diselenggarakan seminar dengan tema “Pembangunan dan Lingkungan Hidup dalam Perspektif Sains dan Teknologi”.

Selengkapnya...

Pendalaman Materi Tentang Pangan Risiko Rendah

Vicon FMIPA pendalaman materi pangan resiko rendah juli 2013

Seminar Pakar Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) FMIPA kali ini membahas topik Pangan Risiko Rendah yang disampaikan oleh Ir. Roy A. Sparringa, M.App.Sc, Ph.D., Deputi III (bidang Keamanan Pangan dan Pengawasan Bahan Berbahaya) Badan POM RI. Seminar berlangsung pada hari Senin, 8 Juli 2013 jam 09.00 – 11.00 WIB melalui video converence di Gedung Puskom UT. Seminar dimoderatori oleh Pembantu Dekan I FMIPA, Dr. Sri Listyarini, M.Ed dan diikuti oleh dosen Jurusan Biologi di UT Pusat, dosen dari 7 UPBJJ-UT meliputi UPBJJ-UT Serang, Bandung, Bogor, Semarang, Surakarta, Jogjakarta, dan Malang. Seminar juga dihadiri oleh para mahasiswa PS-ITP yang hadir baik di kantor UT Pusat maupun UPBJJ. Mahasiswa terbanyak adalah penerima beasiswa Bidikmisi yang hadir di UPBJJ-UT Bandung.

Seminar diawali dengan pendahuluan yang menjelaskan isu tentang mengapa keamanan pangan menjadi keprihatinan dunia serta tantangan keamanan pangan yang harus kita hadapi berkaitan dengan era globalisasi perdagangan. Isu tersebut akan bermuara pada bagaimana menciptakan sistem pengawasan pangan yang efektif dan tangguh. Roy A. Sparringa juga memberikan penjelasan singkat pengantar keamanan pangan yang membahas berbagai aspek yang tercakup dalam keamanan pangan. Penjelasan disampaikan dengan sangat menarik disertai beberapa contoh faktual yang terjadi di Indonesia. Dari penjelasan tersebut peserta seminar memperoleh gambaran tentang apa dan bagaimana kondisi keamanan pangan kita dan secara otomatis kita akan dapat mengkategorikan risiko keamanan pangan. Menurut Guidelines yang dirilis FAO tahun 2012 (Guidelines for Risk Categorization of Food and Food Establisment Applicable to ASEAN Countries) terdapat dua faktor risiko keamanan pangan, yakni (1) Faktor risiko yang berhubungan dengan aspek proses (pengolahan pangan) dan (2) Faktor risiko berkaitan dengan pangan itu sendiri (Food-borne disease) yaitu karena mengkonsumsi pangan yang mengandung kontaminan (mikrobiologis) berbahaya. Food-borne disease inilah yang kemudian digunakan sebagai dasar dari pengkategorian pangan berisiko. Guidelines yang disusun oleh Dr. Dedi Fardiaz, seorang pakar keamanan pangan dari IPB ini membagi pangan berisiko menjadi 3 kelompok, yakni : Pangan Berisiko Tinggi (High-Risk Foods), Pangan Berisiko Sedang (Medium-Risk Foods), dan Pangan Berisiko Rendah (Low-Risk Foods).

Lebih lanjut Pembicara juga menjelaskan secara singkat bagaimana cara merumuskan kategori risiko dengan menggunakan pohon keputusan (decision tree) yang berujung pada sistem pengawasan pangan oleh BPOM kita. Pangan Risiko Rendah pada umumnya merupakan pangan yang dihasilkan oleh industri rumah tangga (P-IRT). Di akhir seminar Pembicara menjelaskan tahapan pendaftaran pangan risiko rendah di BPOM. Ini yang ditunggu-tunggu oleh kami dari UT karena berhubungan erat dengan masa depan produk pangan yang dihasilkan oleh ibu-ibu yang diberi pelatihan dalam rangka kegiatan Abdimas UT.

Kesimpulan dari seminar ini tentu saja sangat membahagiakan. Peserta seminar memperoleh ilmu tentang keamanan pangan khususnya di Indonesia dari seorang ilmuwan dan juga praktisi yang berkecimpung langsung di dalamnya. Kegiatan seminar berlangsung hangat saat sesi diskusi dibuka oleh moderator, antusiasme hadirin sangat tinggi dengan banyaknya pertanyaan maupun pernyataan yang disampaikan baik oleh peserta dari UPBJJ-UT maupun UT Pusat kepada Pembicara. Memang ada sedikit rasa was-was setelah mengikuti seminar ini, yaitu kondisi keamanan pangan kita yang memang sangat memprihatinkan. Rasanya tidak ada yang aman untuk dikonsumsi kecuali jika bahannya kita tanam sendiri kemudian kita olah sendiri. Namun Roy A. Sparringa memberikan solusi yang sangat arif yaitu berdoa, berdoa, dan berdoalah sebelum kita makan. (ratna)

Berbagi ilmu di Desa Jampang

Berbagi ilmu di Desa Jampang Bansos FMIPA 2013

Tahun ini, FMIPA-UT kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat (Abdimas), dengan tema “Peningkatan Kemandirian Masyarakat Melalui Pemberdayaan Bidang Pendidikan, Ekonomi dan Kesehatan”.

Selengkapnya...

Membangun Kompetensi Sarjana Jurusan Penyuluhan dalam Merespon Perubahan Zaman

Seminar Pakar FMIPA Juli 2013

Dalam upaya meningkatkan wawasan dan memperoleh informasi terkini terkait ilmu penyuluhan, pada tanggal 2 juli 2013 Program Studi Agribisnis FMIPA-UT menyelenggarakan Seminar Pakar bagi para stafnya. Acara yang digelar di ruang sidang FMIPA ini dihadiri oleh staf akademik FMIPA-UT, dan dibuka oleh Pembantu Dekan I FMIPA-UT, Dr. Sri Listyarini, M.Ed. Mengawali acara, PD I mengharapkan kegiatan ini dapat dijadikan ajang untuk sharing pengalaman, yang nantinya mungkin akan bermanfaat bagi pengembangan Prodi Agribisnis ke depannya.

Bertindak sebagai pembicara, Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc. dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB, mengangkat tema “Membangun Kompetensi Sarjana Jurusan Penyuluhan dalam Merespon Perubahan Zaman”. Disebutkan bahwa manusia memiliki kebutuhan sosial ekonomi dan lingkungan, membutuhkan hidup nyaman di dalam kelompok maupun komunitas masyarakat. Namun di sisi lain kondisi sumber daya alam saat ini kurang mendukung kenyamanan tersebut. Di sini peran penyuluhan diperlukan. Ironisnya, tidak semua orang memahami konsep penyuluhan secara benar. Penyuluhan masih dipandang hanya sebagai transfer informasi, padahal lebih dari itu penyuluhan merupakan upaya untuk mendorong transformasi perilaku, dengan metode teknik yang bervariasi dan dialogis, serta memerlukan inovasi dari segi komunikasi dan informasi.

Untuk itu, perlu upaya peningkatan kompetensi penyuluh, sebagai pihak yang menjadi ujung tombak upaya perubahan perilaku masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Mengapa perlu? sebab di lingkungan ASEAN, kompetensi penyuluh Indonesia masih dikatakan kurang kompetitif di dunia kerja, karena memiliki kompetensi yang masih rendah. Terkait dengan hal tersebut, dalam dunia pendidikan yang mencetak sarjana penyuluhan, diperlukan lulusan yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajarinya. Lulusan sarjana harus memiliki kompetensi sebagai berikut: (1) mampu mengaplikasikan bidang keahliannya (penyuluhan) dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi, (2) menguasai konsep teoritis penyuluhan secara umum dan konsep teoritis bagian khusus di bidang penyuluhan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural, (3) mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok, serta (4) bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

Dalam seminar ini, dibahas juga tentang proses penyusunan kurikulum dan pihak yang terkait dalam kegiatan tersebut. Manfaat yang dapat dipetik dalam ajang ini adalah memperoleh informasi yang dapat dijadikan bekal untuk upaya reanalisis kurikulum program studi agar sesuai dalam merespon tuntutan perubahan zaman. Namun dibalik itu, harapan yang paling tinggi adalah bahwa ke depannya, penyuluh lulusan UT diharapkan mampu mengatasi tantangan bidang penyuluhan di masa kini dan masa depan.